Demokrasi Panggung Demagog

Oleh: Mursyid Setiawan

Sudut Pandang  SENIN, 11 FEBRUARI 2019 , 23:17:00 WIB

Demokrasi Panggung Demagog

Mursyid Setiawan/RMOLJabar

BERBICARA mengenai demokrasi dua filsuf besar yang diyakini sebagai
penggagas demokrasi”, Plato dan Aristoteles, justru tidak mendukung sistem politik
demokrasi. Kedua filsuf yakni guru dan murid tersebut mengatakan bahwa demokrasi
merupakan sistem politik yang berbahaya dan memiliki banyak kekurangan.
Plato lebih menghendaki aristokrasi yang dipimpin oleh para cendekiawan
yang pandai dan cerdik dalam menjalankan pemerintahan yang berpedoman pada
keadilan. Begitupun Aristoteles mengatakan, demokrasi berbahaya dikarenakan pada
kenyataan (di Athena) banyak para demagog yang berkeliaran didalam sistem
demokrasi.

Demagog-demagog itu kerapkali membawa unsur-unsur diktatorial atau
bahkan tirani kedalam sitem demokrasi, meskipun pada permukaan terlihat
demokratis atau seolah-olah demokrasi”. Hal tersebut menimbulkan kondisi
demokrasi yang semu.

Demagog berasal dari bahasa Yunani yaitu demos berarti rakyat, dan agógos
berarti penghasut (pemimpin), maka demagog merupakan pemimpin atau penggerak
politik yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu.

Demagogi sendiri adalah perbuatan mengasut. Demagog dapat menipu dan
menghasut rakyat dengan janji-janji manis seolah-olah memperjuangkan hak rakyat.
Akan tetapi tujuan akhhirnya hanya semata-mata demi kekuasaan untuk dirinya
sendiri.

Pasca Runtuhnya Rezim Otoriter

Dalam kehidupan demokrasi di Indonesia, pasca terjadinya reformasi politik
dengan tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 yang berhasil meruntuhkan rezim
otoriter, banyak yang percaya dan berharap jikalau kondisi demokrasi di Indonesia
akan mencapai kejayaannya.

Prediksi tersebut memang ada benarnya, ketika awal Reformasi telah
dilakukan reformasi konstitusi melalui empat tahap amandemen (1999-2002). Selain
itu rakyat kembali mendapatkan kedaulatannya dengan adanya mekanisme pemilihan
secara langsung. Pers mendapatkan kemerdekaannya, begitupun ormas dan partai
politik tumbuh menjamur.

Kejadian tersebut seakan-akan telah membuka kran demokrasi yang terbuka
lebar ditengah keringnya kehidupan yang demokratis ketika rezim otoriter berkuasa.
Namun demikian, disisi lain hal tersebut justru memberikan celah bagi kemunculan
eksistensi para demagog.

Sangat mengkhawatirkan ketika demokrasi pasca tumbangnya rezim otoriter
mulai diagung-agungkan, justru hanya memperkuat eksistensi para demagog. Agenda
reformasi menjadi terhambat, pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi cenderung
terhalangi dikarenakan arena politik saat ini dikuasai oleh para demagog. Lembaga-
lembaga negara, partai politik, organisasi kemasyarakatan bahkan sampai pada
institusi pendidikan telah dikuasai oleh para demagog.

Ada tokoh politik yang berkampanye seakan-akan membela kepentingan
rakyat, namun ketika telah berkuasa merampas hak-hak rakyat. Ada elit politik yang
berpidato berapi-api ingin menyelamatkan bangsa dari para koruptor tetapi ketika
berkuasa dirinya sendiri yang terjerat kasus korupsi. Ada pula politisi demagog yang
memberikan janji-janji manis menjadikan rakyat Indonesia makmur dan sejahtera,
tetapi ketika berkuasa hanya dirinya dan keluarganya yang menikmatinya.
Ada pengusaha demagog yang menjalankan usaha dengan cara licik dan
curang, menyuap birokrat agar proyek lancar. Ada penegak hukum demagog yang
menegakkan hukum dengan cara-cara yang melanggar hukum. Ada pula akademisi
demagog yang mengunakan keilmuannya dengan membangun teori atau pendapat
yang menyesatkan.

Begitulah tingkah laku para demagog di negeri kita saat ini yang oleh
Aristoteles disebut sebagai ancaman bagi demokrasi. Apalagi menjelang pesta
demokrasi di Indonesia yakni pilpres 2019, para demagog mulai memainkan
perannya, membuat isu-isu, memprovokasi rakyat yang dapat membuat suhu politik

di Indonesia mulai memanas. Untuk itu perlu adanya antisipasi agar eksistensi
demagog tidak dapat mengganggu jalannya sistem politik demokrasi di Indonesia.

Etika Politik Pancasila

Dahulu eksitensi para demagog tidak begitu terdengar, atau bahkan teralienasi
dari percaturan politik. Ketika itu kita mempunyai nama-nama besar seperti Bung
Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim dan tokoh-tokoh lainnya yang
memperoleh kepemimpinan bukan karena menghasut, suap ataupun kekerasan, akan
tetapi karena integritas dan etika politik yang dimilikinya. Mereka berjuang secara
ikhlas untuk kepentingan rakyat sebesar-besarnya.

Keberadaan para demagog memang suatu keniscayaan dalam kehidupan
demokrasi. Kehidupan demokrasi lebih sering dimanfaatkan para demagog yang
berimplikasi pada menurunnya standar etika politik. Akan tetapi eksistensi dan
dominasi para demagog bisa kita sisihkan dengan ditumbuhkannya etika politik pada
diri elite-elite politik yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Etika politik yang berdasarkan Pancasila mengedepankan prinsip moralitas
yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Perkembangan politik negara
dalam proses reformasi sudah seharusnya mendasarkan diri pada moralitas yang
terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Konsekuensinya, segala praktek politik yang
menghalalkan segala cara dengan mengadu domba, memfitnah, menghasut,
memprovokasi rakyat yang tidak berdosa harus segera diakhiri.

Para demagog memiliki dasar bukan pada Pancasila dan UUD NRI 1945 akan
tetapi pada dasar keculasan dan kelicikan untuk mencapai kekuasaan. Para demagog
menyimpan virus yang mematikan, yang tersebar dan menggerogoti setiap sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, merupakan suatu keharusan
pada diri setiap aktor politik di Indonesia untuk memiliki etika politik yang sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila. Sehingga mimpi reformasi negara Indonesia disegala
bidang dapat terwujud! Merdeka. [***]

Penulis Adalah  Mahasiswa S2 Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia



Komentar Pembaca
Memindahkan Pemindahan Ibukota RI Dan Relokasi Pusat Administrasi Pemerintahan Malaysia
Ibukota Lemak

Ibukota Lemak

KAMIS, 22 AGUSTUS 2019

Konflik Papua

Konflik Papua

KAMIS, 22 AGUSTUS 2019

Diplomasi Sampah

Diplomasi Sampah

RABU, 21 AGUSTUS 2019

PLTU, Swasta Kemaruk PLN Bisa Terpuruk
Pertanda Resesi

Pertanda Resesi

RABU, 21 AGUSTUS 2019

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Hadiri Peringatan HANI 2019

Hadiri Peringatan HANI 2019

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 04:46:00

Jokowi Dan Trump Berbincang

Jokowi Dan Trump Berbincang

SABTU, 29 JUNI 2019 , 14:47:00

Anak Pengungsi Dan Debu Jalanan

Anak Pengungsi Dan Debu Jalanan

KAMIS, 11 JULI 2019 , 04:26:00