Kang Dedi
Kang Emil

Banyak Bank Terkesan Persulit Target Pemerintah Salurkan KUR

Seleb  MINGGU, 12 NOVEMBER 2017 , 14:31:00 WIB | LAPORAN: EGA NUGRAHA

Banyak Bank Terkesan Persulit Target Pemerintah Salurkan KUR
RMOLJabar. Pemerintah pusat melalui Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) sedang menyusun konsep perubahan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hal ini dilakukan guna mencapai target dan perluasan penyaluran KUR serta untuk mengakomodir permintaan dari pelaku usaha.

Dalam revisi itu antara lain memuat penurunan suku bunga dari 9 persen menjadi 7 persen per tahun.

"Bunga KUR yang baru ini akan berlaku mulai 1 Januari 2018," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun RMOLJabar, dari target penyaluran KUR sebesar Rp 110 triliun pada 2017, realisasi sampai dengan Agustus 2017 baru mencapai angka Rp 61,14 triliun atau 55,6 persen kepada 2.734.490 debitur.

Dengan data tersebut, pihak bank selaku kepanjangan dari pemerintah masih mempunyai "hutang" yang harus dialokasikan kepada para pelaku UMKM sebesar 48, 86 triliun dan harus disalurkan dalam tempo 4 sebelum akhir tahun 2017.

Mendengar berita soal pemerintah yang akan menurunkan suku bunga KUR tahun depan, Cecep (33), salah seorang pedagang kelontong yang biasa menjajakan barang dagangannya di area Lapang Karang Pawitan, Kabupaten Karawang, merasa senang.

Menurutnya, dia dan rekan-rekan menyambut baik rencana pemerintah (menurunkan suku bunga KUR) ini, dan berharap bukan saja bunga kreditnya yang diperkecil, tapi juga proses pengajuannya juga dipermudah.

"Karena selama ini kami agak kesulitan jika ingin mengajukan pinjaman kredit ke bank", ujar Cecep.

Keluhan Cecep soal sulitnya proses pengajuan kredit ke bank juga diamini oleh beberapa pelaku UMKM yang berhasil ditemui RMOLJabar di Karawang. Niat baik pemerintah pusat untuk mengakomodir kegiatan para pelaku UMKM lewat program KUR tak diimbangi dengan kinerja maksimal dari pihak bank selaku kepanjangan tangan dari pemerintah di lapangan. Banyak dari calon debitur mengeluhkan lambatnya proses pengajuan kredit ke bank, atau justru terkesan dipersulit.

Misalnya Rijal (30), salah seorang pelaku UMKM asal kecamatan Batujaya yang sudah 3 tahun terakhir berjualan gorengan bersama rekannya di Karawang. Dia mengatakan, telah mengajukan kredit KUR ke bank dari pertengahan Oktober lalu namun hingga saat ini tak ada kejelasan dari pihak bank apakah pengajuan kreditnya itu diterima atau ditolak.

"Pada 16 Oktober lalu saya mengajukan pinjaman kredit program KUR melalui bank BRI cabang Batujaya, namun tak mendapat respon dari pihak bank dengan alasan yang tidak jelas.

Karena dianggap tak mendapat hasil, ia kemudian pindah (pengajuan kredit) ke bank Mandiri cabang Batujaya.

"Disana berkas saya sempat diproses namun pihak bank beralasan karena usaha saya berlokasi di Karawang kota mereka tak menyutujui berkas pengajuan kredit saya dengan alasan jarak survei yang terlalu jauh," keluh Rijal.

Berbekal saran dari salah seorang pegawai Bank Mandiri cabang Batujaya agar dia kembali mengajukan kredit KUR di salah satu bank yang terletak di Karawang kota, akhirnya Rijal kembali untuk yang ketiga kalinya mengajukan berkas pinjaman ke agen BRI-Link yang biasa mangkal di lapang Karang Pawitan, Karawang Kota.

"Rabu, 26 Oktober lalu saya kembali mengajukan kredit KUR ke agen BRI-Link, pegawai di sana mayakinkan bahwa berkas saya akan diproses secepatnya. 3 hari berselang karena tak kunjung ada kabar, saya kembali ke sana (BRI-Link), kata pegawai BRI yang sama, bahwa pihak bank tak memproses berkas pengajuan kredit di akhir bulan dan saya disuruh bersabar sampai awal bulan November," lanjut Rijal.

Namun hingga saat ini, berkas pengajuan kreditnya belum juga diproses oleh pihak bank.

Rijal menambahkan, dari tanggal 1 November dia mengaku sudah 3 kali kembali mendatangi bank guna menanyakan berkas pengajuan kreditnya itu, dari mulai mendatangi mobil operasional BRI-Link yang biasa mangkal di lapang Karang Pawitan, sampai mendatangi kantor BRI cabang di kecamatan Johar yang merupakan kantor perwakilan dari agen BRI-Link tadi.

Namun pihak bank disana hanya memberi janji lagi dan lagi, belum pernah ada satupun perwakilan dari pihak bank yang datang ke lokasi usaha Rijal untuk proses survei.

"Sekarang saya sudah mulai putus asa Mas, saya merasa telah dipermainkan oleh pihak bank. Tapi harapan sih masih  belum sirna, saya masih tetap menunggu pihak bank datang ke lokasi tempat usaha saya untuk melakukan proses survei. Padahal secara berkas saya rasa telah lengkap semua, jikapun ada kekurangan berkas atau masalah lain saya harap dari pihak bank mau menghubungi saya, jangan digantung seperti ini, digantung itu sakit loh Mas," pungkas Rijal.

Kasus Rijal dan beberapa pelaku UMKM lain di Karawang yang merasa dipersulit oleh pihak bank dalam hal pengajuan KUR, bisa jadi merupakan salah satu faktor penyebab yang membuat provinsi Jawa Barat saat ini hanya menempati posisi ke 3 dalam hal keberhasilannya menyoal penyaluran KUR.

Diketahui, Jawa Barat saat ini berada di bawah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang menempati posisi teratas plafon mencapai Rp 11,02 triliun kepada 569.579 debitur. [nif]



Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00