Bangkitkan Kehidupan Di Pelosok Tasikmalaya

Sosial  KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 , 02:15:00 WIB | LAPORAN: ALDI FERDIAN

Bangkitkan Kehidupan Di Pelosok Tasikmalaya

Foto/RMOLJabar

RMOLJabar. Pelataran Sekretariat Lumbung Ternak Masyarakat-Aksi Cepat Tanggap (LTM-ACT) di Desa Culamega, Tasikmalaya, telah ramai oleh relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Mereka dengan sigap memenuhi bak pickup dengan berbagai barang untuk korban banjir di Tasikmalaya.

Minggu (11/11), ACT mendistribusikan logistik ke Kampung Cikondang, Desa Bojongsari, Culamega, Tasikmalaya.

Setelah bak mobil dobel kabin itu terisi penuh, tim segera bergegas beranjak menuju Cikondang. Pagi itu cerah, tak ada awan hitam sama sekali yang menggumpal di atas tanah Tasikmalaya bagian selatan itu.

Hijaunya pohon di seluruh wilayah Culamega menjadi penyejuk mata, mengurangi teriknya matahari.
Butuh waktu lebih kurang satu jam perjalanan untuk sampai di kampung paling ujung di Bojongsari itu. Mode 4 WD digunakan saat tanjakan curam. Jika tidak, bisa saja mobil tak kuat menanjak. Jalur sepanjang perjalanan berupa jurang yang di bawahnya terdapat sungai dengan air deras, juga tebing yang di beberapa titiknya mengalami longsor.

Perjalanan terhambat, kendaraan roda empat tak bisa masuk sampai ke titik pengungsian Kampung Cikondang. Perjalanan perlu ditempuh dengan dua unit motor beroda khusus, warga di sana biasa memodifikasinya dengan rantai. Tak lama, sisi kiri, kanan, dan belakang motor diberi palang kayu, layaknya tempat duduk. Namun, bukan untuk mengangkut manusia, tapi logistik bantuan untuk pengungsi di Cikondang.

Dengan perhitungan keseimbangan, barang diletakkan di tempat yang telah disediakan di atas motor. Beras, air mineral, dan logistik lainnya disusun rapi agar tak mengganggu selama perjalanan. Persiapan itu memakan waktu 30 menit, sebelum motor siap jalan.

Suara knalpot khas motor RX-King terdengar garang. Kepulan asap putih mengepul saat motor perlahan berjalan. Suaranya makin kencang, terlebih ketika mengambil ancang-ancang ditanamkan.

Tim ACT turut mengawal motor yang membawa logistik itu untuk alasan keselamatan. Hal tersebut mengingat medan yang berat serta cuaca yang semakin lama tidak bersahabat. Mendung kembali menjadi teman perjalanan, tapi beruntung hujan tak turun sebelum tim sampai di tujuan, yakni Kampung Cikondang, kampung tertinggi di Bojongsari.

Dari jauh, tenda biru terlihat di tanah landai. Undakan terasering di sekelilingnya terlihat memanjakan mata. Kita ke sana nanti,” kata salah satu relawan ACT Fikri, Ahad (11/11).

Memang, dari jauh tenda biru yang merupakan titik pengungsian warga Cikondang yang terdampak banjir bandang dan longsor terlihat dekat. Akan tetapi, perjalanan menempuh lebih dari 40 menit. ACT harus melewati beberapa sisa longsoran besar, bahkan jembatan yang putus akibat diterjang banjir pada Selasa (6/11) lalu itu.

Dengan hati-hati, motor melewati jembatan darurat dari bambu sebagai pengganti jembatan yang telah hancur. Gemuruh air sungai yang turun dari atas layaknya curug seakan menyemangati untuk segera menyeberang.

Ini dulu jembatan bisa buat mobil lewat, tapi sudah hancur terhantam banjir bandang itu,” tambah Fikri yang juga menjadi tim penyelamat ACT untuk membuka jalur longsor Tasikmalaya.

Tak lama, jalan menanjak curam menjadi tantangan. Gerung motor semakin terdengar keras, juga kepulan asap putih yang memedihkan mata. Namun, setelahnya kami telah tiba di pusat pengungsian Cikondang.
Udara sejuk terasa menyegarkan, pegunungan hijau terhampar sejauh mata memandang. Akan tetapi, terdapat beberapa bagian gunung yang terlihat cokelat.

Kalau itu bagian gunung yang longsor,” ungkap salah satu pengungsi Deni Lestari.

Deni juga merupakan salah satu anggota karang taruna Cikondang. Ia menjelaskan, di Cikondang ada dua orang meninggal dunia akibat terseret banjir. Seorang anak kecil ditemukan di dalam rumahnya, sedangkan seorang lainnya ialah ibu yang terseret banjir dan jenazahnya ditemukan di Pantai Cipatujah keesokan harinya.

Akses ke kampung ini memang susah, hanya ada satu jalan dan sekarang tertutup longsor,” tutur Deni.

Di Cikondang, warga yang rumahnya hancur memilih mengungsi di sawah yang ada di kampung ini. Udara dingin dan hujan saat malam menjadi teman pengungsi yang berlindung di bawah tenda terpal. Air bersih dan listrik pun belum pulih.

Kami mengandalkan genset untuk listrik, kalau air paling kami coba cari mata air di sekitar sawah,” tambah Deni.

Hari itu, selain membawa logistik makanan, ACT turut membawa genset untuk keperluan listrik warga. Sementara itu, Senin (12/11) tim ACT kembali ke Cikondang untuk mendirikan dapur umum untuk warga sekitar. Selain itu juga membawa tim dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk melihat kondisi kesehatan pengungsi.

Sebelumnya, Sabtu (10/11) ACT juga berhasil menembus daerah pedalaman Tasikmalaya lainnya, yaitu Kampung Situjaya yang juga masih satu desa dengan Cikondang. Di sana tim ACT harus melewati longsoran besar yang menimbun pemukiman warga. Logistik yang dibawa tak semuanya diangkut dengan motor, namun sebagian harus dibawa dengan berjalan kaki tak kurang 30 menit karena keterbatasan kendaraan. [yud]

Komentar Pembaca
Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Oded Buka Road Show Senam 2018

Oded Buka Road Show Senam 2018

SENIN, 26 NOVEMBER 2018 , 09:21:00

Belajar Wayang

Belajar Wayang

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 19:22:00

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

Oded: Komunikasi Kunci Keberhasilan Pembangunan

SABTU, 01 DESEMBER 2018 , 09:50:00