Kang Dedi
Kang Emil

Membaca Politik Pembangunan Dedi Mulyadi

Opini  MINGGU, 14 JANUARI 2018 , 12:14:00 WIB

Membaca Politik Pembangunan Dedi Mulyadi

Muhtar S. Syihabuddin

Saya tergoda suguhkan tulisan ringan ini, karena ada sedikit modal tradisional berasal dari Purwakarta di mana Dedi Mulyadi menjabat bupati, membaca berita dan pelbagai literatur yang relevan sekaligus perjumpaan langsung dengan sang bupati. Akhirnya pena mulai tergoser meski diselimuti awan tudingan bahwa tulisan ini bagian dari kampanye Pilkada Jabar 2018.

Setidaknya saya menangkap kesan pertama dengan perubahan Kabupaten Purwakarta sejak berada dalam genggaman Kang Dedi. Terutama tata kelola infra struktur yang merata dari wilayah kota hingga ke pelosok desa. Terekam banyak titik di pelosok mulai berubah bentuk lebih baik.

Jalanan di Purwakarta sering terasa licin jika berkendaraan. Bangunan pemerintahan tertata rapih dengan dominasi bentukan dan pola khas sunda sekaligus warna hitam putih. Baik itu bangunan pemerintahan setingkat kabupaten, kecamatan hingga ke desa-desa. Pasar tradisional juga mengalami peremajaan dan relokasi. Dilengkapi dengan pasilitas jajanan khas makanan Purwakarta.

Beberapa acara juga kerap kali hadir hingga melibatkan negara luar negeri. Memanjakan para pengunjung baik dalam maupun luar. Purwakarta mulai dikenal hingga ke manca negara, yang tadinya wilayah perlintasan hanya untuk berhenti sejenak melepas lelah bukan sebagai tujuan dari perjalanan para pelancong.

Purwakarta berubah fisik menjadi lebih elok terlihat dan terasa layak dikunjungi. Pesonanya menjadi hal baru di Jawa Barat, mengundang ragam tanya. Apa dan bagaimana yang mendasari semua perubahan itu? Ini tertuju pada sosok pemimpinnya; terkesan berani berbuat hal baru dengan niat mencapai kemajuan.

Sukses Kang Dedi membangun Purwakarta menyinarkan benak saya, bagaimana politik pembangunan yang sedikit banyak dimainkan oleh Kang Dedi, Bupati Purwakata dua periode sekaligus ketua DPD Golkar Jabar. Politik pembangunan ini pada gilirannya memberikan arah tegas, terukur dan terencana dalam derap pembangungan.

Kang Dedi sedari awal menyadari kebudayaan adalah modal utama dan pertama dalam membangun sebuah kawasan. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikan, yang menyebabkan Kang Dedi berusaha mencari preseden budaya sunda untuk membangun Purwakarta. Proses internalisasi budaya sunda ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan faktanya pria berkumis ini berani tidak populer.

Sebut saja kala pendirian beberapa patung yang kontras dengan Purwakarta sebagai kota santri. Simbol-simbol budaya sunda terus dikampanyekan ke ruang publik. Penataan ulang pasar tradisional hingga banguan liar lainnya. Semuanya mendapat tanggapan negatif bahkan hampir saja mengoyak bangunan kerukunan.

Kang Dedi menanggapi protes warga tidak dengan tangan besi, tapi lebih mengedepankan rasa persaudaraan dengan memberikan pemahaman secara dialogis. Langkah ini sengaja diambilnya, mengingat butuh segala potensi untuk menyadarkan pentingnya pembangunan yang sudah terlanjur terbentuk oleh pola fikir lama yang alergi terhadap perbaikan.

Kang Dedi sangat menyadari pentingnya pola dialogis, sebagai turunan dari politik pembangunan sunda berupa ungkapan, silih asah, silih asih dan silih asuh”. Ketiganya merupakan mesin pendorong pengembangan sekaligus pembangunan yang secara kasat mata terlihat, ketika Purwakarta berada dalam genggaman tangannya. Yang senantiasa mendahulukan nilai kebersamaan, yakni maju bersama dalam intelektualitas (silih asah), kekuatan kasih sayang yang senantiasa diciptakan dalam segala bentuk hubungan individu satu sama lain (silih asih) dan sikap mengayomi satu sama lain sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam menciptakan harmonisasi hidup (silih asuh).

Skema ‘silih asah’ sangat terasas getarannya ketika di Purwakarta hadir beragam acara yang mengatasnamkan festival budaya, tapi perlahana tapi pasti akhirnya menjadi kegiatan memperuncing alat, mempertajam atau menghaluskan sesuatu. Festival budaya sebenarnya berisi kegiatan yang bisa saling mencerahkan pengetahuan, berbagi informasi dan berbagi ilmu. Di sini Kang Dedi sedang melakukan pendekatan dalam komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap  masyarakat supaya terjadinya komunikasi dengan baik.

