DEEP: Reuni 212 Kental Nuansa Politik

Politik  SELASA, 04 DESEMBER 2018 , 17:12:00 WIB | LAPORAN: RIDWAN ABDUL MALIK

DEEP: Reuni 212 Kental Nuansa Politik

Foto/RMOLJabar

RMOLJabar. Direktur Democracy and Elektoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi menyebutkan, gerakan Reuni 212 pada awalnya memang dibentuk sebagai gerakan politik.

Hal tersebut dikatakannya dalam kegiatan diskusi media yang digagas Democracy and Elektoral Empowerment Partnership (DEEP) bertema "gerakan 212 dan pendidikan politik elektoral".

"Saya melihat sejak awal, gerakan 212 itu kita sama-sama paham dibentuk untuk mengadvokasi ketika terjadi Pilgub di Jakarta, dari awal ini merupakan gerakan politik dan berimplikasi pada banyak hal," ucapnya di Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, Selasa (4/12).

Yus mengungkapkan, gerakan Reuni 212 murni gerakan politik. Hal tersebut dikuatkan dengan hanya mengundang satu pasangan capres-cawapres saja pada kegiatannya.

"Reuni ini kental dengan nuansa politik, hal ini dapat dilihat jelas dengan hanya mengundang satu pasangan capres saja, dan terdapat yel-yel politik dalam gerakan tersebut," ungkapnya.

Menurutnya, gerakan Reuni 212 memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Namun, pendidikan politik kotor yakni politik identitas yang terkenal sebagai cara politik yang dapat memecah belah bangsa.

"Satu sisi sepakat sudah muncul pendidikan politik, tapi di sisi lain ada kekhawatiran bahwa dialektika politik Indonesia diseret dengan politik identitas, dan politik yang tidak mendidik," tuturnya.

Selanjutnya, Yus menambahkan bagaimanapun politik harus dibangun dengan etika dalam berpolitik, kontestasi gagasan.

"Seharusnya pendidikan politik ini memunculkan hal-hal yang memiliki spirit bagi Indonesia ke arah yang lebih baik, tapi liat sekarang banyak politik nyir-nyir dan ini punya relasi dengan politik identitas dan itu terjadi di gerakan 212," pungkasnya. [gan]

Komentar Pembaca