Lebaran Rasa Pilkada Jabar

Opini  RABU, 13 JUNI 2018 , 19:18:00 WIB

Lebaran Rasa Pilkada Jabar

Muhtar S. Syihabuddin

SATU malam saya dibangunkan secara tidak sengaja oleh bunyi cellular. Pas dibuka isinya sapaan dari seorang pasangan kandidat cagub dan cawagub Jabar, seraya mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tidak lupa mengucapkan "mohon maaf lahir dan bathin".
 
Cara canggih kampanye digital ini dikenal dengan sms broadcast yang secara otomatis dikirimkan pada jutaan nomor yang telah disiapkan. Isinya sama persis, maaf, mirip dengan sms dapat hadiah jutaan rupiah berdasarkan nomor provider tertentu. 
 
Saya pernah menerima sms broadcast waktu awal-awal pelaksanaan Pilkada dari tim pemengan kandidat. Langkah pertama, hanya mengenalkan diri. Bedanya ada intensitas selanjutnya dengan isi pesan yang ditingkatkan berupa ajakan untuk memilih satu pasangan, manawarkan program yang sekiranya lebih unggul dari kandidat lain. Tentu saja dengan tidak menyertakan unsur menjelekkan apalagi menjatuhkan lawan kontestasi.
 
Cara seperti ini bisa jadi menyasar Anda ketika sedang iseng-iseng melihat pesan tidak dikenal. Pasti Anda akan merasakan hal biasa saja, menyimak dengan seksama atau malah membuangnya seketika. Sambil berguman dalam benak Anda, "aya-aya wae" (ada-ada ajja) cara untuk merayu hati para pemilih.
 
Lebaran kali ini memang lebaran rasa pilkada. Sebuah memontum yang sedianya kita mengembalikan diri pada sesuatu yang asal dan suci setelah berpuasa. Tapi sedikit ada warna politik kepentingan mengajak untuk memilih salah satu calon pasangan Pilkada.
 
Memang jarak antara lebaran dan Pilkada serentak 2018 tidak jauh lagi; idul fitri direncakan jatuh pada 16 Juni 2018 dan Pilkada 2018 jatuh pada tanggal 27 Juni 2018. Waktu yang mepet ini menjadi jarak emas bagi kandidat untuk mengenalkan diri, program hingga mengajak untuk memilih dirinya.
 
Secara pribadi saya tidak keberatan, mengingat tidak ada efek merugikan seperti penipuan sms pada umumnya. Toh detik itu juga bisa saya hapus seketika dalam memori cellular saya. Karena saya tidak merasa ada kerugian apa pun, maka langkah sederhana menghapusnya.
 
Namun, saya punya catatan tersendiri dari cara seperti ini. Apakah akan efektif menggiring penerima pesan ini untuk memilih kandidat tertentu?, itu yang pertama. Kedua, apakah penentuan nomor bisa tepat sasaran sesuai tempat tinggal tertentu?. Dan ketiga sejauhmana biaya yang dikeluarkan efektif menghasilkan daya gerak memilih pada penerima pesan?
 
Pola komunikasi satu arah yang hadir karena sms broadcast ini mengandung kelemahan mendasar. Penerima pesan dibiarkan mencerna informasi yang disampaikan, tanpa ada proses dialektis antara pengirim pesan dan penerima pesan. 
 
Membiarkan penerima pesan mencari motivasi tertentu akan membuat isi pesan menjadi hambar. Dan jika melakukan langkah lanjutan tidak produktif, bisa jadi akan merugikan motivasi pengirim pesan itu sendiri. Berharap dikenal tapi malah dicuekin bahkan tidak mustahil mendapat cibiran. 
 
Pola ini sangat kontras dengan pergerakan mempengaruhi lawan dan memperlakukan kawan dalam manajemen pemenangan kandidat dalam kontestasi politik mutakhir. Kawan dan lawan sedianya disediakan ruang lebar untuk menyerap informasi, yang juga bisa mempertanyakan langsung materinya dan jika mungkin mengkritik plus memberikan solusi baru atas materi yang disampaikannya.
 
