Kang Dedi
Kang Emil

Dedi Mulyadi: Saya Seorang Marhaen

Politik  SABTU, 12 AGUSTUS 2017 , 17:32:00 WIB | LAPORAN: YUSLIPAR

Dedi Mulyadi: Saya Seorang Marhaen

Dedi Mulyadi

RMOLJabar. "Meski saya menjabat sebagai Ketua Golkar Jawa Barat (Jabar), tapi saya seorang Marhaen." Demikian diungkapkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dalam sebuah kesempatan.

Ketika disinggung mengapa ia bicara Marhaenisme sebagai istilah yang asing di Partai Golkar, Dedi mengaku sangat mendalami ajaran dan cita-cita Bung Karno.

"Karena saya mendalami ide-ide Bung Karno kemudian saya berusaha menterjemahkannya secara teknis aplikatif dalam kebijakan yang saya jalankan selaku Ketua Golkar Jabar dan Bupati Purwakarta," ujarnya.

Menurutnya, Marhaen merupakan sosok yang disebutkan Presiden RI Soekarno kepada seorang petani di Jabar. Soekarno menyebut Marhaen sebagai sosok petani yang memiliki lahan sawah, alat produksi dan hasil untuk kepentingan sendiri. Dedi menyebut Marhaenisme yang digaungkan Soekarno sebagai simbol kemandirian pangan di Indonesia.

"Marhaenisme sebagai bagian dari budaya Jabar, itu cikal bakal serta roh dari kemandirian Jabar dalam kemandirian pangan. Marhaenisme sebagai semangat kenapa Jabar bisa berswasembada beras," ujarnya.

Ia menyebut Jabar setelah dipasok kebutuhan air dari Bendungan Jatiluhur kemudian airnya dibagi ke Tarum Barat untuk mengairi sawah di sebelah barat Jabar dan Tarum Timur untuk mengairi sawah di timur Jabar, pernah menjadi daerah yang mampu swasembada beras.

Soekarno dalam konteks Marhaenisme sekaligus simbol masyarakat tradisional Jabar. Bahkan itu diterapkan oleh sekelompok masyarakat adat. Ia mengaku pernah berkeliling daerah adat di Jabar dan menyaksikan upacar adatnya, semuanya memiliki karakter yang sama, memliki lumbung padi sehingga saat musim paceklik mereka tidak pernah kekurangan.

"Anda memproduksi beras sendiri, di lahan sendiri, untuk produksi sendiri dan sisanya disimpan di leuit (lumbung). Saat musim paceklik, beras yang disimpan itu masih aman dan digunakan untuk kebutuhan sendiri. Itulah konsep Soekarno tentang Marhaenisme yang telah ratusan tahun diterapkan oleh masyarakat adat, Marhaenisme itu yang menghasilkan goah atau leuit atau lumbung," ujar dia.

Yang terjadi saat ini, kata dia, justru sebaliknya. Ia sempat mendatangi Kecamatan Compreng Kabupaten Subang dan beberapa daerah lain di Jabar sebagai penghasil beras. Kondisi yang ia temukan, banyak buruh tani yang hanya menggarap lahan sawah milik orang lain dengan alat produksi sendiri namun hasilnya untuk orang lain.

Bahkan, ia juga menemukan banyak pemilik lahan sawah yang menggarap sawahnya, memanen hasilnya namun hasilnya justru langsung dijual ke tengkulak dengan harga rendah. Tidak ada beras yang disimpan sebagai cadangan saat musim paceklik sehingga akhirnya mereka harus kesulitan dan membeli beras mahal saat musim paceklik.

"Padahal mereka adalah tuan tanah atas sebidang sawah penghasil beras. Mereka bukan tuan, tuan itu ya mereka yang garap sawah pake tangan sendiri dan yang pasti memiliki beras sendiri," ujar dia. [bon]

Komentar Pembaca
Prabowo Puji Mahasiswa UBK

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 19:00:00

Janji Rizieq Diralat

Janji Rizieq Diralat

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 17:00:00