Kang Dedi
Kang Emil

IWP Dilengkapi Diamond Detector Teknologi Terbaru

Ekbis  SELASA, 12 SEPTEMBER 2017 , 13:46:00 WIB | LAPORAN: LANNIE RACHMAN

IWP Dilengkapi Diamond Detector Teknologi Terbaru

istimewa

RMOLJabar. Berlian buatan laboratorium, atau sering juga disebut dengan berlian sintetis, adalah berlian yang dibuat dengan teknologi, meniru proses terbentuknya berlian yang terjadi di alam (proses geologi, dan memerlukan waktu yang sangat lama).

Berlian buatan ini, dikenal luas dengan sebutan berlian HPHT atau berlian CVD, merujuk pada metode pembentukan berlian tersebut.

HPHT singkatan dari High Pressure High Temperature atau Tekanan Tinggi Suhu Tinggi. Sedangkan CVD singkatan dari Chemical Vapor Deposition, atau yang diterjemahkan secara bebas, berarti Endapan Uap Kimia. Istilah sintesis, dipergunakan untuk membedakan dengan berlian asli.

Kedua metode pembuatan berlian yang disebutkan diatas, menggunakan karbon sebagai bahan dasar pembuatan berlian, sama dengan berlian asli yang terbentuk di alam.
 
Keberhasilan pembuatan berlian sintetis untuk pertama kali, dilaporkan terjadi sekitar tahun 1953-an, dan sampai sekarang, metode HPHT dan CVD mendominasi metode pembuatan berlian sintetis.

Ada beberapa metode lainnya, tetapi yang paling populer adalah 2 metode tersebut. Dengan kemajuan teknologi, metode pembuatan berlian sintetis atau berlian buatan ini juga mengalami perbaikan, sehingga berlian yang dihasilkan juga mengalami peningkatan kualitas. Sangat mirip dengan berlian asli yang dihasilkan alam.

Selain digunakan untuk industri, berlian sintesis juga dipakai untuk bahan abrasi (gosok), alat potong atau mata bor dan juga sebagai bahan pelindung panas.

Berlian sintetis, baik menggunakan metode HPHT maupun CVD, dapat juga diolah menjadi berlian dengan kualitas permata (bahan cincin berlian), baik berupa berlian dengan warna putih bening ataupun berlian berwarna sesuai dengan yang diinginkan.

Berlian palsu dengan jenis sintetis ini mempunyai pangsa pasar kurang lebih sebesar 2% dari total perdagangan berlian dan semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi, yang menyebabkan kualitas produksi berlian lab semakin membaik dan harganya semakin murah karena skala ekonomis produksinya.

Di pasaran, berlian sintetis ditawarkan berwarna atau putih bening. Warna kuning dihasilkan dengan memasukan unsur nitrogen dalam proses pembentukan berlian, sedangkan warna biru, dibuat dengan cara memasukan unsur Boron.

Sedangkan warna pink atau hijau dibuat dengan cara melakukan radiasi terhadap berlian. Warna putih jernih, murni dihasilkan dari atom karbon.

Secara kimiawi, tampilan fisik dan kemampuan optis dalam membiaskan dan memantulkan cahaya, berlian sintetis yang dibuat di lab sangat identik dan sulit dibedakan dengan berlian asli yang dihasilkan alam, bahkan terkadang kualitasnya bisa lebih baik.

Seorang pedagang berlian asal Israel, Ariel Baruch, yang menjual berlian sintetis, menyatakan, kalau ada orang yang bilang bahwa ia mampu membedakan berlian sintetis dengan berlian asli tanpa menggunakan alat, pasti ia bohong.

Perusahaan berlian yang memperdagangkan berlian hasil alam (berlian asli), telah mengambil langkah hukum dan melakukan edukasi ke konsumen melalui jalur pemasaran dan distribusi untuk melindungi pasar berlian asli dari hadirnya berlian palsu atau berlian sintetis buatan lab ini.

Berlian sintetis dapat dibedakan dengan berlian asli dengan menggunakan sinar infra merah, ultraviolet atau sinar X. The DiamondView, peralatan yang dikembangkan oleh perusahaan berlian terbesar di dunia, De Beers, menggunakan sinar ultra violet untuk mendeteksi keberadaan nitrogen, nickel ataupun logam lainnya yang dipergunakan dalam proses pembuatan berlian sintetis.
 
Salah satu pembuat berlian buatan yang terkenal, Pure Grown Diamonds, memberikan tanda di berlian yang berhasil dibuat, untuk membedakan dengan berlian asli dan sebagai informasi ke konsumen bahwa berlian yang hendak dibeli adalah berlian buatan lab atau berlian sintetis.

Setiap berlian yang dihasilkan, diberikan nomer seri dan awalan LG (laboratory grown) sebagai tanda bahwa berlian tersebut adalah berlian sintetis atau berlian palsu.

Terkait itu, Indo Wisata Permata (IWP) berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada para custumernya.  Sejak berdiri 14 Februari 2016 lalu, selain memberikan edukasi mengenai proses pembuatan berlian, saat ini IWP juga melengkapi fasilitasnya dengan adanya mesin diamond detector terbaru, yang dapat membedakan diamond asli dengan diamond sintetis.

"Kepercayaan customer kepada kami harus tetap kami jaga, kami memproses berlian yang berasal dari rough diamond (intan) dari sumber daya alam. Sekarang kami memiliki fasilitas mesin detector diamond  terkini sehingga dapat membedakan diamond buatan dan diamond asli," jelas GM IWP Wahyudi Parulian baru-baru ini.

Wahyudi menerangkan, diamond buatan tidak dapat dideteksi melalui diamond detector pada umumnya atau pun dengan loop melalui mata manusia dikarenakan sangat mirip, baik secara kekuatannya maupun kejernihannya. Tetapi dengan alat ini kita dapat membedakan senyawa yang terkandung didalamnya.

Mesin diamond detector dengan teknologi terbaru ini berfungsi untuk membedakan diamond asli dengan diamond buatan (CVD) secara akurat. Berbeda dengan alat diamond detector biasa yang hanya mendeteksi kekerasan pada permukaan berlian, diamond sintetis pun ketika dilakukan tes menggunakan diamond detector biasa, tingkat kekerasannya sama dengan diamond yang asli, maka itu sulit untuk dibedakan.

Diamond detector bekerja secara visual, yang artinya sample diamond diambil gambarnya untuk melalui tahap penerangan lampu Ultra Violet dan lampu Phosphorescence. Ketika hasil dari kedua sample itu selesai, langsung bisa terlihat perbedaan diamond yang asli dan mana diamond sintetis.

"Cara membedakannya adalah, untuk diamond sintetis warna yang dikeluarkan pada saat disinari oleh lampu UV terang sekali dan berwarna biru muda terang, berbeda dengan diamond asli yang berwarna biru. Pada lampu Phosphorescence sendiri diamond yang asli tidak sama sekali mengeluarkan cahaya berwarna apapun, berbeda dengan diamond sintetis yang mengeluarkan cahaya berwarna biru muda dan terang," tandasnya. [nif]

Penulis: Tim Media IWP
 

Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00