Taman Air Mancur Sri Baduga, Jadi Tempat Favorit Liburan Akhir Pekan

Webtorial  KAMIS, 03 MEI 2018 , 11:28:00 WIB | LAPORAN:

Taman Air Mancur Sri Baduga, Jadi Tempat Favorit Liburan Akhir Pekan
Setiap akhir pekan, ribuan pengunjung domestik maupun manca negara tampak menghabiskan waktu liburan menikmati kawasan wisata Taman Air Mancur Sri Baduga di Kabupaten Purwakarta.

"Family time, dalam sebulan kadang sampai dua kali saya berkunjung ke taman air mancur Sri Baduga, ngajak keluarga. Kadang kita ajak rombongan tetangga," ujar Julianto (34), pengunjung dari Bekasi kepada RMOL Jabar baru-baru ini.

Tak hanya itu, ayah dua putra ini juga terkadang menghabiskan waktunya di sekitar Komplek Pemkab Purwakarta.

"Enak yah, di Purwakarta kantor pemerintahannya juga bisa buat berwisata, bikin betah. Kalau anak-anak, senangnya ke diorama," kata Julianto.

Kehadiran Taman Air Mancur Sri Baduga di pusat kota Purwakarta yang dibuka setiap akhir pekan menambah tingginya angka kunjungan. Setiap pekan dalam satu pertunjukan, sedikitnya 4 ribu orang tumplek di Situ Buleud, lokasi pertunjukan air mancur.

"Air Mancur Situ Buleud berkontribusi signifikan. Bayangkan saja dalam satu malam saja, sekitar lima jam lebih, pertunjukan air mancur disaksikan lebih dari 5 ribu orang," ujar Kabid Pariwisata Disporaparbud Purwakarta, Heri Anwar, belum lama ini.

Menurutnya, selama lima tahun terakhir di masa kepemimpinan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, sejumlah wisata baru dikembangkan seperti Air Mancur Sri Baduga, via verrata Gunung Parang, pendakian Gunung Bongkok dan Lembu, wisata kuliner Sate Maranggi hingga wisata di kawasan kaki Gunung Burangran

Taman Air Mancur Sri Baduga, juga dikenal dengan sebutan Situ Buleud. Tapi, tahukah Anda, tentang bagaimana danau di tengah kota ini berawal?

Sejarah Situ Buleud berawal pada jaman Bupati Raden Arya Suriawinata. Di masa itu pusat pemerintahan Kabupaten Purwakarta berada di Karawang. Namun karena letak Karawang berada di daerah aliran Sungai Citarum, maka seringkali tertimpa banjir. Untuk itu, Bupati yang terkenal dengan julukan Dalem Solawat, memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Wanayasa di kaki Gunung Burangrang.

Tak berselang lama Dalem Solawat kembali berniat memindahkan pusat pemerintahan ke tempat yang lebih strategis. Dari hasil munajatnya kepada Yang Maha Kuasa, maka Dalem Solawat pun mendapat ilham, lokasi yang cocok berupa sebuah tempat di mana terdapat sebuah kubangan dan pohon tanjung.

Dia pun memerintahkan seorang Wadana (setingkat lurah) untuk mencari tempat dengan tanda tersebut. Dari hasil pencarian, didapatlah sebuah kubangan yang saat itu tengah digunakan seekor badak. Yakin dengan temuannya, maka wadana pun melaporkannya kepada Dalem Solawat.

Maka dilakukanlah pembenahan hingga tempat tersebut berubah menjadi nyaman dan asri. Oleh Dalem Solawat, tempat tersebut dinamai Sindangkasih bermaknakan tempat perhentian yang nyaman dan dicintai.

Atas gagasan Raden Rangga Natayuda, kubangan tempat badak berendam tersebut kemudian dibenahi menjadi sebuah situ (danau), begitu juga daerah di sekitarnya ditata semakin rapi. Sejak itulah, situ yang memiliki fisik berbentuk lingkaran ini dikenal dengan sebutan Situ Buleud (danau bundar).

Situ Buleud merupakan daerah cekungan seluas 4 hektar, meski hingga saat ini belum dilakukan penelitian seacra komprehensif, namun diyakini air yang menggenangi Situ Buleud berasal dari sebuah mata air dan air hujan.

Namun yang patut dilihat dari sejarah adalah, betapa telah sejak lama Situ Buleud dijadikan ikon kota Purwakarta. Setiap kali pergantian pemerintahan, maka penataan Situ Buleud tak luput dari perhatian. Pun halnya di masa pemerintahan Bupati Dedi Mulyadi yang secara terang-terangan memiliki kepedulian penuh terhadap kerberadaan Situ Buleud.

Penataan dan pengembangan pun dilakukan, bahkan sejak awal 2011 lalu hasilnya sudah terlihat. Mulai dari pembuatan pagar Malati Sapasi yang mengelilingi Situ Buleud hingga Gapura Indung Rahayu yang bediri megah. Keberadaan Situ Buleud yang kerap dijadikan tempat berolahraga atau sekedar jalan-jalan warga Purwakarta pun, tak luput dari perhatian. Karenanya dibuatlah trek jogging di luar area Situ Buleud.

Selain air mancur terbesar se-Asia Tenggara, di kawasan tersebut berdiri dengan megah, patung Badak Putih berukuran besar tepat di depan Gapura Indung Rahayu. Patung ini berdiri menghadap ke arah alun-alun, sehingga bila di lihat dari arah tersebut si Badak terlihat gagah. Belakangan banyak warga Purwakarta yang menjadikan patung Badak Putih sebagai objek berfoto. Dan tak sedikit masyarakat yang menggunakan waktu istirahatnya disekitar Situ Buleud. Adv/RMOLJabar







Komentar Pembaca