Pemkab Purwakarta Dorong Petani Kembangkan Lahan Pertanian Organik

Webtorial  SENIN, 21 MEI 2018 , 14:16:00 WIB | LAPORAN:

Pemkab Purwakarta Dorong Petani Kembangkan Lahan Pertanian Organik
Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, terus melakukan berbagai inovasi agar produktifitas pertanian padi di wilayah ini bisa lebih berkembang.

Salah satu upaya yang dilakukan dinas tersebut adalah menggenjot para petani dalam hal peningkatan indeks pertanaman. Tak hanya itu, dinas terkait pun saat ini tengah berupaya mendorong para petani supaya bisa mengembangkan pertanian padi lahan organik.

Menurut Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, potensi pengembangan sawah organik ini cukup tinggi. Apalagi, salah satu sarana pendukung terealisasinya program tersebut sudah ada.

"Potensi pengembangan sawah organik di wilayah kami cukup tinggi. Salah satu indikatornya, ketersediaan air bersih yang tidak tercemar logam berat masih cukup melimpah di wilayah kami," ujar Agus kepada awak media, Senin (21/5).

Adapun wilayah yang paling potensial untuk dikembangkan menjadi areal pertanian organik itu, yakni di wilayah selatan Purwakarta. Semisal, wilayah Kecamatan Pasawahan, Bojong dan Kiarapedes.

Untuk saat ini areal sawah yang sudah menggunakan sistem pemupukan organik mencapai 200 haktere. Lahan pertaniam organik ini tersebar di tiga wilayah itu. Kedepan, dinasnya menargetkan di wilayah selatan ini akan ada 1.000 hektar lahan menjadi area persawahan organik.

Pihaknya optimis pengembangan sawah organik ini bakal terealisasi. Mengingat, ketersediaan air bersih di wilayah itu cukup melimpah. Karena, air untuk pesawahan di wilayah ini bersumber langsung dari mata air pegunungan.

"Air di wilayah Selatan kami rasa belum terkontaminasi logam berat. Ini yang menjadi alasan kami mengembangkan sawah organik di wilayah ini," jelas dia.

Selain pupuknya yang menggunakan bahan organik, salah satu sarat keberhasilan pertanian organik itu sendiri dari suplai airnya. Jadi, air untuk mengairi sawah tersebut jangan sampai tercemar logam berat.

Dengan kata lain, jika airnya sudah bagus maka komponen lainnya tinggal mengikuti. Salah satunya pupuk. Kalau untuk benih, varietas apapun bisa jadi pendukung pertanian organik. Jadi, tidak ada masalah dengan benih varietas apapun.

Agus menambahkan, alasan instansinya mendorong supaya areal persawahan organik ini bertambah karena kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan pangan sehat cukup tinggi. Apalagi, beras organik yang sudah lolos sertifikasi ini, dijamin bebas residu dan zat kimia.

"Saat ini saja, permintaan pasar akan beras organik cukup tinggi. Di atas lima ton per bulan. Tapi petani kita belum bisa mencukupinya," tambah dia.

Selain itu, beras organik ini merupakan prospek yang sangat menjanjikan. Karena harga pasarannya cukup mahal. Yakni di atas Rp 20 ribu per kilogram. Dengan begitu, petani yang konsen di pertanian organik ini, dijamin akan menjadi petani dengan tingkat kesejahteraan yang meningkat.

Sementara itu, Endang Yarmedi (65), salah seorang petani organik Kampung Cipamangkat Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan mengatakan, sejak 13 tahun lalu dirinya mencoba untuk beralih dari petani konvensional ke pupuk organik.

"Alhamdulillah, selain produk yang dihasilkannya sehat, keuntungannya pun cukup besar dibanding pertanian konvensional yang menggunakan pemupukan kimia," ujar Endang.

Mungkin, awal-awal dirinya terjun menjadi petani dan fokus pada pertanian konvensional, tidak pernah ada evaluasi keuntungan. Saat itu, dirinya hanya niat bercocok tanam tanpa menghitung untung rugi.

Akan tetapi, makin kesini uang tabungannya semakin menipis. Lalu habis. Ternyata, setelah ditelaah ada yang keliru dari cara bercocok tanamnya. Yakni, biaya produksi tak sebanding dengan hasil produksi.

"Dari situ, saya kemudian mencoba beralih ke cara organik. Dan ternyata hasilnya memuaskan," jelas dia.

Endang menuturkan, dalam satu hektare lahan dibutuhkan 10 ton pupuk organik. Jika dikonversikan, biaya produksi yang dibutuhkan dalam sehektare itu mencapai Rp 15 juta per musim.

Secara kasat mata, memang hasil produksinya sama saja dengan pertanian konvensional. Yakni, 6,2 ton per hektare. Gabah sebanyak 6,2 ton ini kemudian diolah menjadi beras dengan rendemen 70 persen. Menghasilkan 4,5 ton beras.

Saat ini, lanjut Endang, harga beras organiknya Rp 20 ribu per kilogram. Jadi, rata-rata penghasilan dalam sebulan Rp 80 juta. Kemudian dipotong biaya produksi Rp 15 juta. Keuntungannya mencapai Rp 65 juta per musim. "Saya punya tiga hektare lahan garapan. Lalu, beras yang dihasilkan juga sudah tersertifikasi," pungkasnya.Adv/RMOLJabar





Komentar Pembaca
Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Oded Buka Road Show Senam 2018

Oded Buka Road Show Senam 2018

SENIN, 26 NOVEMBER 2018 , 09:21:00

Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

SABTU, 01 DESEMBER 2018 , 09:50:00