Refleksi Hari Tani Nasional 2018, Puluhan Mahasiswa Unswagati Cirebon Unjuk Rasa

Peristiwa  SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 14:47:00 WIB | LAPORAN: AHYARUDDIN ASEP

Refleksi Hari Tani Nasional 2018, Puluhan Mahasiswa Unswagati Cirebon Unjuk Rasa

Foto/RMOLJabar

RMOLJabar. Puluhan mahasiswa Universitas Gunung Jati (Unswagati) Cirebon unjuk rasa menuntut pemerintah agar menghentikan impor luar negeri. Mereka berkumpul di Area Depan kampus menuju gedung DPRD Kota Cirebon, Senin (24/9).

Dalam keterangan tertulisnya, juru bicara aksi Gojali mengatakan, Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September, merupakan hari peringatan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada tahun 1960, yang menjadi titik penting sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan kepemilikan atas tanah serta keberlanjutan masa depan agraria di Indonesia.

Sampai sekarang, ternyata nasib kaum tani tak kunjung membaik. Kemiskinan di pedesaan semakin luas, ketimpangan kepemilikan dan penguasaan tanah semakin tajam, bahkan disertai konflik agraria yang tak kunjung diselesaikan. Para petani dipaksa menjual tanahnya untuk kepentingan para korporasi dengan harga yang tidak sesuai dengan UU no. 02 tahun 2012 (UU tentang pengadaan tanah).

"Undang-Undang tersebut kerap disalahgunakan oleh korporasi untuk kepentingan segelintir orang dengan dalih 'Kepentingan Umum' hingga tidak segan menyingkirkan manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkan," ungkap Gojali.

Mahasiswa asal Fakultas Pertanian semester 5 ini menyebutkan, berdasarkan data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) tahun 2017, terlihat dari jumlah konflik agraria selalu meningkat dari waktu ke waktu.

"Tahun ini terdapat 659 kejadian konflik agraria dengan luasan 520.491,87 ha lahan dan melibatkan sebanyak 652.738 KK," papar Gojali

Menurutnya, dari semua faktor yang dimonitor, perkebunan masih menempati posisi pertama. Sebanyak 208 konflik agraria telah terjadi di sektor ini sepanjang 2017 atau 32 persen dari seluruh jumlah kejadian konflik.

Kemudian, sektor properti menempati posisi kedua dengan 199 (30%) jumlah kejadian konflik. Posisi ketiga, ditempati sektor infrastruktur dengan 94 konflik (14%), disusul sektor pertanian dengan 78 (12%) kejadian konflik.

Seterusnya, sektor kehutanan dengan jumlah 30 (5%) konflik, sektor pesisir dan kelautan sebanyak 28 (4%) konflik, dan 3% kejadian konflik yang terjadi sepanjang 2017.

"Dengan begitu, selama 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK (2015-2017), telah terjadi sebanyak 1.361 letusan konflik agraria," sebutnya.

Ia menambahkan, kondisi makin mencekik petani melihat beberapa bulan terakhir kebijakan impor bahan pangan dengan jumlah besar membuat harga bahan pangan menjadi tidak stabil yang membuat luka-luka para petani semakin dalam.

"Oleh karena itu melihat ketidakadilan kepada para petani di negeri ini, kami mahasiswa pertanian Unswagati Cirebon menuntut. Pertama, tegakkan reforma agraria sejati sesuai dengan UUPA 1960. Kedua, selesaikan konflik yang merampas hak hidup warga negara. Ketiga, Stop impor bahan pangan. Keempat, berantas mafia tanah dan pangan. Dan terakhir, stop diskriminasi terhadap petani," tandasnya. [ald]

Komentar Pembaca
4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Oded Buka Road Show Senam 2018

Oded Buka Road Show Senam 2018

SENIN, 26 NOVEMBER 2018 , 09:21:00

Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

SABTU, 01 DESEMBER 2018 , 09:50:00