Boleh jadi maksud pengirim pesan membentur ruang hampa. Seperti kebanyakan orang yang sudah terbiasa menerima sms broadcast tersebut. Sementara biaya yang dikeluarkan, meski tidak lebih besar dari cara langsung tatap muka dengan pemilih, tidak ada efek elektoral bagi kandidat. 
 
Hingar bingar dalam demokrasi digital memang pernah melahirkan efek bola salju bagi kelahiran pemilih fanatik (strong voter). Tapi dalam praktiknya, bukan dengan cara sekali kirim terus dibiarkan tanpa arah. Menyerahkan sepenuhnya pada animo penerima pesan. Boleh jadi mereka malah menjadi antipati, selain mereka menghapus pesan seketika juga menyebarkan berita pada yang lain tentang tidak kreatifnya cara kampanye.
 
Saya kira, kampanyae adalah produk kreatifitas yang menekankan unsur keberbedaan dan posisi yang mana bagi penerima produk itu akan lahir efek positif. Penerima pesan mendapatkan kesan pertama begitu menggoda yang selanjutnya memperkuat daya minat atas prodak yang dia terima.
 
Sangat memungkinkan bagi seorang kandidat untuk melakukan kampanye dengan sangat efektif dan tepat arah. Jangan sampai tergoda menjadi populer dengan cara yang tidak ada efek elektoral bagi dirinya. Karena mengajak orang itu punya cara tepat dan terukur.
 
Ada istilahnya, unik dan inspiratif. Kalau cara yang dilakukan biasa saja, apalagi yang sudah banyak dilakukan, tidak akan menghasilkan efek elektoral berarti. Malah akan membuang waktu emas meyakinkan pemilih pada menit terakhir jelang pemilukada.
 
Saya kurang tahu persis motivasi kandidat dengan mengirim sms broadsact tersebut. Coba saja cerna informasi satu arah di tengah waktu genting menentukan pilihan pada 27 juni nanti. Apalah arti sebuah sms broadcast ketika jutaan pemilih menantikan sesuatu yang sederhana tapi mengena.
 
Dalam dunia serba cepat ini, setiap orang bisa melakukan banyak hal untuk mengenal siapa yang akan dipilih. Pemilih bisa berselancar memilah dan memilih, bukan hanya siapa yang menjadi kandidat resmi. Bahkan, maaf saja, informasi paling seksi berupa upaya saling menjatuhkan antara para kandidat.
 
Sms broadsast memang tidak ada risiko legal untuk bisa kita tuntut penyebarnya. Tidak ada unsur melakukan perbuatan melanggar ketentun UU IT. Bahkan menjadi hiburan yang menggelikan di tengah kegundahan para kandidat jelang pemilihan.
 
Tapi, sekali lagi tidak efektif. Apalagi kontennya tentang lebaran yang sedianya steril dari hal yang di luar kepentingan makna idul fitri itu sendiri. Lebaran dan pilkada memang tidak jauh waktunya, tapi bukan berarti bisa begitu saja dijadikan alat kampanye.
 
Tapi boleh jadi sangat efektif jika dilakukan secera proporsional. Semisal dengan memperlebar ruang informasinya dengan membeberkan program yang akan dilakukan, agar penerima pesan bisa mendapat manfaatnya. Atau memperkuat dengan model sayambara lanjutan yang berkesan bagi setiap pemenang, yang pada gilirannya melahirkan apresiasi terukur untuk menaikkan tingkat elektabilitas.
 
Tentu saja dengan memilah siapa yang menerima pesannya sesuai tempatnya di TPS kelak. Kalau asal mencomot nomor tanpa memperhatikan tingkat domisili, tidak ada gunanya membayangkan penerima pesan akan mempengaruhi teman dan atau koleganya seusai tempat tinggalnya.
 
