Mesin Parkir Tidak Berfungsi? Program Kerja Populis Untuk Pencitraan, Bukan Untuk Kemaslahatan

Opini  KAMIS, 06 DESEMBER 2018 , 18:00:00 WIB

Mesin Parkir Tidak Berfungsi? Program Kerja Populis Untuk Pencitraan, Bukan Untuk Kemaslahatan

Mesin Parkir Kota Bandung/RMOLJabar

SEBAGAI Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung memiliki berbagai macam fungsi. seperti pusat pemerintahan, pusat bisnis, jasa, pariwisata dan lainnya, sehingga menyebabkan mobilitas yang tinggi. Kondisi tersebut diperlihatkan dengan pengguna kendaraan di Kota Bandung yang semakin meningkat ditambah tingkat kemacetan yang semakin tinggi.

Semakin banyak jumlah kendaraan, dinilai akan menjadi potensi pendapatan daerah, salah satu nya melalui retribusi parkir. Pada tahun 2016 Kota Bandung telah menerapkan sistem parkir dengan metode paperless, dengan harapan parkir di kota bandung dapat terkelola, mengurangi kesemrawutan parkir liar, dan mendapatkan pendapatan daerah dengan metode tersebut.

Menalan biaya sebesar 80 milyar, sistem parkir paperless di Kota Bandung hanya menjadi program gugur kewajiban dan penghamburan anggaran Pemerintah Kota Bandung yang terdahulu. Dua tahun berlalu sejak sistem parkir ini di berlakukan, tidak terlihat nilai yg bertujuan untuk peningkatan pendapatan daerah dari retribusi ini, yang ada hanya pemborosan dan untuk pemenuhan pencitraan semata.

Proyeksi target retribusi yg di dapatkan seharusnya senilai dengan modal awal program yaitu 80 milyar, namun hanya menghasilkan 10-15 milyar pertahun. Banyak faktor yang menyebabkan tidak tercapai, mesin parkir yang rusak dan tidak terurus. Hal tersebut terjadi karena analisa penggunaan mesin parkir  tidak dilakukan secara menyeluruh. Wali Kota Bandung pada saat itu tidak memperhatikan karakteristik dan psikologis masyarakat yang sebenarnya masih banyak yang belum mengerti tentang penggunaan mesin parkir tersebut.

Menurut kami program ini akhirnya hanya menjadi program populis dengan tujuan pencitraan semata, tanpa ada keseriusan pembenahan untuk pencapaian target realisasi dan pemanfaatan potensi retribusi, serta menyelesaikan tata kelola parkir untuk meminimalisir kesemrawutan dan kemacetan di Kota Bandung.

Kota Bandung kini telah berganti kepemimpinan pemerintahan kota, namun tetap tidak ada upaya untuk membenahi sistem parkir tersebut. Apa karena program ini sudah tidak populer lagi sehingga di biarkan begitu saja dan dianggap tidak ada keuntungan dari segi peningkatan popularitas atau memang dahulu nya hanya sebagai program menghambur hamburkan anggaran daerah.

Perlu menjadi catatan bahwa yang digunakan untuk menjalankan program tersebut ialah uang rakyat, dan pada kenyataannya tidak sedikit program lainnya yang bermanfaat namun tidak populer dapat meningkatkan pendapatan daerah.

Harapannya kedepan para pemimpin ini jangan membuat program hanya untuk meningkatkan popularitas saja untuk ingin di puji (riya), tapi perlu adanya kajian yang menyeluruh. Karena ada uang rakjat yang seahrusnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk meningkatkan popularitas pemimpin nya semata.

Oleh: Andre Ariesmansyah, Forum Masyarakat Juara




Komentar Pembaca
Belasungkawa Dan Doa Tragedi 225

Belasungkawa Dan Doa Tragedi 225

JUM'AT, 24 MEI 2019

Rusuh Atau Disuruh

Rusuh Atau Disuruh

JUM'AT, 24 MEI 2019

Rapat Tiga Menit

Rapat Tiga Menit

JUM'AT, 24 MEI 2019

Dampak Hukum People Power

Dampak Hukum People Power

JUM'AT, 24 MEI 2019

Marilah Kita Menghormati Pak Dirman
Nurani Kemanusiaan Ping Pong

Nurani Kemanusiaan Ping Pong

KAMIS, 23 MEI 2019