Presdir Freeport Dianggap Telah Menghina Parlemen

Hukum  MINGGU, 12 FEBRUARI 2017 , 11:32:00 WIB | LAPORAN: HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presdir Freeport Dianggap Telah Menghina Parlemen

Chappy Hakim/net

RMOLJabar. Fraksi Hanura DPR benar-benar jengkel dengan perlakuan Presdir Freeport Indonesia Chappy Hakim yang menunjuknunjuk dan membentak kadernya usai rapat di Komisi VII, Kamis (9/2) lalu. Hanura pun meminta pimpinan DPR bertindak tegas. Perbuatan eks KSAU dikategorikan contempt of parliament alias penghinaan terhadap parlemen.

"Kami minta pimpinan DPR menindaklanjuti kasus ini. Tindakan itu harus diproses sesuai dengan konstitusi dan undang-undang yang berlaku," kata Ketua Fraksi Hanura Nurdin Tampubolon.

Nurdin mengaku, pihaknya sudah meminta klarifikasi, Mukhtar Tompo, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Hanura, yang ditunjuk-tunjuk dan dibentak Chappy. Kepada pimpinan Fraksi Hanura, Mukhtar mengaku menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Chappy. Selain ditunjuk-tunjuk, Chappy juga mengeluarkan ancaman dan intimidasi. Ajakan salamannya juga ditepis Chappy.

Kejadian itu, terang Nurdin, bermula saat Mukhtar bertanya di dalam rapat soal rencana pembangunan smelter oleh Freeport yang tak kunjung terlaksana. Pertanyaan ini dilontarkan Mukhtar sebagai bentuk mengawal pelaksanaan UU Nomor 4/2009 tentang Pertambahan Mineral dan Batubara. Rupanya, Chappy tidak senang dengan pertanyaan itu.

Nurdin mengakui, Chappy memang sudah meminta maaf atas pelakuannya. Namun, permintaan maaf tidak cukup. Sebab, tindakan Chappy sangat tidak pantas dilakukan oleh bos perusahaan internasional terhadap anggota Dewan.

Untuk menguatkan permintaannya, Hanura sudah mengirim surat ke pimpinan DPR. Surat bernomor 827/F-Hanura/ DPR RI/2017 itu sudah diserahkan ke Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

"Anggota Dewan yang sedang melakukan pengawasan memiliki hak imunitas sebagaimana aturan Undang-Undang MD3," tegas Nurdin.

Hanura pun mendesak Freeport memberhentikan Chappy dari jabatan presiden direktur. "Perlu dievaluasi jabatannya," tegas Nurdin.

Mukhar ikut bicara. Menurutnya, tindakan tegas perlu dilakukan agar Chappy dan bos perusahaan lain tidak melakukan perbutan serupa.

"Ini bukan persoalan memaafkan. Ini persoalan tidak lazim di Komisi VII. Kalau misalnya ini jadi kebiasaan, nanti bagaimana bisa juga terjadi di komisi-komisi yang lain," katanya.

Menurut Mukhtar, setelah rapat Kamis (9/2) lalu, dirinya dimaki-maki Chappy saat mau bersalaman. Chappy menghempaskan tangannya, dan membentak sambil menunjuk-nujuk ke arah dadanya.

"Dia bilang dengan nada tinggi, 'Kau jangan macam-macam! Mana? Apa yang tidak konsisten? Tunjukkan kepada saya kalau saya tidak konsisten, mana?' Begitu katanya," kata Mukhtar menirukan ucapan Chappy.

Mukhtar mengaku, saat rapat berlangsung, hanya managih janji Freeport Indonesia untuk membangun smelter. Ia merasa perlu meminta ketegasan komitmen Freeport, karena kewajiban ini merupakan perintah UU Nomor 4/2009.

"Mungkin, dia tak terima dengan pernyataan saya. Jadinya, dia maki-maki saya," cetusnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR Agus Hermanto mengaku belum bisa menyimpulkan. Menurutnya, insiden itu pasti ada latar belakangnya.

"Itu terjadi semuanya tentu dari sebab akibat. Tidak bisa menilai dari salah satu pihak," ujar politisi Demokrat ini.

Sebelumnya, Chappy mengatakan, dirinya memang mempertanyakan tanggapan Mukhtar mengenai ketidakkonsistenannya. Makanya, dia meminta Mukhtar menunjukkan ketidak┬Čkonsistenan tersebut seusai rapat. Atas kejadian itu, Chappy pun meminta maaf.

"Hal yang terjadi selesai rapat Komisi VII adalah hal yang tidak diinginkan oleh pihak mana pun. Dengan tulus, saya memohon maaf kepada Komisi VII DPR atas polemik yang terjadi," katanya melalui keterangan yang dikirim ke media. ***

Komentar Pembaca