Penentuan tema dan siapa yang menerima menjadi penting, karena pilkada adalah pertaruhan program sesusai asas personalitas tempat tinggalnya. Jangan sampai salah kamar dan konten kamapanye. Itu bisa sangat fatal akibatnya, mubadzir karena buang waktu dan biaya.
 
Tapi boleh jadi kandidat pengirim sms broadcast itu berharap ada kepentingan lintas tempat. Yang pada akhirnya akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung atas kepentingan memenangkan jagoannya.
 
Ini berdasar pada pengalaman di Pilkada DKI Jakarta yang sempat melahirkan efek bola salju dengan cara umpan lambung. Satu isu itu di lempar jauh ke atas, ke kiri dan ke kanan menjangkau wilayah luar DKI. Hasilnya, luar biasa efektif memenangkan satu kandidat.
 
Sampai lahir gerakan tamasya Almaidah yang menyerbu ribuan TPS. Bukan hanya merawat pemilih fanatik, bahkan melahirkan pemilih dadakan yang sangat menguntungkan bagi satu kandidat. Ini terbukti sampai akhirnya, Anies-Sandi terpilih. 
 
Kemenangan Anies-Sandi adalah kejelian, ketekunan sekaligus melempar umpan lambung bagi striker. Ketika waktu dan tempat sudah berpihak, tendangannya sukar ditangkal penjaga gawang. Bahkan banyak hakim garis yang mengawasi dari intrik pemain lawan. Goal indah mempesona bagi.
 
Akhirnya para kandidat pilkada 2018 mendedikasikan diri untuk meraih keuntungan dari umpan lambung. Tapi mereka belum berhasil menendang bola dan kepada siapa diarahkan. Hanya indah terlihat ketika bola berada di tengah lapangan, tapi tidak bisa memberi peluang goal.
 
Karena perlu dicermati, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi hasil dramatis Pilkada DKI Jakarta. Semisal kekeliruan cara kurang simpati kandidat tertentu dengan mengumbar ajakan yang bersifat pemberian materi yang sempat terekam oleh media cetak dan elektronik waktu itu.
 
Belum lagi soal pilkada rasa pilpres yang melahirkan solidaritas kuat untuk memenangkan satu kandidat. Dan tentu saja DKI Jakarta sangat berbeda seksi dari wilayah lain di tanah air, sebagai ibu kota negara dengan segala konsekuensinya setelah memagang kekuasaan.
 
Sementara lebaran rasa Pilkada Jabar” tidak mungkin disamakan dengan peristiwa di DKI Jakarta. Selain kadarnya juga berbeda, jarak tempuhnya sangat pendek pada Pilkada 2018. Tidak akan menghasilkan gerakan bola indah yang terorganisasi secara rapih dan serempak.
 
Memang lebaran milik semua orang muslim dari manapun dia berasal. Tapi ini tidak ada kaitannya dengan simpati pada keinginan memilih seorang dalam Pilkada. Tidak ada peristiwa unik dan inspiratif lebaran 2018 dengan momentum untuk memilih kandidat Pilkada Jabar.
 
Lebaran 2018 nyaris tidak terdengar” karena layanan infrastruktur yang memadai. Tidak ada peristiwa mudik yang dramatis yang kemudian bisa dikaitkan dengan motivasi memilih dalam Pilkada. Ia adalah milik tiap individu secara sempurna, karena tidak ada aspek luar yang bisa dikapitalisasi untuk meningkatkan posisi elektoral seorang kandidat.
 
Walhasil, jika Anda menerima sms broadcast tersebut, sebaiknya membaca secara seksama. Boleh jadi sangat bermanfaat, tapi jangan kecewa karena tidak ada hadiah yang dijanjikan. Karena isinya seperti pada umumnya ucapan memuliakan idul fitri.

Penulis: Muhtar S. Syihabuddin
Peneliti Senior RMPolitika  



Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.159): Anies Terlalu Lama Sendiri
Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Tanjung Balai

Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Tanjung Balai

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 15:00:00

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 17:00:00