RMOLJABAR

Home

Share |
Amphi Theater Terlengkap di Asia, Geopark Ciletuh Pantas Masuk Global Geopark Network
Minggu, 15 November 2015 , 18:16:00 WIB
Laporan:

MEGA FATIMAH ROSANA
  

Ciletuh Geopark Festival 2015 hari ini (Minggu, 15/11) berakhir. Pemprov Jabar berharap, even ini menjadi penguat menuju pengukuhan Geopark Ciletuh sebagai geopark nasional, yang diinisiasi oleh tiga kementerian, yakni Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Datanya sudah lengkap, dan sudah diserahkan ke Kementerian ESDM. Akhir tahun ini mudah-mudahan sudah keluar status Geopark Ciletuh sebagai Geopark Nasional," ungkap Mega Fatimah Rosana, Peneliti Geologi Unpad, di Geopark Ciletuh, pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi, Minggu (15/11).

Mega mengatakan, Geopark Ciletuh merupakan fenomena alam yang terbilang langka. Tidak semua negara memiliki fenomena semacam ini, di mana material kerak bumi berupa lava serta jenis lainnya sekitar 200 kilometer dari dasar laut terangkat ke permukaan bumi.

Di zaman purba, kawasan Ciletuh merupakan gunung api di dasar laut. Namun kemudian secara perlahan terdorong ke permukaan bumi akibat tumbukan dua lempeng kerak bumi, lempeng Austronesia dan Eurasia.

"Geopark Ciletuh kita angkat karena memiliki keunikan berupa warisan geologi, terutama adanya batuan tertua di Jawa Barat yang muncul ke permukaan, lebih dari 60juta tahun. Itu merupakan bukti tumbukan lempeng Eurasia dan Samudera Austalia yang terjadi padan zaman kapur," papar Mega.

Di pulau Jawa, fenomena semacam ini hanya terjadi di tiga lokasi, yakni Ciletuh, Karangsambung Kebumen Jawa Tengah, dan Bayat Jawa Tengah. Karangsambung sudah dijadikan konservasi cagar alam geologi dan kampus lapangan geologi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kemudian Bayat dijadikan kampus lapangan oleh Universitas Gajah Mada (UGM).

"Nah kalau ini (Geopark Ciletuh) dulu kita bercita-cita ingin jadi kampus lapangan Unpad, tapi mungkin dulu aksesibilitasnya sulit maka belum kecapaian. Dari taun 2005 kita kerjasama dengan Kementerian ESDM, kita lakukan kajian di sini untuk lakukan deliniasi, di mana saja ada batuan-batuan itu untuk dijadikan konservasi," papar dia.

Sementara di Asia, geopark tedapat di Jepang, Korea, Malaysia, dan China. Semuanya sudah masuh global geopark network di bawah inisiasi badan dunia Unesco. MasingImasing memiliki keunikan tersendiri, namun Geopark Ciletuh bisa dikatakan paling lengkap jika dilihat dari sisi keberagaman alamnya.

"Di sini merupakan kombinasi, tiga kelompok batuannya ada, gunung laut, dan pantai, yang membentuk sebuah amphi theater. Belum lagi culture diversitynya, keberagaman budayanya juga ada di sini, termasuk keberagaman hayati," papar Mega.

Beragam nama yang diberikan masyarakat terhadap batuan-batuan yang muncul di permukaan laut itu. Ada pulau kunti, pulau mandra batu badak, batu banteng, kodok, kura-kura, punggung naga, dan sejumlah nama lainnya. Ada pula tebing batuan yang dihiasi secara alamiah dengan air terjun. Sementara pantai Palangpang di kawasan ini berupa teluk berbentuk tapal kuda.[gun]


Baca juga:


Komentar Pembaca

Berita Populer