Perlu Penelitian Dan Kajian Sukabumi Layak Jadi Kota Santri

Pemerintahan  RABU, 21 NOVEMBER 2018 , 21:09:00 WIB | LAPORAN:

Perlu Penelitian Dan Kajian Sukabumi Layak Jadi Kota Santri

Fajar Laksana/RMOLJabar

RMOLJabar. Perlu penelitian dan kajian mendalam secara kualitas serta substantif, terkait layak tidaknya Sukabumi sebagai Kota Santri.

Hal tersebut diutarakan Pimpinan Pondok Pesantren Alfath Fajar Laksana, menanggapi pernyataan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi usai resmikan Tugu Asmaul Husna di Pertigaan Jalan Ahmad Yani, Rabu (21/11).

Fahmi menegaskan, diresmikannya Tugu Asmaul Husna selain sebagai ikon juga pengukuhan Sukabumi yang merupakan Kota Santri.  

"Keberadaan tugu ini sebagai ikon Kota Sukabumi dan menumbuhkan semangat menghafal asmaul husna," ucap Fahmi.

Menurut Fajar Laksana, Sukabumi memiliki banyak pondok pesantren dan sekolah polisi. Sehingga secara historis disebut sebagai kota santri dan polisi. Tapi secara kualitas dan subtantif apakah Sukabumi bisa dikatakan sebagai kota santri, harus melalui penelitian untuk menjawab.

Sebab, makna awal penyebutan kota santri ialah daerah yang banyak pondok pesantrennya. Beberapa daerah yang memiliki sebutan tersebut ialah Jombang, Sukabumi memiliki banyak pondok pesantren.

"Meskipun sampai saat ini sulit menemukan jawaban terkait kriteria kota santri itu sendiri. Parameter atau indikator Kota Santri itu sendiri belum ada ukuran yang pasti," katanya kepada RMOLJabar.

Namun, jelas Fajar, label kota santri tidak hanya disematkan kepada kota yang memiliki banyak pesantren. Harus lebih dari sekadar itu, termasuk merujuk pada karakteristik masyarakat yang sangat kental dengan kegiatan keagamaan.

Bahkan perilaku sosial yang kental dengan nilai-nilai moralitas yang datang dari Pondok Pesantren. Keberadaan pesantren harus memiliki dampak sosiologis terhadap kehidupan masyarakat di kota tersebut.

"Artinya, nilai-nilai pesantren tidak boleh hanya diperuntukkan pada santri yang tinggal di pesantren. Tapi nilai-nilai pesantren haruslah menjadi kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Sehingga tercipta kehidupan sosial yang sarat dengan nilai-nilai kesantrian atau keagamaan yaitu Islam," ungkapnnya.

Kesimpulannya, tegas Fajar, kota Santri lebih bisa disematkan kepada kota yang memiliki banyak pondok pesantren dan nilai-nilai dari ponpes ini bisa berdampak dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di kota tersebut.

"Sehingga bisa dinilai kota tersebut memiliki identitas sebagai kota Santri," pungkasnya.[feb]

Komentar Pembaca