Sepakbola, Solidaritas Kemanusiaan Dan Keindonesiaan

Politik  SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 18:36:00 WIB | LAPORAN: ALDI FERDIAN

Sepakbola, Solidaritas Kemanusiaan Dan Keindonesiaan

Reza Arfah/Ist

RMOLJabar. Sepakbola Indonesia kembali berduka. Haringga Sirila harus meregang nyawa di tangan oknum suporter yang biadab. Beredar sebuah video yang merekam kejadian tersebut. Terlihat Haringga dikeroyok sampai berdarah-darah dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Sekretaris DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Barat Reza Arfah mengatakan, banyak pihak mengecam peristiwa tersebut, mulai dari pejabat sampai dengan warganet. Peristiwa itu segera menjadi trending topic di linimasa warganet.

"Perilaku kekerasan tersebut memang harus dikutuk sekeras-kerasnya. Citra sepakbola tanah air dan klub Persib menjadi tercoreng oleh ulah oknum suporternya," kata Reza kepada RMOLJabar, Senin (24/9).

Menurutnya, PSSI sebagai yang mempunyai otoritas resmi dalam persepakbolaan di Indonesia mesti mengambil sikap. Jika melihat perhelatan sepakbola di negara maju, kompetisi dapat dihentikan manakala timbul korban jiwa pada satu pertandingan. Sanksi pun diberikan kepada klub yang supporternya melakukan tindakan tidak sportif.

Kemudian, kata Reza, sepakbola sejatinya menjadi sarana pembentukan karakter bagi official, pemain, supporter maupun penikmatnya. Dalam sepak bola sesungguhnya diajarkan sportifitas, persaingan sehat dan juga kebugaran. Termasuk di dalamnya supporter yang juga harus memiliki jiwa sportif, siap menang dan siap kalah, tenggang rasa terhadap sesama.

"Pertanyaan yang muncul adalah ada apa dengan masyarakat kita yang telah melahirkan karakter suporter yang barbar? Apakah memang budaya kekerasan telah begitu mengakar dalam masyarakat?," ucap Reza.

Dia menuturkan, tragedi Haringga menjadi salah satu indikator bahwa sebagian masyarakat masih menghalalkan kekerasan. Oknum masyarakat menganggap kekerasan adalah cara yang sah untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

Dalam video yang beredar, terlihat ada beberapa pihak di TKP, pertama adalah para pelaku yang memukuli dan mengeroyok Haringga. Kedua, para provokator yang berteriak-teriak menyemangati si pelaku. Ketiga, para penonton yang diam saja dan hanya menyaksikan tragedi tersebut.

Guna menghentikan budaya kekerasan, imbuhnya, mayoritas masyarakat tidak boleh memilih diam menyaksikan provokasi dan perilaku kekerasan. Seharusnya masyarakat bergerak mencegah provokasi dan perilaku kekerasan.

"Jika itu dilakukan maka kekerasan akan bisa dicegah. Seperti kata pepatah kejahatan bukan terjadi karena perilaku orang jahat, namun karena diamnya orang baik," ucap Reza.

Selain itu, lanjutnya, cara menghentikan kekerasan dalam suporter sepakbola adalah dengan menghilangkan fanatisme buta. Dukungan terhadap klub kegemarannya hendaknya diekspresikan dengan hal-hal yang positif. Sikap mendukung klub kesayangan juga jangan diiringi dengan kebencian terhadap klub lain. Rivalitas antar klub bukanlah alasan untuk saling membenci.

"Di luar rivalitas yang tak mungkin dihindarkan antar klub sepakbola, perlu ditanamkan rasa solidaritas bahwa kita tetaplah satu bangsa. Cara pandang sektarian dalam sepakbola harus dihilangkan. Keragaman klub yang berkompetisi adalah kekayaan, bukan untuk mengkotak-kotakan apalagi menimbulkan perpecahan," pungkas Reza. [ald]

Komentar Pembaca
4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Oded Buka Road Show Senam 2018

Oded Buka Road Show Senam 2018

SENIN, 26 NOVEMBER 2018 , 09:21:00

Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

SABTU, 01 DESEMBER 2018 , 09:50:00