Banyak Potensi Ancaman Di 2018, Polri-TNI Wajib Waspada

Politik  SENIN, 04 DESEMBER 2017 , 04:01:00 WIB

Banyak Potensi Ancaman Di 2018, Polri-TNI Wajib Waspada

Bambang Soesatyo/Net

RMOLJabar. Sepanjang 2018, diprediksi banyak potensi ancaman yang ‎muncul di negeri itu. Untuk itu, Polri, dengan dukungan TNI dan intelijen, harus bekerja keras agar potensi ancaman itu bisa direduksi hingga ke level paling minimal.

Demikian pesan Ketua Komisi III Bambang Soesatyo. Kata dia, potensi ancaman itu bisa muncul karena ada tiga event besar selama 2018, ‎yaitu Pilkada serentak, pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF, dan Asian Games 2018. "Kerja keras diperlukan agar semua event itu bisa berlangsung tanpa gangguan berarti," ucapnya, Senin (4/12).

‎Untuk Pilkada, di 2018, jumlah pesertanya lebih besar dibanding dua Pilkada serentak sebelumnya. Ada 171 daerah yang akan melakukan pencoblosan pada 27 Juni 2018. Rinciannya, 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Sejauh ini, kata Bambang, Polri sudah memantau dan mengidentifikasi daerah-daerah pemilihan yang rawan konflik pada Pilkada 2018. Ada lima daerah rawan konflik, meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Papua.

"Namun, Polri juga perlu menggarisbawahi peringatan Mendagri Tjahjo Kumolo yang mengingatkan bahwa semua daerah penyelenggara Pilkada serentak 2018 berpotensi tidak aman. Sebab, isu berkonten SARA dan ujaran kebencian, yang menjadi faktor pemicu kerawanan dalam Pilkada, masih sering digunakan," jelas Bambang.

Untuk Asian Games dan ‎pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF, juga sangat besar. Ribuan delegasi dari ratusan negara akan datang ke Indonesia. Selain ke Jakarta, Bali, dan Palembang, tamu-tamu itu juga akan mendatangi beberapa titik di Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Pada hari pembukaan Asian Games, tutur Bambang, sedikitnya 45 pemimpin negara se-Asia dijadwalkan hadir. Pada event itu, jumlah tamu diperkirakan bertambah dengan hadirnya pendukung dari masing-masing negara peserta dan wisatawan asing. Pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF di Bali tidak kalah besarnya. Event ini akan didatangi 15.000 delegasi dari 189 negara.

"Agar penyelenggaraan tiga event besar ini berjalan mulus minus gangguan serius, Polri, TNI, dan intelijen harus mewaspadai serta mendeteksi potensi ancaman. Gangguan tentu selalu ada, tetapi harus bisa diminimalisir demi kredibilitas bangsa dan negara. Pada event-event besar berskala internasional, selalu saja ada kelompok-kelompok yang coba menebar gangguan untuk mendapatkan perhatian dari komunitas internasional," jelas Ketua Badan Bela Negara FKPPI ini.

Dalam konteks itu, tambah Bambang, pernyataan Menhan Malaysia Hishammuddin Hussein layak digarisbawahi oleh Polri, TNI, dan BIN. Menhan Malaysia mengingatkan bahwa kelompok atau sel-sel teror di kawasan Asia Tenggara sudah bertindak sebagai pelindung bagi para militan ISIS yang melarikan diri Irak dan Suriah. Kelompok teror yang dimaksud adalah Abu Sayyaf, Jemaah Islamiyah (JI), dan Muhajhidin.

Kelompok ini menempatkan diri sebagai 'home away from home' bagi mereka yang melarikan diri dari Mosul, Aleppo, dan Raqqa. Mereka bahkan menyatakan kesetiaan pada kekhalifahan Daulah Islamiyah yang disebut 'Wilayah Asia Timur'.

"Bagi Polri, TNI, dan BIN, apa yang dikemukakan Menhan Malaysia itu tentu saja bukan informasi baru. Polri bahkan terus menugaskan Densus 88 untuk memburu dan menyergap sejumlah orang yang diduga sel-sel terorisme di dalam negeri. Akan tetapi, yang dikemukakan Menhan Malaysia itu layak diterima untuk menyegarkan ingatan dan kewaspadaan nasional, mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah dari dua event besar berskala internasonal," jelas politisi Golkar ini.

Kata Bambang, Asian Games dan pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF akan menyedot perhatian komunitas internasional. Pada saat yang sama, anggota sel-sel teroris di Asia Tenggara juga akan memberi perhatian pada dua event itu. "Mereka akan mencari celah untuk menunjukkan eksistensi mereka."

Kemungkinan itu, tambah Bambang, patut dikaitkan dengan ambisi beberapa kelompok teror yang ingin membangun basis ISIS di Asia Tenggara. Setelah dilumpuhkan di Irak dan Suriah, bukan tidak mungkin mereka semakin bernafsu merealisasikan basis ISIS di kawasan ini. Terlebih, pergerakan anggota sel-sel teror di kawasan ini masih sangat aktif.

"Selain Pilkada 2018 yang harus berlangsung damai, Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang serta pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF di Bali pun harus bebas dari ancaman teror. Itulah kewajiban yang harus dilaksanakan demi kredibilitas bangsa dan negara. Sekecil apa pun potensi ancaman itu, hendaknya segera dieliminir agar delegasi dari ratusan negara yang berkunjung ke Indonesia merasakan nyaman dan indahnya negeri ini," tandasnya. [jar/rmol.co]


Komentar Pembaca
Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

SENIN, 29 OKTOBER 2018 , 23:07:00

TNI Bantu Angkut Panel Risha Percepat Pembangunan Rumah Warga Di NTB
Jatuh Sakit, Wagub Uu Jalani Operasi

Jatuh Sakit, Wagub Uu Jalani Operasi

Peristiwa17 November 2018 04:35

Dewan Prihatin Sekda Kab Tasik Ditahan

Dewan Prihatin Sekda Kab Tasik Ditahan

Politik15 November 2018 20:51

Nominal Bantuan PKH Tahun 2018 Berkurang

Nominal Bantuan PKH Tahun 2018 Berkurang

Ragam17 November 2018 18:19

Lambang Maung Bodas Di PJU Kok Dicopot?

Lambang Maung Bodas Di PJU Kok Dicopot?

Peristiwa16 November 2018 16:08

Korupsi Dana Hibah, Sekda Kab Tasik Ditahan Polda Jabar
PLTA Cirata Masuki Usia 30 Tahun

PLTA Cirata Masuki Usia 30 Tahun

Ragam21 November 2018 15:48

Gempungan, Ikhtiar Pemkab Sejahterakan Rakyat

Gempungan, Ikhtiar Pemkab Sejahterakan Rakyat

Pemerintahan21 November 2018 15:33

Bawaslu Ajak ASN Awasi Pemilu

Bawaslu Ajak ASN Awasi Pemilu

Politik21 November 2018 15:18

ASN Tak Netral, Fahmi Belum Dapat Rekomendasi Bawaslu
Bawaslu Awasi DPT Ganda

Bawaslu Awasi DPT Ganda

Politik21 November 2018 14:47