Palestina Terkini: Kegentingan Lingkupi Jalur Gaza

Peristiwa  RABU, 13 FEBRUARI 2019 , 01:34:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

Palestina Terkini: Kegentingan Lingkupi Jalur Gaza

Peserta protes damai terluka di Jalur Gaza /Ist

RMOLJabar. Kekerasan militer Israel terhadap sipil Palestina terekam semakin intens. Palestinian Center Human Rights (PCHR) mencatat sedikitnya lima penangkapan dan kekerasan dilakukan militer Israel setiap hari pada periode 31 Januari-6 Februari ini.

Pasukan Israel terus menggunakan kekuatan berlebihan saat menghadapi peserta protes damai (Great March of Return) pada pekan ke-45 sepanjang di daerah perbatasan timur dan utara jalur Gaza.

Berdasarkan data pemerintah Gaza yang disebutkan PCHR, dalam kurun waktu 7 hari itu militer Israel melukai 100 orang Gaza yang tersebar di berbagai wilayah. Korban paling banyak berada di Kota Gaza, yakni 27 orang. Peristiwa ini membuat kondisi jalur Gaza semakin genting dalam sepekan terakhir.

Mereka juga terus menggunakan angkatan bersenjata selama serangan ke tepi barat. Pasukan Israel melukai 24 warga sipil, termasuk seorang anak. Pasukan Israel melakukan setidaknya 79 serangan militer ke komunitas Palestina di tepi barat. Mereka juga setidaknya menangkap 56 warga Palestina, termasuk 14 anak-anak, dan seorang wanita.

Militer Israel bukan hanya melakukan serangan brutal kepada warga sipil yang mengikuti demonstrasi damai. Mereka juga melakukan serangan di permukiman warga. Seorang warga Palestina Ibraheem Mustafa Ibraheem al-Masri (49) melaporkan bahwa rumahnya digeledah sejumlah tentara Israel.

Kepada PCHR, Ibrahim mengatakan, pasukan Israel memerintahkan ia dan keluarganya berkumpul di ruang tamu. Sebelumnya, ia mendapat kabar bahwa Ahmed (20), anaknya, ditangkap sejumlah petugas Israel penjaga perbatasan.

"Sekitar pukul 03.30, saya terbangun ketika bel pintu rumah berbunyi. Kemudian 10 tentara Israel menyerbu rumah dan memerintahkan saya untuk membangunkan semua orang di rumah serta membawa kartu identitas mereka," ujar warga yang tinggal di kamp pengungsi al-Dhaisha, sebelah barat Betlehem itu, Selasa (12/2).

"Saya ditahan bersama dengan anggota keluarga saya di ruang tamu sementara tentara Israel mulai menggeledah rumah. Kami juga mendengar mereka memindahkan barang-barang," sambungnya dalam keterangan yang diterima Kantor Berita RMOLJabar.

Berdasarkan keterangan Ibraheem, setelah pasukan Israel menggeledah rumah dan meninggalkannya begitu saja, ia menerima telepon dari polisi Israel bahwa Ahmed, putranya, berada di pusat interogasi di Petah Tikva, salah satu kota satelit di Tel Aviv.

Selain itu, Israel pun melakukan sejumlah penangkapan di pos pemeriksaan. Merangkum dari PCHR, sedikitnya 7 orang ditangkap di sejumlah pos pemeriksaan militer oleh tentara Israel.

Otoritas Israel juga meminta sejumlah warga Palestina menghancurkan rumah mereka dengan alasan tidak memiliki izin. Mahmoud Abu Hussein menghancurkan rumahnya di Gunung al-Mukaber, selatan Yerusalem Timur.

Pemerintah kota Israel memberinya pemberitahuan untuk menghancurkan rumah itu sendiri di bawah dalih non-lisensi. Rumah seluas 120 meter persegi itu melindungi 3 keluarga yang terdiri dari 13 anggota, termasuk 7 anak, dan itu adalah bangunan yang melekat pada bangunan yang lebih tua 100 meter persegi.

Di hari berikutnya, Majdy Abu Teyeh mulai menghancurkan rumahnya di desa Silwan, selatan Kota Tua Yerusalem Timur. Dengan dalih yang sama, pemerintah kota Israel memberinya pemberitahuan untuk menghancurkan rumah seluas 70 meter persegi yang menaungi sebuah keluarga dengan 6 anggota termasuk 4 anak. [yls]

Komentar Pembaca