Agar Garam Rakyat Berdaya Saing, Begini Kata Kemenkomaritim RI.

Ragam  JUM'AT, 23 FEBRUARI 2018 , 13:59:00 WIB | LAPORAN: AHYARUDDIN ASEP

Agar Garam Rakyat Berdaya Saing, Begini Kata Kemenkomaritim RI.
RMOLJabar. Garam rakyat agar bisa berdaya saing dan menambah kesejahteraan bagi para penambaknya, maka dapat dilakukan beberapa cara agar memenuhi standar.

Paling tidak ada 3 cara agar garam rakyat bisa berdaya saing dan bisa meningkatkan kesejahteraan.

Deputi Koordinator bidang SDA dan Jasa Kemenkomaritim RI, Ir. Agung Kuswandono mengungkapkan 3 langkah yang bisa ditempuh petani garam supaya memenuhi standar kebutuhan pengusaha.

Yang pertama, kata Ia, untuk memenuhi kebutuhan pengusaha, maka tekhnologi yang digunakan harus diubah, tidak lagi menggunakan tekhnologi konvensional.

"Kalau tekhnologinya hanya dengan air dialirkan dan dipanaskan 4 hari kemudian panen, tidak akan pernah tercapai," kata Agung usai memberikan materi dalam Seminar Nasional di hotel Aston Cirebon, Kamis (22/2).

Oleh karenanya, lanjutnya, masyarakat penambak garam perlu diberikan edukasi untuk mengubah teknologi. Tekhnologi yang paling sederhana, sebutnya, ialah bisa dengan menggunakan sistem Ulir.

Menurut Agung, jika masyarakat masih bertahan dengan sistem konvensional, sementara luas tambak nya hanya 1 hektar, maka masyarakat tidak akan dapat apa-apa.

Luas 1 hektar saja, terang Ia, kalaupun tetap menggunakan sistem Ulir itu kurang cukup untuk mensejahterakan masyarakat. Terlebih, menggunakan konvensional.

"Dengan ulir, jika tambaknya hanya satu hektar bisa dibayangin nanti 10% yaitu ya untuk pengeringan itu. Dapat apa dia kan? Mau tidak mau mereka harus berkumpul antara petambak yang berdekatan sampai sekitar 100 hektar lah paling tidak, dengan demikian nanti semua mempunyai saham di situ. Di Ulir air lautnya, kemudian 10 persennya untuk tambak garam. Insya Allah hasil garamnya jauh lebih bagus," bebernya.

Lantas kedua, sambung Agung, dengan menggunakan Membran. Membran ini, kata Ia, ternyata digunakan pula oleh KKP RI. Hanya saja, menurut Agung, Membran yang difasilitasi KKP RI kualitasnya berbeda dengan Membran yang dipakai oleh PT. Garam.

"Kalau Membran yang dipakai bolong, itu nanti akan terjadi pembusukan," ucapnya.

Untuk itu, kupas Agung, Kemenkomaritim nanti harus berbicara dengan pemerintah dalam hal ini KKP RI agar dalam memfasilitasi masyarakat petambak atau petani garam melalui penggunaan Membran, juga harus diperhitungkan jumlah Membran yang dibutuhkan.

"Untuk bisa mensejahterakan sekian ribu petani. Berapa banyak lahannya ? Itu hampir 25.000 hektar," terang Agung.

Agung mengakui, jika memang nanti KKP RI akan tetap berupaya memfasilitasi petambak garam dengan Membran, maka kuantitas Membran sangat penting untuk diperhitungkan. Sementara, kata Ia, Membran juga akan ada last time (daya tahan).

"loh Itu Membrannya sebanyak apa ? dan Membran itu punya last time. Paling banter 5 tahun harus ada penggantian. Nah yang mau mengganti siapa ? kalau nggak mau dipikir dari sekarang nanti petani menganggap 5 tahun dapat lagi ?" tukas Agung.

Agung berharap, pemberian Membran dari KKP RI kepada petani garam, mestinya ada systemable, artinya petani harus bisa menyisihkan dari hasil pendapatannya setelah menerima bantuan Membran.

"Setelah ini dikasih dan bagus pendapatannya, ya di sisihkan dari hasil penjualan itu untuk menyiapkan Membran penggantian," tuturnya.

Kemudian, tutup Agung, yang ketiga pemberian edukasi kepada para petani untuk supaya tidak hanya sekedar membuat garam umum, namun dapat memakai produksi garam Spar.

"Seperti sekarang ada yang namanya garam Spar. itu produksinya relatif dengan teknologi yang mudah tapi hasilnya kalau udah jadi garam Spar, harganya bisa mencapai 260 ribu per kilo," ungkapnya.

Agung memberikan perbandingan antara harga garam lokal dengan sistem konvensional dan garam Spar. Garam lokal, sebut Ia, hanya dijual dengan harga Rp. 5 ribu hingga Rp. 6 ribu per kilogram.

Sementara Garam Spar, terang Agung, kalau bisa dikembangkan oleh 100 orang melalui koperasi, pasarnya akan luar biasa.

"Banyak di Eropa, Amerika, semua akan butuh garam. Di Cirebon katanya sudah ada. Di Buleleng juga ada. Mestinya ini yang dikembangkan," kata dia.

Tidak hanya itu, lanjut Agung, ke depan Kemenkomaritim pun bersedia untuk memfasilitasi dan membuka pasar ke luar negeri supaya produk garam Spar bisa di ekspor. Ia pun meminta kepada publik, terutama media agar tidak membentur-benturkan antara garam rakyat dengan garam Industri.

Melalui garam Spar ini, kata Agus, cukup menjanjikan bagi kesejahteraan petani garam lokal. "Itu akan the best mas dan masyarakat akan terus terdongkrak kesejahteraannya," tandasnya lagi. [nif]











Komentar Pembaca
Demokrat Akui Main Dua Kaki

Demokrat Akui Main Dua Kaki

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 , 11:00:00

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Demokrat: Artikel Asia Sentinel Abal-abal

Demokrat: Artikel Asia Sentinel Abal-abal

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00