Buah Simalakama Zero KJA Jatiluhur

Ragam  JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 17:46:00 WIB | LAPORAN: YUSLIPAR

Buah Simalakama Zero KJA Jatiluhur

KJA Jatiluhur/RMOLJabar

RMOLJabar. Polemik keberadaan Keramba jaring apung (KJA) yang ada di perairan Waduk Ir Djuanda (Jatiluhur), seakan tak ada habisnya. Apalagi, jika menelisik lebih jauh soal dampak negatif dari kegiatan budidaya ikan tersebut.

Namun demikian, disisi lain akan ada dampak lain yang akan muncul jika KJA ini dihilangkan. Yakni, hilangnya mata pencaharian masyarakat yang selama ini bergantung pada usaha budidaya ini. Artinya, persoalan penertiban KJA ini bak makan buah simalakama. Dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu.

PJT II Jatiluhur, sebagai pengelola waduk buatan terbesar itu tetap 'Keukeuh' dengan pendiriannya, yakni ingin menertibkan KJA yang ada di perairan tersebut. Mengingat, selama ini keberadaan budidaya ikan itu dianggap sebagai biang kerok menurunnya kualitas air di danau tersebut.

Pihak pengelola pun beranggapan, jika KJA dibiarkan tetap berada di Jatiluhur, maka sampai kapan pun di waduk tersebut akan timbul permasalahan yang tak akan terselesaikan.

Memang, jika melihat dampak dari pencemaran ini jelas masyarakat yang ada di wilayah hilir lah yang lebih dirugikan. Karena, selama ini sekitar 80 persen air dari Waduk Jatiluhur itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku dan pesawahan ke wilayah hilir. Di antaranya, Karawang dan Jakarta.


Beberapa waktu lalu, Dirut PJT II Jatiluhur, Joko Saputro juga menyadari bakal ada potensi besar jika KJA ini di zerokan. Karena, dipastikan banyak yang tidak terima dan merasa terganggu. Tapi, kata dia saat itu, ada satu hal yang harus di ingat, pengosongan KJA ini merupakan kepentingan nasional dan sudah menjadi keputusan pemerintah pusat.

"Ini sudah jadi keputusan pusat. Karena dari sisi lingkungan pun tidak sehat," ujar Djoko kepada awak media, belum lama ini.

Namun demikian, kata dia, baik ada penolakan ataupun tidak budidaya ikan dengan cara ini akan dihilangkan. Sebab, ada sejumlah alasan kenapa budidaya ini dilarang. Salah satunya, karena budidaya KJA ini, lingkungan Waduk Jatiluhur tercemar berat.

Pencemaran ini, disebabkan pengendapan dan sedimentasi dari pakan ikan. Limbah pakan itu mengandung sejumlah unsur kimia, yang sifatnya korosif. Sehingga, berpotensi merusak konstruksi bendungan Waduk Jatiluhur.

Menurut dia, saat ini tingkat keasaman air di waduk terbesar di Indonesia itu sudah sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut, jelas menjadi ancaman tersendiri bagi waduk tersebut.

Sehingga, salah satu dampak terparah dari semakin asamnya kadar air di waduk buatan ini, yakni bisa menyebabkan korosi pada kontruksi bendungan. Dengan begitu, PJT II Jatiluhur sudaj harus segera melakukan langkah-langkah strategis untuk meminimalisasi resiko yang bisa mengancam keberadaan bendungan tersebut.

"Memang, perlu ada langkah strategis yang harus segera dilakukan. Salah satunya, dengan mengosongkan KJA yang masih ada di perairan Jatiluhur," kata dia.

Kedua Pihak Keukeuh

Di sisi lain, para pembudidaya justru menolak jika selama ini keberadaan KJA dituding jadi penyebab menurunnya kualitas air di Jatiluhur. Menurut mereka, penertiban ini merupakan bentuk pendzoliman terhadap para pembudidaya.

"Kalau PJT II dan pemerintah 'keukeuh' mau menertibkan kami, ya kami juga akan melakukan hal sama. Kami akan tetap bertahan," ujar Ketua Paguyuban Pembudidaya Ikan KJA Jatiluhur, Yana Setiawan.

Menurut dia, rencana penertiban ini menimbulkan keresahan di kalangan pembududaya. Karena, kata dia, jika KJA ditertibkan masyarakat di sekitar tak akan bisa lagi menjalankan usaha perikanan di Jatiluhur.

"Kalau ditertibkan, secara otomatis akan banyak pembudidaya yang kehilangan mata pencaharian. Dengan begitu, akan banyak pengangguran baru," jelas dia.

Apalagi, kata dia, selama ini banyak masyarakat di sekitar Jatiluhur yang menggantungkan hidup dari usaha budidaya ikan di waduk tersebut. Kalau tempat usaha mereka ini ditertibkan, menurut dia, bagaimana nasib mereka nantinya. "Kami sudah bertahun-tahun cari rezeki di sini," katanya. [yud]



Komentar Pembaca
Darmin Tak Sejalan Dengan Jokowi

Darmin Tak Sejalan Dengan Jokowi

RABU, 21 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Maroko Luncurkan Satelit Mohammed VI-B

Maroko Luncurkan Satelit Mohammed VI-B

RABU, 21 NOVEMBER 2018 , 13:00:00

Pembantaian Keluarga Nainggolan Diperagakan

Pembantaian Keluarga Nainggolan Diperagakan

SENIN, 19 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

Intervensi Media Dalam Pilpres 2019

SENIN, 29 OKTOBER 2018 , 23:07:00

TNI Bantu Angkut Panel Risha Percepat Pembangunan Rumah Warga Di NTB