Kang Dedi
Kang Emil

WCC Balqis: Dorong RUU Penghapusan Seksual

Ragam  KAMIS, 07 DESEMBER 2017 , 11:58:00 WIB | LAPORAN: AHYARUDDIN ASEP

WCC Balqis: Dorong RUU Penghapusan Seksual
RMOLJabar. Manager Program Woman Crisis Center (WCC) Balqis, Sa'adah mengajak kepada masyarakat untuk mengenali dan menangani kekerasan yang kerap terjadi terhadap kaum perempuan serta memberikan edukasi agar kasus-kasus terkait pelecehan, seperti perkosaan diselesaikan secara hukum agar pelaku jera, sehingga bisa menekan tingginya kasus kekerasan pada perempuan.

Selain itu, kata Sa'adah masih ada tantangan edukasi soal kesetaraan gender guna menekan angka kekerasan pada perempuan, diantaranya masih tingginya budaya patriarki. Sehingga masih terjadi ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki.

Sa'adah juga menambahkan belum adanya payung hukum yang jelas dalam memenuhi hak-hak korban. Untuk itu, pihaknya mendorong Rancangan Undang-undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual. Sebab undang-undang yang ada hanya mengatur pelaku saja, tak melibatkan korban.

"Harapan kedepan semakin banyak pihak yang berperan dalam upaya mengenali dan menangani kekerasan seksual serta segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual untuk masyarakat dan korban," kata Sa'adah dalam kegiatan Pendidikan Publik yang diselenggarakan pada 24 November-09 Desember 2017 di kantor Kecamatan Jamblang kab Cirebon.

Disamping itu, kata Sa'adah masyarakat masih awam soal jenis kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan. Pasalnya, yang diketahui masyarakat hanya soal perkosaan saja, dan itupun terkadang diselesaikan secara kekeluargaan.

Padahal, apabila diselesaikan secara kekeluargaan melalui pernikahan biasanya perempuan (korban) akan diperlakukan tak mengenakan, bahkan bisa berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Pernikahan jenis itu, kata Sa'adah, biasanya bukan kebahagiaan yang didapat oleh pihak perempuan, tetapi malah kekerasan, baik verbal maupun fisik. Hal itu, disebabkan pernikahannya tidak dibangun atas komitmen hidup bersama untuk saling melengkapi, tetapi nikah karena terpaksa. [bon]

Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00