Surprise In Indonesia's Election?

Oleh: Dr Rizal Ramli

Sudut Pandang  SELASA, 19 MARET 2019 , 10:47:00 WIB

Surprise In Indonesia's Election?

Rizal Ramli/Net

DAPATKAH Prabowo, yang bersaing melawan petahana Joko Widodo dalam pilpres bulan depan, muncul sebagai pemimpin Indonesia yang akan datang?

Beberapa saat yang lalu, para pakar dan lembaga survei sepakat menyingkirkan peluang jenderal purnawirawan itu. Survei-survei nasional meletakkan Prabowo jauh di belakang Jokowi, dengan marjin sampai lebih dari 20%. Salah satu alasannya adalah karena Joko, atau lebih populer dipanggil Jokowi, telah dengan sangat seksama mengumpulkan kredit sebagai tokoh populis. Jokowi telah menggulirkan subsidi besar untuk asuransi kesehatan dan pendidikan, selain membelanjakan dana sangat besar untuk memoderenkan infrastruktur yang telah sangat tertinggal. Hal ini berdampak bagus bagi pemilih, sehingga seakan-akan semua sepakat bahwa ia akan dengan mudah mengalahkan Prabowo dalam Pilpres 2019.

Sekarang, pemilu telah berjalan beberapa bulan, prospek elektoral Jokowi nampak tidak aman. Survei mengungkap elektabilitas Jokowi secara konsisten menurun. Kurang dari 50% pemilih mengatakan mereka akan memilih petahana dan, menurut pollster yang berafiliasi dengan Gallup Internasional, hampir 40% pemilih dapat mengubah pilihan mereka pada minggu-minggu terakhir sebelum pencoblosan.

Tidak ada yang pasti, tetapi jika Prabowo menang, pasti akan menjadi kejutan untuk negara-negara Barat, seperti halnya ketika Dr. Tun Mahathir Mohamad berhasil mengalahkan petahana perdana menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak. Tetapi bagi mereka yang memahami dinamika kompetisi pilpres Indonesia, kemenangan Prabowo bukanlah kejutan yang berarti. Hal itu justru menandakan datangnya hari yang lebih baik bagi Indonesia, khususnya demokrasi, dan hal tersebut juga merupakan sinyal dinilainya kembali hubungan Indonesia-Cina, persis sebagaimana sekarang terjadi di Malaysia di bawah kepemimpinan Dr Mahathir.

Kemungkinan kekalahan Jokowi bersandar kepada beberapa faktor, namun alasan utamanya sangat sederhana, yaitu kondisi ekonomi. Kelas menengah Indonesia kecewa karena meningkatnya biaya hidup dan pasar kerja yang kurang bergairah. Petani juga memiliki keluhan sendiri terkait harga komoditas yang rendah. Banyak pemilih juga mengingat janji-janji Jokowi dari pemilihan terakhir pada tahun 2014, banyak di antaranya yang gagal ia pertahankan.

Salah satu dari janji itu adalah menumbuhkan ekonomi tujuh persen setahun, yang pada dasarnya bukan target yang tidak masuk akal untuk pasar negara berkembang seperti Indoneisa. Tetapi nyatanya pertumbuhan hanya berkisar lima persen. Maka jika ada orang bertanya kepada rata-rata orang Indonesia apakah hidup mereka lebih baik hari ini daripada lima tahun lalu, sebagian besar akan menjawab "tidak" atau "hampir sama".

Di luar ekonomi, hasrat yang kuat atas perubahan gagal ditopang lebih jauh oleh gaya politik Jokowi yang kurang terbuka. Pada saat ia terpilih, banyak orang Indonesia percaya bahwa seperti para pendahulunya, Jokowi akan menegakkan norma-norma demokrasi. Sayangnya, dia justru pergi ke arah yang berlawanan. Menggunakan kuasa kontrol koalisi partai pendukungnya dan pengaruh atas legislatif, aparat hukum dan pasukan keamanan, Jokowi dan orang-orangnya telah "mengkriminalkan" atau "melecehkan" politisi oposisi dan aktivis yang kritis terhadap kepresidenannya. Tokoh-tokoh nasional, termasuk musisi, aktor, dan bahkan saudara perempuan mantan presiden Megawati Soekarnoputri, telah dibusukkan. Dalam beberapa kasus tokoh-tokoh terkemuka bahkan dipenjara karena perbedaan pendapat mereka.

Tidak mengherankan, pergeseran otoriterian Jokowi menyebabkan sejumlah orang menjuluki pemerintahannya sebagai "Neo Orba", sebuah istilah yang merujuk kepada rejim represif Orde baru yang berakhir 20 tahun yang lalu. Perilakunya juga menimbulkan konsekuensi real, yaitu jatuhnya elektabilitas. Orang Indonesia yang dulu menyukainya karena kepribadian jawa sekarang memandangnya dengan cara sangat berbeda.

_Akankah Jokowi kalah dalam pemilihan bulan depan, apa artinya bagi Indonesia?_

Jika janji kampanye dapat dipercaya, maka itu berarti rakyat legawa bertaruh untuk Prabowo agar ia bisa memusatkan perhatiannya untuk memperbaiki ekonomi, mempersembahkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mengamankan pangan dan energi. Orang juga bisa bersukacita atas fakta bahwa ia telah bersumpah, di hadapan publik dan secara pribadi dengan mitra koalisinya, untuk memperbaiki kemunduran demokrasi Indonesia.

Bagi sekutu Indonesia di Barat, khususnya Amerika Serikat, mestinya bersenang-hati mengetahui Prabowo akan menjalankan kebijakan Cina yang berbeda dari Jokowi.

Sebagai pembaca yang tekun dalam masalah ekonomi global, Prabowo sering dikutip mengatakan bahwa Indonesia perlu melangkah lebih hati-hati dibandingkan dengan Jokowi dalam hubungan komersialnya dengan Cina, terutama berkaitan dengan partisipasi dalam Belt Road Initiative.

Seperti Dr Mahathir, Prabowo memahami risiko ekonomi dan keamanan nasional yang dipertaruhkan jika Indonesia terlalu kuat berada di bawah pengaruh Beijing.

Hal di atas sepertinya bukan musik yang merdu bagi Xi Jinping, tapi sikap Prabowo itu pasti akan disambut baik karena justru lebih memantapkan postur negara paling strategis di Asia Tenggara ini. [***]

Komentar Pembaca