Gubernur Dilan

Oleh: Irwan Sholeh Amir

Sudut Pandang  JUM'AT, 01 MARET 2019 , 21:36:00 WIB

Gubernur Dilan

Irwan Sholeh Amir/Ist

BELUM lama ini Gubernur Jawa Barat mendapat cemooh dari bobotoh Persib di saat laga Persib Bandung melawan Arema FC di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung. Spontan bobotoh meneriaki orang nomor satu di Jawa Barat itu dengan teriakan "Prabowo!" secara berulang-ulang. Kenapa urusan politik masuk dunia sepakbola? Padahal selama ini sepakbola dianggap ruang yang netral dari hiruk pikuk politik.

Tentu bukan tanpa alasan, sikap bobotoh ini seperti bentuk kritik pada Kang Emil, sapaan akrab Gubernur. Pasalnya, Kang Emil tak bisa menjaga netralitas dirinya sebagai Gubernur untuk semua warga Jawa Barat. Akhirnya, bobotoh seolah memberi kartu merah pada Kang Emil yang dinilai tidak sportif dan netral dalam kompetisi Pilpres 2019.

Lagi-lagi, Kang Emil menuai banyak protes dan kritik. Kali ini karena Dilan, novel best seller karya Pidi Baiq yang diangkat ke layar lebar. Film Dilan pertama yang berjudul "Dilan 1990" berhasil sukses dan diapresiasi banyak pihak, karya anak bangsa yang dibanggakan, biasa dan dianggap wajar.

Namun berbeda dengan film kedua yang berjudul "Dilan 1991" yang diapresiasi berlebihan, bahkan Kang Emil sendiri menetapkan tanggal 24 Februari sebagai Dilan Day. Tidak hanya itu, muncul wacana Taman Dilan yang kemudian direvisi menjadi Dilan Corner, pojok literasi untuk novel dan film di Taman Saparua.

Apa yang istimewa dari film Dilan ini? Apa karena Kang Emil ikut bermain di film ini, lantas antusiasme begitu kuat ditunjukkan seorang Gubernur? Lupa dengan seabreg film yang lebih berkualitas dari film Dilan. Pesan apa yang ingin disampaikan Gubernur hingga film ini over appreciated? Apa benar novel Dilan memiliki nilai sastra yang kuat sehingga pantas menjadi menjadi rujukan literasi? Tentu saja, sikap Kang Emil terhadap film ini mengundang banyak pertanyaan.

Kalangan budayawan mempertanyakan, budaya apa yang disuguhkan film Dilan? Hanya budaya pop tentang pacaran remaja yang jauh dari budaya daerah dan tradisi Sunda. Pergaulan cinta remaja yang cukup intim, yang tentu saja jauh pula dari prinsip budaya timur yang masih memperhatikan norma-norma yang berlaku di Jawa Barat.

Sementara di kalangan pemerhati pendidikan, film ini dianggap miskin edukasi. Mengenalkan kembali kehidupan sosial geng motor yang akrab dengan tawuran dan perilaku negatif lainnya. Inspirasi apa yang mau dibangun dari film yang rendah dari nilai-nilai pendidikan? Berbeda dengan film Laskar Pelangi yang begitu inspiratif, selain nilai sastranya yang kuat, film ini penuh dengan motivasi pendidikan. Tentunya jika dibandingkan, Laskar Pelangi jauh berkualitas dari film Dilan.

Lebih-lebih kalangan politisi mengaitkan film Dilan dengan politik. Film ini seperti menjadi media kampanye Kang Emil untuk menggaet generasi milenial mendukung salah satu calon Presiden, karena posisi Kang Emil sebagai Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional untuk tingkat Jawa Barat, tentu segala kesempatan yang dinilai baik bisa dimanfaatkan untuk kampanye. Akhirnya, euforia Dilan ini seperti dibuat-buat, dipaksakan, dan tidak menjadi bentuk kampanye yang mendidik untuk para pemilih.

Bagi kalangan agamawan, terutama kalangan Islam, film Dilan ini dinilai jauh dari etika pergaulan Islami. Mengumbar syahwat pacaran yang bisa berujung pada pergaulan bebas antara lawan jenis. Film ini pun tidak mencerminkan akhlak yang baik bagi generasi muda yang sangat mudah meniru apa yang ditontonnya. Tontonan yang tidak menjadi tuntunan hidup yang baik. Sikap berlebihan pada film ini juga kurang baik, sebagaimana Al-Quran mengisyaratkan kita untuk menjauhi sikap berlebihan (QS. Ali Imran: 147).

Saatnya hentikan apresiasi yang berlebihan terhadap film Dilan, cukup kita hargai kesuksesannya dengan wajar. Sebab masih banyak film berkualitas yang juga harus diapresiasi. Jika segala hal dipaksakan menjadi simbol Dilan, seperti Hari Dilan, Taman Pojok Dilan, atau simbol-simbol Dilan lainnya, maka bisa-bisa nanti Kang Emil juga disebut Gubernur Dilan. [***]


Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PW GPII) Jawa Barat

Komentar Pembaca
Nyamuk Politik

Nyamuk Politik

JUM'AT, 19 JULI 2019

Ofo Bekas

Ofo Bekas

KAMIS, 18 JULI 2019

Menelanjangi Donald Trump

Menelanjangi Donald Trump

RABU, 17 JULI 2019

Pidato Yang Mengancam

Pidato Yang Mengancam

RABU, 17 JULI 2019

Ku Hantar Engkau Ke Gerbang Kemerdekaan
The Market For Lemons, Theory Of The Second Best, Dan Pilpres 2019
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00