Menuju Masyarakat Cyberdemocracy

Opini  MINGGU, 10 JUNI 2018 , 16:37:00 WIB

Menuju Masyarakat Cyberdemocracy

Rohendi

SETIAP kali saya buka akun media social, maka saat itu juga saya dihadapkan dengan posting-postingan yang beraneka macam dan ragam. Mulai dari urusan personal-parsial yang tidak terlalu penting hingga kepada urusan urusan nasional-global yang dianggap serius. Bagi sebagian orang, medsos merupakan hiburan yang mengasyikan ditengah kepenatan dunia pekerjaan, bahkan bagi sebagian orang kesibukan aktivitas di medsos mengalahkan pekerjaan utamanya.
 
Internet dari waktu ke waktu semakin memperlihatkan kemampuanya dalam melayani kebutuhan manusia. Sebagai realitas virtual (maya), internet kini menjadi dunia baru (new word) yang menyaingi dunia nyata dalam aspek interaksi sosial. Sistem komunikasi dalam dunia baru itu telah meluluhlantakan teori-teori komunikasi massa yang selama ini berkembang dalam dunia komunikasi. 
 
Cybermedia kini menjadi media yang mampu menyelesaikan berbagai kebutuhan manusia secara efektif dan efisien, tidak terkecuali dalam masalah sosial-politik. Jika dahulu saat Hari Raya setiap keluarga saling mengunjungi kita sebagian sudah mulai terkikis dengan ucapan di media social. Jika dahulu para politisi harus berkumpul di lapangan terbuka untuk berkampanye dan menyapa para pendukunya, kini cukup dilakukan dengan acara  sederhana yang diviralkan melalui akun-akun media social.
 
Dalam tataran ideal, media social seperti Facebook, tweeter dan sejenisnya menjadi ruang publik sebagaimana yang difiksikan oleh Jurgen Habermas (1962) dalam essainya The Structural Transformation of The Public Sphere. Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai berkumpulnya orang-orang untuk berdiskusi berdasarkan rasionalitas. Ruang Publik yang bebas dari intervensi penguasa, ketidaktransparan serta terbebas dari unsur politik dan permintaan pasar”.
 
Secara medium, cybermedia merupakan dunia baru yang diidealkan Habermas dalam membangun masyarakat yang demokratis dan komunikatif. Pada masa hidupnya, pemikiran Habermas ini mungkin dianggap fiktif. Namun dengan berkembangnya dunia cyber fiksi ruang publik  ini menjadi semakin nyata dapat terbukti.
 
Meskipun demikian pemikiran Habermas tentunya akan dianggap ideal apabila konsep tersebut ditempatkan pada ruang sejarah yang vacuum sosial. Ruang Public yang disajikan oleh akun media sosial kini masih dalam tahap kelahirannya. Media sosial yang kini berada ditangan  individu masyarakat kita khusunya, masih belum bisa berjalan secara ideal.  Gelombang cybermedia yang begitu dahsyat di awal abad milenial ini, belum bisa bersinergi dengan karakter moral para penggunanya. Gagap teknologi (gaptek) yang di derita sebagian para pemilik akun media melahirkan sebuah masyarakat virtual yang Barbarian, yang mudah menyebarkan ujaran kebencian, fitnah bahkan biang pertikaian yang diakibatkan oleh satu telunjut (touch) terhadap sebuah informasi hoax”. Muatan informasi cybermedia yang tanpa diverifikasi kebenarannya ini, selanjutnya menjadi gejala epidemik yang mewabah di lapisan masyarakat baik di kalangan awam, terpelajar maupun akademisi.
 
Fenomena di dunia virtual dan di dunia nyata menunjukan banyaknya orang sakit” dalam proses berkomunikasi akibat keterbelahan dukungan politik dan sektarianisme. Virus yang bernama bigot” telah banyak menyebar, sehingga penderitanya memiliki paradigm  pemikiran bahwa siapapun yang tak memiliki kepercayaan dan ideologi yang tidak sama dengan dengan dirinya adalah keolompok yang salah.  

Virus bigot yang terlahir dari hasil interpolasi ideologi, agama dan politik paling tidak akan melahirkan dua tipe dasar konflik yakni yang bersifat realistic dan non-realisik. Konflik pertama bersumber dari hal yang kongkit atau material, seperti perbutan jabatan kepemimpinan dan kursi kekuasaan. Dan konflik yang kedua dibersumber keinginan yang tidak rasional dan bersifat ideologis.
 
Konflik pertama biasanya akan segera mereda dan teratasi dengan baik melalui koridor hukum atau penyelesaian antarpersonal. Sedangkan konflik kedua biasanya melahirkan luka yang panjang dan mendalam, serta cenderung sulit penyelesaiannya karena harus merajut ulang konsensus dan perdamaian. Konflik kedua ini biasanya dipicu oleh persoalan SARA.  
 
Ruang publik berbasis cybermedia seharusnya menjadi media demokrasi yang menepatkan masyarakatnya (netizen) sebagai personal yang memiliki persamaan hak dalam menyampaikan pendapat dan gagasannya. Namun seorang netizen haruslah memiliki kesadaran Civic Responsibility yang baik dan tidak terjangkit virus-virus bigot. Sehingga melahirkan tatanan masyarakat yang tidak paradok. Di satu sisi, pelayanan teknologi informasi semakin tinggi namun di sisi lain moral masyarakatnya (netizen) semakin tidak terpuji. Dan pada akhirnya, cybermedia alih-alih menciptakan masyarakat Cyberdemocracy malah  melahirkan masyarakat Cyber Human crazy.

Oleh: Rohendi M.I.Kom.M.A,M.Ud
Ketua Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam STAI DR.KHEZ.Muttaqien Purwakarta. 

      
 

Komentar Pembaca
Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Arus Mudik di ASDP Merak
Pelantikan Kasal

Pelantikan Kasal

KAMIS, 24 MEI 2018 , 02:02:00

Kritik Pengesahan RUU Terorisme

Kritik Pengesahan RUU Terorisme

SABTU, 26 MEI 2018 , 06:01:00