Kota Cirebon

Penanganan Pecandu Narkoba, GPAN: Rehabilitasi Lebih Efektif Daripada Penjara

Ragam  MINGGU, 13 JANUARI 2019 , 05:15:00 WIB | LAPORAN: AHYARUDDIN ASEP

Penanganan Pecandu Narkoba, GPAN: Rehabilitasi Lebih Efektif Daripada Penjara

foto/RMOLJabar

RMOLJabar. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) mendorong penerapan rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. Rehabilitasi dinilai lebih efektif dibanding ancaman hukuman penjara.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum DPP GPAN Brigjen (Pol) Siswandi saat sambutan di acara Pelantikan DPW GPAN Cirebon periode 2019-2022 di Gedung Adipura Kencana Balai Kota Cirebon, Sabtu (12/1) malam

Menurutnya, ada sekitar 57 ormas dan lembaga pegiat anti narkoba di Indonesia. Namun, jumlah itu belum mampu untuk mengatasi kejahatan narkoba yang jumlahnya kian hari makin meningkat. Dan GPAN, sebut Dia, satu-satunya yang terbilang eksis untuk menangani masalah narkoba.

"Visi-Misinya, awalnya hanya satu, menyelamatkan dengan cara mencari, menemukan dan mengajak para korban penyalahgunaan narkoba dan pecandu. Melalui GPAN, ayo kita fasilitasi, kita rehabilitasi secara gratis," kata Siswandi.

Bahaya narkoba, menurut Siswandi, merupakan salah satu jenis kejahatan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah, selain kejahatan Korupsi dan Terorisme.

Oleh karena itu, keseriusan penanganan kejahatan narkoba ini tidak boleh kalah dibanding dengan kejahatan jenis lainnya. Siswandi mencontohkan dengan penanganan masalah darurat asap di beberapa daerah di Sumatera dan kalimantan yang pernah ramai diperbincangkan khalayak. "Bahkan untuk darurat asap, pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang cukup besar," ujarnya.

Di sisi lain, kata Siswandi, kejahatan narkoba ini sudah sangat kritis, narkoba menjadi jenis kejahatan akut dan mengancam korban serta masa depan generasi muda. Terlebih Kota Cirebon masuk peringkat ke-2 se Wilayah Ciayumajakuning dengan tingkat pengguna narkoba terbesar. Dan masuk peringkat ke-10 dalam bahaya narkoba se Jawa Barat.

Berangkat dari data tersebut, Siswandi pertama kalinya mendeklarasikan pendirian GPAN di Kota Cirebon, sebagai wujud komitmen dan konsistensi dalam mengawal dan memberantas peredaran narkotika.

Di tingkat nasional sendiri, Pemerintah Pusat melalui 10 lembaga kementerian telah menandatangani kesepakatan bersama untuk bersama-sama memerangi bahaya narkoba.

"Secara nasional, 10 menteri teken penyelamatan 100 ribu pelanggaran narkotika itu se Indonesia," ungkapnya.

Melihat besarnya pengaruh negatif bahaya narkoba, GPAN mendorong agar penanganan terhadap para pengguna narkoba itu tidak harus dengan pemberian ancaman hukuman penjara.

Siswandi menawarkan solusi agar kepada para pecandu narkoba direhabilitasi bukan dengan dipenjara. Sebab, efek jera dari hukuman penjara dianggap belum mampu menyelesaikan masalah. Beda halnya dengan cara rehabilitasi. Faktanya, kata Dia, tidak sedikit peredaran narkoba terjadi di balik jeruji besi (penjara).

"Rehabilitasi itu adalah hukuman. Lebih sengsara orang di rehabilitasi dari pada dipenjara," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPW GPAN Cirebon Hj. Wati Musilawati dalam sambutannya mengatakan, pihaknya mengucapkan banyak terimakasih kepada para pengurus dan khususnya kepada Pemerintah Daerah Kota Cirebon yang telah memfasilitasi kegiatan pelantikan.

"Mudah-mudahan untuk Cirebon, Kami bisa mengemban amanah ini untuk bisa membersihkan peredaran gelap narkoba dan juga para pengguna narkoba," kata Wati Musilawati.

Wati bersyukur, selama kepengurusan 3 tahun sebelumnya, selalu mendapatkan bimbingan dan arahan dari para senior di GPAN, terutama bimbingan dan arahan yang disampaikan Ketua Umum DPP GPAN, Brigjen (Pol) Siswandi. Baginya, membawa organisasi GPAN bukan sesuatu hal yang mudah tanpa keterlibatan para senior.

"Pak Sis selalu konsisten melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk menjauhkan dari narkoba. Seluruhnya dilakukan untuk Kota Cirebon dan sekitarnya, menjadi yang utama, selalu yang diprioritaskan adalah Cirebon. Begitu cinta nya kepada Cirebon. Ini menjadi pilot projek buat kegiatan-kegiatan GPAN ke depan," ujar Wati.

Masih kata Wati, Ia berharap apa yang telah dicontohkan oleh kepengurusan pusat dapat dilaksanakan pengurus di tingkat bawah untuk melakukan gerakan-gerakan pencegahan dan penanggulangan bahaya narkoba agar lebih gencar dan massif lagi.

Di lain pihak, Walikota Cirebon Nashrudin Azis menuturkan, pihaknya merasa terbantukan oleh kegiatan-kegiatan GPAN. Pemda Kota Cirebon, menyatakan bersedia untuk mendukung program-program GPAN dalam meminimalisir peredaran narkoba di Kota Cirebon.

"Mudah-mudahan langkah kita pada malam ini menjadi langkah awal untuk meneruskan perjuangan agar Kota Cirebon ke depan bisa menjadi kota yang terbebas dari segala macam pengaruh narkoba," kata Azis sapaan Nahrudin Azis.

"GPAN hadir untuk menyentuh langsung kepada masyarakat. Oleh karena itu sekali lagi, dukunglah GPAN untuk melakukan kegiatan-kegiatan agar narkoba di Kota Cirebon ini bisa diminimalisir. Saya hadir, bersedia bergabung, karena saya mengerti betul bagaimana bahayanya narkoba," lanjut Azis.

Merujuk data, kata Azis, Kota Cirebon merupakan daerah akut bahaya narkoba tingkat 2 se Wilayah III Cirebon dan masuk urutan ke 10 di tingkat Provinsi Jawa Barat. Data ini, harus menjadi perhatian dan kepedulian semua elemen, khususnya pemerintah Kota Cirebon.

"Untuk itu saya mohon bahwa Kota Cirebon ke depan, sebelum menimpa sanak saudara kita, kita berantas, kita atasi persoalan narkoba tersebut," pintanya.

Senada dengan Siswandi, Azis sepakat mengenai pemberlakuan rehabilitasi bagi para pecandu dan korban bahaya narkoba. Melalui rehabilitasi, diharapkan para korban yang dinyatakan telah pulih pasca rehabilitasi, menjadi duta bagi para korban lainnya.

"Sasaran kita bagaimana menyembuhkan para korban, menjadikan mereka duta bagi para korban yang lain," pungkasnya.[son]



Komentar Pembaca