KOTA CIREBON

Membangun Keteduhan Politik Diawali Dari Generasi Millenial

Politik  SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 09:32:00 WIB | LAPORAN: AHYARUDDIN ASEP

Membangun Keteduhan Politik Diawali Dari Generasi Millenial

Bakhrul Amal/RMOLJabar

RMOLJabar. Suhu politik akhir-akhir ini terasa memanas. Pemicunya tentu adalah karena adanya perbedaan pandangan terhadap siapa yang hendak dipilih dalam Pemilu Presiden 2019.

Menurut pemerhati sosial, Bakhrul Amal, situasi tersebut sebenarnya adalah hal yang wajar mengingat esensi dari demokrasi itu sendiri adalah kebebasan berpendapat. Setiap orang bisa mengutarakan preferensi dan sikapnya terhadap sesuatu, yang mungkin tidak disetujui oleh pendukung pasangan dari calon yang berlawanan.

Sayangnya, lanjut Bakhrul, hal yang semestinya wajar itu kini justru malah menjadi sebuah kondisi memprihatinkan, ketika salah dalam memaknai kata 'kebebasan', yang merupakan sifat demokrasi.

"Kebebasan disalahgunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai adat ketimuran," ungkap Bakhrul yang juga penulis Buku Hukum dan Masyarakat dalam keterangannya kepada RMOL Jabar usai mengisi seminar Politik dan Generasi Milenial di Kampus YASMI, Cirebon, Selasa (12/2).

Mereka, kata Dia, terjebak dalam tindakan saling menebarkan hoax, melakukan ujaran kebencian, dan bertindak yang memunculkan keputusasaan untuk saling bersaudara.

Terlebih, secara fakta saat ini, mengulang (rematch) tahun 2014, hanya ada 2 pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden sehingga jarak pemisah akibat hal-hal buruk tersebut bisa terlihat semakin besar dan lebar.

Bakhrul menilai, bahwa persoalan ini harus segera diakhiri. Salah satu caranya adalah dengan mengajak generasi millenial, sebagai kelompok pemilih terbesar dan pengguna medsos terbanyak, untuk membangun partisipasi politik yang sehat tanpa menebar hoax dan ujaran kebencian.

"Edukasi terhadap generasi millenial ini penting. Mereka adalah arus besar yang punya potensi menjadi key opinion leader dalam perdebatan politik dan membuka jalan pikiran atau sikap ketiga dalam politik," ucapnya.

Bakhrul menambahkan, apabila generasi millenial tersadarkan pada posisinya maka dinding beranda Facebook, timeline twitter, maupun foto-foto di Instagram akan penuh keteduhan.

Dikatakannya, cara membangun kesadaran itu dengan keluar dari jebakan binary creature, atau makhluk biner, yang melihat secara hitam-putih, a-b, atau pun baik dan buruk.

"Generasi millenial semestinya bisa memulai langkah dewasa dalam berpolitik dengan tetap yakin bahwa siapapun yang terpilih adalah putra-putri terbaik bangsa," tegasnya.

Belajar dari sejarah, Bakhrul Amal membawakan kisah dan fakta tokoh perjuangan masa lalu. Sebut saja, seperti kisah antara Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, ketika muda sudah memikirkan kemaslahatan bangsa. Dan pikiran itu, mereka tunaikan dengan menyatukan berbagai suku, agama, dan ras hingga lahir Pancasila.

"Mereka tidak mencari perbedaan tetapi mencari titik persamaan yang mungkin bisa dijadikan semangat untuk melangkah bersama," Bakhrul Amal mengisahkan.

Berangkat dari kisah sejarah, Bakhrul Amal berharap, seluruh elemen bersatu padu untuk mensukseskan Pemilu dengan tanpa melepaskan esensi Pemilu itu sendiri.

Esensi Pemilu itu sendiri, menurut Amal, terpilihnya seseorang dengan pikiran dan cita-cita terbaik yang bisa mendistribusikan keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi rakyat. Oleh sebab itu mereka dipilih berdasarkan kualitas dan kuantitas terbanyak.

"Pemilu itu bukan sarana menjatuhkan. Pemilu itu justru sarana untuk saling menguatkan, beradu ide demi mengumpulkan energi terbesar bagi kebaikan bangsa ke depan," demikian Bakhrul Amal.[son]

Komentar Pembaca
Soal Lahan, Jusuf Kalla Bela Prabowo

Soal Lahan, Jusuf Kalla Bela Prabowo

SELASA, 19 FEBRUARI 2019 , 19:00:00

Hilmar Farid - Kebudayaan Bab II (Bag.2)

Hilmar Farid - Kebudayaan Bab II (Bag.2)

SELASA, 19 FEBRUARI 2019 , 10:00:00

#JokowiBohongLagi Dan Bukti-buktinya

#JokowiBohongLagi Dan Bukti-buktinya

SENIN, 18 FEBRUARI 2019 , 07:00:00