Kang Dedi
Kang Emil

Kementerian LHK Tidak Temukan Merkuri Di Poboya

Peristiwa  JUM'AT, 06 OKTOBER 2017 , 23:31:00 WIB

Kementerian LHK Tidak Temukan Merkuri Di Poboya
RMOLJabar. Kesimpangsiuran mengenai penggunaan merkuri di area penambangan Kabupaten Poboya, Palu terjawab sudah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) cukup yakin masyarakat penambang tradisional di Poboya telah cukup lama meninggalkan penggunaan merkuri.

Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian LHK Yun Insiani mengatakan, masyarakat penambang emas mengganti penggunaan merkuri dengan sianida.

"Mereka saat ini sudah menggunakan sianida. Kalau merkuri mereka sudah ditinggalkan," kata Yun kepada wartawan, Jumat (6/10).

Dia menjelaskan, hasil pengambilan sampel rambut saat Kementerian LHK melakukan observasi ke area pertambangan sekitar Maret dan Agustus lalu didapati rambut penambang yang mengandung merkuri. Namun, dari hasil pengamatan, itu merupakan dampak penggunaan merkuri beberapa tahun sebelumnya.

"Efeknya kan akumulasi, makanya merkuri itu disebut bioakumulasi. Jadi mungkin sudah dua atau tiga tahun mereka sudah tidak pakai merkuri. Tetapi sebelumnya mereka pakai, sehingga itu bisa kita lihat di rambutnya," terang Yun.

Kini yang dipastikan Kementerian LHK adalah warga mendapat edukasi yang baik atas penggunaan sianida. Sehingga diharapkan penambang dapat memakai sianida secara bertanggung jawab. Kementerian sendiri akan mengawasi dan selalu mengedukasi penggunaan sianida dalam penambangan emas.

Masalah pembinaan masyarakat penambang menjadi fokus kementerian, termasuk upaya dari hulu untuk memutus mata rantai perdagangan merkuri.

Sejauh ini, penggunaan merkuri masih terjadi di sekitar 850 titik penambangan emas skala kecil di seantero Tanah Air. Makanya dalam waktu dekat kementerian akan menggalakkan sosialisasi.

"Lalu sianida itu harus ada edukasinya juga, karena kita sedang mengembangkan teknologi ramah lingkungan. Dan itu dapat dijadikan bahan sosialisasi nantinya," jelas Yun.

Selain itu, setelah ada ratifikasi Konvensi Minamata di Jenewa yang tertuang dalam UU 11/2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury, Peraturan Pemerintah Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun juga akan disesuaikan dengan menambahkan aturan kalau penggunaan merkuri dilarang di tambang tradisional.

Sebelumnya, peneliti juga mengapreasi perubahan pola perilaku masyarakat penambang di Poboya yang tidak lagi memakai merkuri. Sejumlah akademisi yang pernah meneliti pencemaran merkuri di lokasi penambangan emas yakin kesadaran masyarakat telah memberi dampak signifikan bagi perbaikan lingkungan.

Dosen Agroteknologi Universitas Tadulako Isrun Muh Nur menyebutkan, bila memang warga bersepakat tidak lagi menggunakan merkuri dalam penambangan emas, maka kondisi lingkungan pasti membaik.

Tokoh adat masyarakat Poboya Adzis Lamureke menambahkan bahwa masyarakat penambang tradisional saat ini tidak lagi menggunakan merkuri. Menurutnya, perubahan itu terjadi berkat sosialisasi terus-menerus yang dilakukan sejak 2016 oleh berbagai pihak, diantaranya pemda, kepolisian, dan Kementerian LHK.[gun/rmol]

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

JUM'AT, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

JUM'AT, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Prabowo Dinasihatin Agung Laksono

Prabowo Dinasihatin Agung Laksono

JUM'AT, 20 OKTOBER 2017 , 15:00:00

Panglima TNI Hadiri Jalan Sehat Empat Pilar

Panglima TNI Hadiri Jalan Sehat Empat Pilar

MINGGU, 27 AGUSTUS 2017 , 15:45:00

Panglima TNI Hadiri Parade 50 Tahun ASEAN

Panglima TNI Hadiri Parade 50 Tahun ASEAN

MINGGU, 27 AGUSTUS 2017 , 16:31:00

Panglima TNI Hadiri Upacara Hari Kesaktian Pancasila