Kang Dedi
Kang Emil

Merajut Kebhinekaan dengan Spiritualitas

Sudut Pandang  KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 , 13:31:00 WIB | LAPORAN: ABDUL MU'IT

Merajut Kebhinekaan dengan Spiritualitas
RMOLJabar. Pegiat Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Purwakarta, Didi Mulyadi menjelaskan, kebhinekaan adalah keanekaragaman, beragam, bermacam-macam. Kebhinekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkuri keberadaannya.

Untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kebhinekaan harus dimaknai masyarakat melalui pemahaman multikulturalisme dengan kekuatan spiritualitas.

"Perbedaan etnis, paham agama maupun ideologi menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika dan toleransi yang menjadi perekat untuk bersatu dalam kemajemukan bangsa," ungkap Didi, kepada awak media, Kamis (14/9).

Wakil Bendahara Depicab SOKSI Purwakarta ini, menuturkan, kebhinekaan bangsa Indonesia meliputi banyak hal. Salah satunya kebhinekaan mata pencaharian. Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki kondisi alam yang berbeda-beda. Kondisi alam juga mengakibatkan perbedaan mata pencaharian, ada yang menjadi petani, nelayan, pedagang, pegawai, peternak dan lainnya.

"Sehingga kebhinekaan mata pencaharian tersebut dapat menjalin persatuan karena satu sama lain saling membutuhkan," katanya.

Didi yang juga pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten Purwakarta ini melanjutkan, kebhinekaan selanjutnya yakni mengenai perbedaan ras. Letak Indonesia sangat strategis. Sehingga Indonesia menjadi tempat persilangan jalur perdagangan.

"Ras di Indonesia terdiri dari papua Melanosoid yang berdiam di pulau Papua, ras Weddoid seperti orang kubu, Sakai, Mentawai, enggano dan Tomuna, ras Malayan Mongoloid berdiam disebagian besar kepulauan Indonesia khususnya di kepulauan Sumatra dan Jawa," katanya.

Berkenaan dengan kebhinekaan suku bangsa. Indonesia merupakan negara kepulauan yang dipisahkan oleh perairan, pulau pulau terisolasi dan tidak saling berhubungan.

Akibatnya setiap pulau wilayah memiliki keunikan tersendiri baik dari segi budaya, adat istiadat, kesenian maupun bahasa, walaupun berbeda-beda tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

"Terbukti dengan menenpatkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dan persatuan," lanjut dia.

Kebhinekaan agama juga rentan konflik, tetapi dengan semangat persatuan dan kesatuan dan semboyan Bhineka Tunggal Ika konflik tersebut dapat dikurangi dengan cara saling toleransi antar umat beragama Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu sehingga dapat hidup rukun saling berdampingan dan tolong menolong di masyarakat.

"Dan kebhinekaan budaya, mulai dari masuknya kaum pendatang juga mengakibatkan Kebhinekaan Budaya di Indonesia, sehingga budaya tradisional berubah menjadi budaya yang modern tanpa menghilangkan budaya asli Indonesia sendiri seperti budaya sopan santun, kekeluargaan dan gotong royong," lanjut dia.

Dalam negara Indonesia yang bhineka, budaya tradisional dan modern hidup berdampingan di masyarakat tanpa saling merendahkan satu sama lain. Terdapat gender dan jenis kelamin yang entitasnya perlu mendapat apresiasi dan penghormatan tinggi.

Anggapan kuat bagi laki-laki dan lemah bagi kaum perempuan tidaklah benar. Masing-masing mempunyai peran dan tanggung jawab yang saling membutuhkan dan melengkapi.

"Berbeda dengan jaman dulu sekarang ini perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, mengembangkan bakat dan kemampuannya. Bahkan kaum wanita banyak yang menduduki posisi penting dalam jabatan public, executive, legislative," pungkasnya. [nif]

Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00