Jika Pilih Gatot, Prabowo Mudah Dipatahkan Dengan Isu Militer

Politik  KAMIS, 12 JULI 2018 , 04:04:00 WIB

Jika Pilih Gatot, Prabowo Mudah Dipatahkan Dengan Isu Militer
RMOLJabar. Duet Prabowo Subianto-Gatot Nurmantyo dianggap penantang terberat Joko Widodo di Pilpres 2009, berdasarkan hasil jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

Namun melihat latar belakang keduanya yang sama-sama berasal dari militer, duet Jenderal ini diprediksi menemui jalan terjal.

"Itu akan mudah dilawan oleh siapa pun nanti pesaingnya. Akan muncul isu militer, bahkan bisa diisukan militerisasi. Jadi saya pikir pemasangan ini sangat tidak produktif untuk bertarung di 2019," kata pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, Rabu (11/7).

"Karena itu saya sarankan tim perancang dari koalisi Prabowo untuk lebih hati-hati dalam memilih calon wakil presiden, walaupun itu hasil survei," imbuhnya.

LSI Denny JA kemarin merilis hasil survei tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden penantang Jokowi dengan simulasi tiga nama calon presiden yaitu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Dalam simulasi capres Prabowo, elektabilitas tertinggi mantan Danjen Kopassus itu tercapai jika didampingi Gatot Nurmantyo. Pasangan ini mampu mendapatkan elektabilitas 35,6 persen. Jika dipasangkan dengan Anies Baswedan, elektabilitasnya di angka 19,6 persen.

Emrus menjelaskan, hasil survei LSI tidak bisa dijadikan tolok ukur mutlak, sebab hal itu adalah potret sesaat. Selain itu, tingkat elektabilitas Prabowo-Gatot di angka 35 persen masih rawan untuk bisa dijadikan dasar pasangan itu maju di Pilpres mendatang.

"Rawan dalam pengertian belum aman. Secara statistik, baru itu aman bila sudah di kisaran 70 persen. Artinya andainya elektabilitas Prabowo-GN mencapai 70 persen dibandingkan dengan simulasi calon lain, baru kita katakan sebagai penantang yang kuat bagi Jokowi. Sedangkan Pak Jokowi yang kurang dari 50 persen, bagaimana yang 35 persen," jelasnya.

Dari sisi partai pendukung, Emrus menambahkan, duet Prabowo-Gatot juga sulit tercapai. Meski Prabowo sudah pasti bakal didukung penuh Partai Gerindra, Gatot bukan berasal dari kalangan partai politik. Situasi ini otomatis akan memperlebar potensi konflik di kalangan partai koalisi Gerindra.

"Kan Gerindra belum memadai jumlah suara. Nah partai mana yang mau mendukung Prabowo-Gatot. PKS misalnya mewacanakan akan mengusung Anies atau sembilan kadernya yang diajukan. Artinya kan belum full. PAN juga kita ragukan juga karena Amien Rais mengajukan diri untuk menjadi calon," kata Emrus.

Belum lagi jika PAN malah merapat ke Jokowi, karena hingga saat ini masih ada kader PAN yang duduk di kabinet Jokowi. Kalau Zulkifli Hasan kelihatannya masih lebih dekat ke Jokowi karena masih ada interaksi politik. Karena di situ ada menterinya,” sambungnya.

Sementara Partai Demokrat, menurut Emrus, juga kecil kemungkinan mendukung Prabowo-Gatot karena ada AHY, di samping AHY juga sulit dipasangkan dengan Prabowo karena sama-sama militer.

"Sehingga komunikasi politik yang dibangun akan membutuhkan energi yang luar biasa, untuk medapatkan dukungan dari partai politik. Karena partai politik, pasti bicara politik, politik pasti bicara kepentingan, berarti saya melakukan apa saya dapat apa," ujarnya.

Emrus berpendapat, siapa pun layak menjadi pendamping Prabowo. Tidak harus berasal dari kalangan atau profesi tertentu, seperti ekonom, ilmuwan, teknokrat, atau santri.

"Karena Prabowo belum pernah jadi Presiden. Kita belum tahu titik lemah beliau dalam hal apa dalam memimpin. Berbeda misalnya beliau sudah pernah memimpin, titik lemahnya di bidang ekonomi misalnya kemudian di periode berikutnya butuh pasangan ekonom," ujarnya.

Yang terpenting, dia menegaskna, Prabowo harus berpasangan dengan figur yang bisa mendongkrak elektabilitasnya di Pilpres. Sebab dia akan bertarung dengan Jokowi yang memiliki elektabilitas jauih di atasnya.

"Jadi sekali lagi tim Prabowo harus lebih seriuslah mengkaji segala plus minus sehingga bisa memilih calon wakil yang terbaik dari yang ada. Butuh pengkajian yang mendalam dan komprehensif," paparnya seperti diberitkan Kantor Berita Politik RMOL. [gun]

Komentar Pembaca
Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

SENIN, 29 OKTOBER 2018 , 23:07:00

TNI Bantu Angkut Panel Risha Percepat Pembangunan Rumah Warga Di NTB