Kang Dedi
Kang Emil

Musim Hujan, Ladang Sayuran Petani Lembang diserang Lalat

Ragam  KAMIS, 19 OKTOBER 2017 , 14:16:00 WIB | LAPORAN: TRI JUNARI

Musim Hujan, Ladang Sayuran Petani Lembang diserang Lalat
RMOLJabar. Warga dan para petani di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) merasa terganggu dengan banyaknya lalat yang masuk ke permukiman dan area pertanian.

Keberadaan lalat-lalat itu semakin menjadi-jadi terutama di musim penghujan seperti saat ini sehingga membuat aktivitas warga menjadi tidak nyaman.

Salah seorang petani warga Kampung Pengkolan RT02/08, Desa Cikidang, Lembang, Udin (45), mengatakan saat musim kemarau lalat memang banyak tapi tidak sebanyak seperti saat musim hujan ini.

Khusus untuk tanaman sayuran seperti pecay, engkol, saladah,dan tomat, karena sering dihinggapi lalat membuat timbul bintik-bintik hitam. "Mengganggu sekali karena lalat ini jumlahnya sangat banyak dan bergerombol," ucapnya, Kamis (19/10/2017).

Menurutnya, kehadiran lalat ini juga karena di dekat wilayahnya yakni di Kampung Cireyod ada tempat pembuatan pabrik tahu yang air sisa pembuangannya mengeluar bau tak sedap. Belum lagi keberadaan tempat sampah dan sisa kotoran hewan seperti dari ternak sapi dan peternakan ayam.

"Kalau pun disemprot pestisida lalat itu tidak mati dan justru menjadi kebal. Sedangkan buat tanaman jika terlalu banyak obat pestisida juga tidak baik," tuturnya.

Petani lainnya Apin Suryana (36), mengaku serangan lalat ini membuat hasil pertaniannya tidak maksimal. Dia yang menggarap lahan pertanian milik orang tuanya sebanyak 300 pohon kembang kol dan saladah mengaku kerepotan untuk mengusir serangan lalat ini. Jika tidak diusir membuat tanaman jadi jelek terutama pada bagian daun.

"Karena pestisida tidak mempan biasanya saya pakai kacang babi dan daun suren yang ditumbuk lalu airnya diambil dan disemprotkan. Cuma persoalannya untuk mendapatkan kacang babi harus cari ke Subang yang jaraknya jauh," keluhnya.

Ditempat sama, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Ida Nurhamida menjelaskan, serangan lalat diakibatkan sisa penggunaan kompos organik yanh digunakan petani Lembang.

"Memang biasa terjadi, itu diakibatkan sisa pupuk organik seperti kotoran hewan,"katanya.

Untuk mengurangi serangan, lanjutnya, petani biasanya menggunakan perangkap khusus. Namun demikian dipastikan banyaknya lalat itu tak mempengaruhi produktifitas dan mengganggu pertumbuhan tanaman.

"Masih dalam ambang batas dan lalat ini tidak mengganggu tanaman, hanya saja risih saat melakukan aktifitas," tandasnya. [nif]


Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00