Saling berbagi ilmu dan pengetahuan yang dilakukan menghasilkan pemahaman  yang lebih cepat di masyarakat sehingga akan tercipta kondisi pemerintahan yang kondusif. Yang dalam nalar keislaman, ‘wa tawasoubishshobri wa tawashoubil hak’, karena memiliki pengetahuan tidak cukup untuk diri sendiri saja, tapi harus saling mengingatkan tentang kesabaran dan kebaikan dalam mengarungi kehidupan.
 
Adapun skema ‘silih asih’ sangat terlihat dari tipologi personal Kang Dedi berusaha sedekat mungkin dengan wong cilik. Kita masih ingat, bagaimana seorang pedagang kaki lima tetap difasilitasi untuk tetap berjualan di tempat lain yang lebih rapih dan tertata. Boleh jadi Kang Dedi sedang menerapkan sosialisme pragmatis, di mana efek negatif pembangunan jangan sampai menyentuh aspek dasar kemanusiaan. Dan jika perlu meningkatkan penunjang lainnya bagi warga agar produktif dan berdaya saing tinggi.
 
Karenanya, dalam berbagai media diberitakan nilai tambah dari pendekatan kebudayaan Kang Dedi yang senantiasa mengedepankan konsep kasih sayang dalam melakukan proses pembangunan. Ada nilai tambah berupa kebermaknaan kepemimpinan yang telah memanusiakan manusia, karena dalam setiap pengambilan keputusan selalu mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan individu maupun kelompok.

Adapun skema terakhir yaitu ‘silih asuh’, dengan sikap saling mengayomi antar sesama, saling menjaga kehormatan, saling menjaga harga diri dan martabat. Silih asuh dalam konteks politik pembangunan Kang Dedi, berupa tanggungjawab pemerintah menghantarkan masyarakat ke arah yang lebih dewasa dalam berfikir, berucap, dan bertindak. Pemerintah harus bisa menjadi pengayom untuk menyatukan seluruh komponen dalam melaksanakan kerja-kerja pemerintahan, demi terciptanya kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Ketiga skema tersebut, memberikan satu alasan bagaimana pembangunan harus dilaksanakan dengan rasa tanggungjawab bersama untuk saling mencerahkan dan mengingatkan (silih asah), strategi dalam penguatan identitas politik itu dapat dilakukan dengan cara saling menyayangi oleh elit politik terhadap rakyat (silih asih), dan saling memberikan penguatan dalam mempertahankan nilai-nilai luhur pembangunan (silih asuh).

Nampakanya politik pembangunan yang terjadi di Purwakarta akan beranjak pada wilayah lebih luas dan besar. Kang Dedi akhirnya mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Deddi Mizwar. Khalayak menyebutnya 2DM, karena huruf pertama dua namanya sama DM. Yang didukung oleh Golkar-Demokrat untuk berlaga di Pilgub Jabar, setelah melalui tahapan dramatis. Dedi Mulyadi ambil peran pasca Golkar cabut rekom buat Ridwan Kamil dan Deddi Mizwar ditalak tiga sama PKS.

Dalam proses penentukan siapa yang menjadi cagub dan cawagub, saya menangkap kesan politik pembangunan tersebut masih terpatri dalam ucapan Kang Dedi. Berkali-kali dia menyampaikan, bahwa posisi Jabar 1 maupun Jabar 2 bukan soal penting dibandingkan kepentingan menjadikan warga Jabar sejahtera.

Tentu saja ini perkataan seorang politikus yang akan berlenggang ke pentas Pilkafa Jaba 2018, yang boleh ditafsirkan sangat beragam. Semisal karena soal skor survei yang tidak terlalu menjamin Kang Dedi untuk menjadi posisi Cagub Jabar. Atau boleh jadi sasaran antara untuk maju lima tahun ke depan sebgai Jagub mengingat usia kepemimpinan Deddi Mizwar jika terpilih kelak, tidak mungkin lebih dari lima tahun.

Namun serasional apapun alasan politis tersebut, tidak semestinya menghilangkan bukti politik pembangunan ala Kang Dedi yang selama ini hadir di Purwakarta. Kesan ingin mendahalukan kepentingan membangun dibandingkan posisi siapa yang jadi Gubernur dan Wakil Gubernur ke depannya sangat terasa dalam pengakuan Kang Dedi kenapa merelakan Deddi Mizwar menjadi Cagub Jabar.

Yang jelas Kang Dedi tetap Kang Dedi yang punya gaya khas membangun sekaligus mengukir karier politik. Dengan pengalaman dari tukang besar sampai akhirnya berhasil mendapat tiket untuk ikut kontestan penghuni gedung sate, sudah cukup membuktikan bahwa seorang Dedi Mulyadi sedang berusaha mengembangkan potensi dirinya. Tentu saja, dengan tetap teguh pada dasar politik pembangunan sunda yang mengedepankan titik harmoni tanpa distorsi.

Akankankah semua ini menjadikan Kang Dedi terpilih? Hanya rakyat Jabar yang lebih tahu ketika berada di bilik sempit Pilkada Jabar pada 27 Juni 2018.

Selamat memilih!

Penulis:Muhtar S. Syihabuddin
Peneliti Senior RMPolitika Jakarta



Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 19:00:00