Mengkritisi Klaim Inalum Ada 9 Keuntungan Divestasi Freeport

Ekbis  SELASA, 26 FEBRUARI 2019 , 14:39:00 WIB

Mengkritisi Klaim Inalum Ada 9 Keuntungan Divestasi Freeport

Lokasi tambang Freeport/net

AAN PT Inalum (Persero) dikutip media pada 24/2/2019 yang membeberkan 9 keuntungan berkaitan dengan akuisisi 51 persen saham Freeport lebih banyak menyesatkan daripada mengemukakan realitasnya, pernyataan ini ada kesan untuk menutupi sesuatu masalah dengan membesar-besarkan yang sebenarnya tidak berpengaruh apakah divestasi 51 persen itu terjadi atau tidak.

Keuntungan finansial seharusnya disebutkan dalam valuasinya bukan dinyatakan angka-angka parsial.

Saya kira Inalum tahu bagaimana menyajikan parameter keuangan ketika satu proyek itu menguntungkan secara finansial atau tidak. Jangan ditutup-tutupi dan dibesar-besarkan yang tak perlu, kalau kenyataannya tidak seperti itu, pada akhirnya masyarakat bisa marah. Logikanya sederhana, kalau memang dapatnya segitu tapi "tetep miskin" duitnya di"curi" siapa. Jadi Inalum dalam membuat pernyataan jangan menyesatkan, kalau memang secara valuasi nilai Freeport tidak setinggi yang dipublikasikan terutama dikaitkan dengan investasi smelter dan masalah lingkungan.

Keuntungan manajemen yang dikatakan Inalum, akan tetapi pada kenyataannya Komut dan Dirut masih diisi orang-orang dari Freeport mac Moran, kalau kenyataanya tidak memiliki otoritas dalam pengurus perusahaan? maka bisa-bisa pihak yang ditunjuk cuma sebagai "proxy" saja dan bahkan operasional masih dipegang oleh "Freeport". Kalau mau belajar yang benar, sesorang harusnya memiliki otoritas. Karena kalau cuma sebagai pendamping bangsa ini tidak akan mampu berdiri sendiri.

Posisi di bawah pemerintah seperti kata Inalum, maka Inalum harus memahami kondisi ini karena amanah undang-undang, jadi bukan karena divestasi, sehingga pernyataan Inalum justru terkesan melecehkan undang-undang dan menyesatkan.

Karena dilakukan akuisisi atau tidak, UU Minerba sudah seharusnya KK berubah menjadi IUPK.

Begitu juga dengan kata Inalum bahwa cadangan emas terbesar di dunia, terminologi cadangan tidak ada dalam bentuk nilai uang, harus tonase dan kadar. Pernyataan ini juga sangat menyesatkan dan berbahaya. kalau pernyataan dalam bentuk uang bisa dipersepsikan sebagai valuasi tambang tersebut. Kalau nilai tambangnya sebesar itu maka sangat bodoh Freeport menjualnya dengan nilai 3.85 miliar dolar AS.

Kesan yang kuat Inalum hanya ingin menunjukan bahwa "take over" tersebut sangat cerdas dan kalau sampai muncul persepsi bahwa angka tersebut adalah nilai tambang, maka bisa membuat penilaian publik yang salah dan kalau tambang itu memang nilainya segitu besar dan ternyata rakyat cuma dapat yang kecil, akan ada pertanyaan. Duitnya siapa yang nyuri. Inalum harus mengkoreksi ini.

Masyarakat Papua diuntungkan, informasi yang didapatkan dari Pak Simon, sewaktu beliau menjadi Dirjen, seharusnya masyarakat Papua dapat gratis 10 persen saham Freeport, sebagai kompensasi sungai Akwa yang dipergunakan sebagai bagian dari "proses produksi", karena sungai tersebut tidak dapat difungsikan secara ekonomi oleh masyarakat Papua kecuali untuk kepentingan tailingnya Freeport. Dan menurut pak Simon, James Moffet sudah setuju kompensasi 10 persen tersebut gratis dan pernah dikemukakan kepada Gubernur sekarang, sekitar 4 tahun lalu. Justru pernyataan menguntungkan ini malah memalukan, seharusnya gratis, disuruh membayar kok disebut menguntungkan.

Keuntungan 6, 7 dan 8 dan 9, ada atau tidak adanya akuisisi 51 persen, tetap akan terjadi, justru sekali lagi, menunjukan Inalum sangat mengecewakan karena tidak ada perubahan mendasar walau pemerintah Indonesia mengeluarkan dana yang begitu besar.

Menyoroti transfer teknologi, juga menunjukan bahwa seolah-olah Freeport "memberikan" teknologi dan jerih payah tenaga ahli Indonesia dianggep pemberian teknologi dari asing. Mereka secara pribadi berjuang meningkatkan diri dan berkompetisi dengan koleganya dari negara lain. Kalau disebut dengan divestasi 51 persen Indonesia lebih melek teknologi, ini, sangat merendahkan tenaga ahli Indonesia dan bangsa Indonesia secara umum. Selama ini Freeport pun juga beli teknologi dan walau sudah dibeli tetap hak paten teknologi tersebut merupakan milik providernya.

Pernyataan Inalum secara umum, cenderung sebagai pernyataan politik daripada seorang profesional. Sebaiknya Inalum menjelaskan program road mapnya kedepan, bagaimana bangsa ini lebih bisa membanggakan dalam pengelolaan SDA dan memiliki kedaulatan. [***]

Penulis: Budi Santoso
Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss).
 

Komentar Pembaca
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00