Kriteria Pemilih Cerdas Di Tahun Politik

Sudut Pandang  SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 11:11:00 WIB

Kriteria Pemilih Cerdas Di Tahun Politik

Robby Xandria/RMOLJabar

SAMPAI saat ini stigma negatif tentang politik masih menghantui sebagian besar rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, para pelaku politik selalu memiliki kecenderungan yang sama di tahun politik atau menjelang waktu pemilihan.

Banner besar dengan wajah tampan nan rupawan dibalut janji-janji manis untuk mensejahterakan kehidupan rakyat, juga kampanye-kampanye dengan menyampaikan track record pendidikan dan gagasan-gagasannya baik langsung di lapangan terbuka ataupun tidak langsung melalui televisi, medsos, selalu dilakukan para calon pejabat publik, tetapi ironis karena juga tidak sedikit dari mereka yang malah berakhir di hotel prodeo karena korupsi dan perilaku menyimpang lainnya. Maka menjadi sangat wajar jika politik dalam aras pikir masyarakat merupakan sesuatu yang kotor dan penuh kebohongan.
 
Dari calon Dewan Perwakilan Daerah kabupaten/kota sampai calon Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dari bupati/walikota sampai Presiden dan Wakil Presiden, terkesan sangat latah dan kikuk menjelang tahun politik, karena mendadak berperingai ramah dan baik, tetapi mereka menjadi sangat sulit ditemui rakyat yang ingin menyampaikan aspirasi ketika mereka sudah menjabat. Sudah, saat ini jangan lagi berbicara mengenai kualitas calon pejabat publik dengan berbagai gelar dan janji visi misi mereka, karena kita sudah paham betul apa yang akan terjadi nantinya. Mari kita bahas kualitas rakyat sebagai pemilih di negara ini yang akhirnya mau tidak mau menghasilkan pejabat publik bagi mereka sendiri juga.

Berdasarkan apa yang penulis lihat dan rasakan sendiri, pemilih di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam 3 kategori. Yang pertama, mereka yang memilih atas dasar kedekatan emosional dan politik dengan calon, biasanya merupakan anggota partai politik ataupun relawan dari sahabat-sahabat calon. Kedua pemilih yang tergiring isu politik yang merebak dilingkungan mereka baik di rumah, masyarakat, sekolah/kampus, dan media sosial/televisi, pemilih seperti ini lahir akibat dari "peperangan" calon secara psikologis yang akhirnya melahirkan cebong dan kampret. Dan terakhir adalah apa yang dinamakan swing voter, atau pemilih yang tidak mau terlalu pusing memikirkan calon yang tidak mereka kenal, pemilih seperti ini akan berdampak positif pada calon yang sudah populer atau biasanya dari kalangan public figure atau artis yang terjun ke politik karena wajah mereka sudah tak asing bagi rakyat.

Sebagai pemilih cerdas jika kita berada dalam kategori yang pertama yaitu yang memiliki kedekatan emosional dengan calon, maka kita harus mengetahui posisi kita, karena sebagai aparat (TNI/Polri), anggota pers/media, ASN seperti pegawai kelurahan/kecamatan, Mahasiswa, dan berbagai profesi lain yang menyangkut intansi netral, maka kita pun harus bersikap netral secara intansi artinya dengan membebaskan pilihan pribadi masing-masing tetapi tidak membawa instansi. Selanjutnya jika kita berada dalam katrgori yang kedua yang hasil pilIhan kita terbentuk dari isu yang merebak, jangan membuat kecebongan/kekampretan kita merasa yang paling Nasionalis ataupun merasa yang paling Agamis dan malah berakhir dengan menimbulkan perpecahan umat dan bangsa, bersikaplah dewasa baik sebagai cebong/kampret. Terakhir semoga kita bukan yang termasuk kedalam golongan swing voter yang tidak peduli siapa yang akan dipilihnya, dan memilih hanya atas dasar pertimbangan terkenal/tidak. Karena artis sekalipun yang terkenal bisa jadi ada yang memang memiliki niatan ikhlas masuk ke politik dan ada juga yang menjadi alat partai politik untuk mendulang suara.

Sebagai akademisi, melihat fenomena pemilih di Indonesia yang menerapkan demokrasi one man one vote, penulis sangat terdorong untuk menegaskan bahwa "penerapan sistem politik yang baik adalah yang mengedepankan kualitas dari pemilih yang cerdas dan mengedepankan integritas calon yang akan dipilih". Artinya, dua hal ini harus diperhatikan dengan serius dan berkesinambungan, karena jika kualitas calon yang akan dipilih baik tetapi pemilihnya tidak cerdas maka hasilnya akan buruk, begitu pula sebaliknya.

Saya pikir pemilih saat ini yang ada dilingkungan kota maupun desa sudah cukup cerdas menentukan pilihannya dalam politik. Dengan berbagai pertimbangan yang matang, pemilih cerdas tidak akan terbawa isu yang merebak di medsos, radio, atau televisi. Mereka akan menimbang elektabilitas calon dari partai politik manapun dengan tidak melihat berapa banyak stasiun televisi yang dimiliki partai politik dan calon pejabat publik, juga tidak melihat calon karena popularitasnya semata. Semoga tulisan ini dapat menghasilkan pemilih-pemilih cerdas yang akan sangat menentukan arah bangsa Indonesia kedepannya apakah lebih baik ataukah lebih buruk dari hasil pilihannya.[***]


Oleh: Robby Xandria Mustajab
Mahasiswa S1 Pendidikan Kewarganegaraan UPI



Komentar Pembaca