NasDem Dukung Pengembangan Industri Lokal Jawa Barat

Ekbis  SELASA, 19 MARET 2019 , 12:25:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

NasDem Dukung Pengembangan Industri Lokal Jawa Barat

Ade Sudrajat/RMOLJabar

RMOLJabar. Industri kecil merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi kota-kota di Indonesia. Supaya bisa survive dan berkembang, industri kecil tersebut pun harus dibina dan diberi pendampingan oleh pemerintah agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Politisi NasDem, Ade Sudrajat, pelatihan kepada industri lokal di Jawa barat sangat penting. Dengan pelatihan tersebut, lanjut ade, pelaku industri lokal bisa memperluas pangsa pasar dan memperoleh keuntungan yang maksimal.

Ia menambahkan, di Dapilnya banyak industri lokal yang bergerak di bidang konveksi. Ade mengidentifikasi, konveksi tersebut kebanyakan memproduksi celana denim jeans, baju hingga baju koko. Bahkan, ada satu kampung diberi nama kampung hijab karena di sana memang khusus membuat hijab.

"Ini potensi cukup kuat namun segmen pasar mereka memang ada di menengah bawah. Tentu artinya bahan baku yg sangat kompetitif yang murah " kata Ade, yang juga Caleg DPR RI Partai NasDem Dapil Jawa Barat II, Selasa (19/3).

Ade mengakui punya strategi untuk meningkatkan industri tekstil lokal naik ke menengah atas. Salah satunya adalah membina pelaku industri lokal itu dalam pembuatan desain, pembuatan pola yang baik dan benar serta cara menjahitnya.

"Bagaimana akses pasar mengenah atas yang dihubungkan dengan kekinian yaitu pasar online. Dengan online pendapatan jauh lebih tinggi dari sekarang. Namun mereka jg harus dibekali ilmu pengetahuan tentang handphone yang berfungsi sebagai IT nya mereka. Bagaimana cara masuk online, bagaimana menawarkan, bagaimana pembayaran dan sebagainya," tuturnya.

Ia mengatakan, hal itu tentu pengetahuan yang sangat baru bagi mereka. Memang bukan pengetahuan yang agak rumit namun kompleks lantaran kadang mereka berkonsep untung rugi ingin terasa.

"Jadi tidak biasa dengan konsep untungnya diakumulasikan dalam kurun waktu misalnya 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali karena keterbatasan modal dan sebagainya. Itu yang perlu sentuhan. Kita buat ini komprehensif, pelatihan total dari a sampai z tentang bagaimana meng-upgrade diri," katanya dalam keterangan yang diterima Kantor Berita RMOLJabar.

Dirinya berencana menyeleksi orang-orang yang mempunyai kemampuan. Menurutnya, pada dasarnya untuk ongkos listrik dan tenaga kerja sama saja. Namun , bagaimana barang yang diproduksi jadi lebih baik.

Adapun yang menjadi sasaran pelatihan adalah  pelaku industri lokal yang masih berusia di bawah 40 tahun.

Ia menilai, entrepreneur muda lebih berani mengambil risiko dalam berbagai hal. Hal itu berbeda dengan sudah berusia di atas 40 tahun yang kejar-kejaran keutungan untuk kebutuhan dapur.

"Kita paparkan risiko awal, apakah dia mau ambil alih atau enggak. Kemudian kita hubungkan dengan perbankan, bagaimana juga perbankan butuh legalitas formal baik itu pendirian perusahaan, NPWP begitu-begituan lah. Nah ini kita bawa arah ke situ. Tetapi tidak bisa secara individu, dengan kelompok 5-10 org kita bentuk koperasi sehingga bisa maju dan dijamin dengan CSR teman perusahaan yang punya akses kesitu," paparnya.

Di kesempatan terpisah, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai, perlu adanya perhatian yang lebih besar lagi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah guna mengembangkan industri-industri lokal.

Salah satunya adalah dengan pemberian insentif fiskal, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia menilai, pengembangan industri lokal adalah salah satu yang penting dikembangkan.

"Bagi industri di daerah, harusnya mendapatkan intensif fiskal. Jadi misalnya banyak keringanan perpajakan, khususnya pajak daerah, terutama bagi industri-industri yang terkena pukulan ekonomi," ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, perlu juga adanya kemudahan bagi industri lokal untuk mendapatkan bahan baku produksi. Hal itu bisa didukung melalui kerjasama antara pemerintah daerah. Ketersediaan infrastruktur yang memadai juga menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan industri lokal.

"Di samping itu juga infrastruktur di daerah itu sendiri. Yang membuat mahal biaya logistik itu karena infrastruktur yang belum merata," demikian Bhima. [son]

Komentar Pembaca