Tahun 2045, Masa Keemasan Indonesia

Ekbis  JUM'AT, 05 APRIL 2019 , 17:36:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

Tahun 2045, Masa Keemasan Indonesia

Luhut Binsar Panjaitan/RMOLJabar

RMOLJabar. Berbagai potensi yang dimiliki Indonesia membuatnya diyakini dapat meraih tahun keemasan pada 2045 mendatang. Indonesia juga diyakini dapat menjadi negara besar yang disegani negara lain di dunia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara adidaya pada 2045.

Selain letak geografisnya yang sangat strategis, Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang bisa mendorong target tersebut.

"Kita sangat kaya. Kita ada tiga time zone, penduduk 260 juta, dari Sabang sampai Merauke," ucap Luhut, saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi nasional bertajuk 'Indonesia 2045: Berdaulat, Maju, dan Berpengaruh pada Tataran Global' yang diselenggarakan alumni Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan di Gedung Merdeka, Jumat (5/4).

Luhut menambahkan, potensi ini juga didukung oleh kinerja perekonomian nasional yang terus membaik.

"Kita negara besar. GDP 1,1 triliun US Dollar. Pertumbuhan ekonomi 5,1%, inflasi sekitar 3%," katanya.

Namun, Luhut mengingatkan bahwa semua indikasi positif ini akan sia-sia jika generasi mudanya tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi perkembangan global.

Anak-anak saat ini harus memiliki pergaulan yang luas termasuk dengan sesama penerus dari negara lain. Pada akhirnya, generasi milenial saat ini harus memiliki kepemimpinan yang baik yang sesuai dengan perkembangan zaman.

"Anak muda harus memiliki leadership terbuka. Mengambil keputusan secara terbuka," ujarnya.

Keterbukaan seperti ini, lanjut Luhut, telah dilakukan pemerintah sekarang terutama dalam mengambil kebijakan pada sektor ekonomi.

"Proses pengambilan keputusan kalau dilakukan terbuka, menjadikan ekonomi kita cepat majunya," ungkapnya.

Sebagai contoh, kata dia, saat ini dunia telah berubah dengan munculnya Tiongkok sebagai raksasa ekonomi selain Amerika Serikat. Mau tidak mau kondisi ini harus disikapi positif agar Indonesia turut merasakan pertumbuhan tersebut.

"Suka tidak suka, Tiongkok jadi kekuatan dunia. GDP-nya 2,5-3 triliun US Dollar. Saya pergi ke Tiongkok, semua kerja keras, semua disiplin. Kita harus tiru," jelasnya

Meski begitu, dia mengingatkan para calon pemimpin ini agar nantinya menjalankan diplomasi yang tegas dan terukur.

"Diplomasi kita enggak boleh lemah. Sekali-kali hajar saja, asal terukur," ujarnya.

Luhut pun memuji Presiden Joko Widodo yang menurutnya pemimpin yang memiliki nilai-nilai tersebut.

"Ini orang bisnisnya enggak ada, istrinya, anaknya enggak bisnis. Berani, tanggung jawab, enggak ada keraguan sama sekali. Kepemimpinan harus teamwork, tapi memberikan kewenangan ke bawahan dan tanggung jawab," tuturnya.

Sementara itu, pakar ekonomi, Purbaya menjelaskan, fondasi ekonomi Indonesia saat ini sangat memungkinkan untuk mencapai keemasan pada 2045.

Selain memiliki laju pertumbuhan yang baik, pemerataan dan pembangunan infrastruktur pun terus dilakukan hingga ke daerah perbatasan dengan negara tetangga.

"Investasi meningkat 160% dari 2014-2018. Pembangunan pemerintah dirasakan betul oleh masyarakat. Pengangguran berkurang, kemiskinan berkurang. Pemerataan pembangunan meningkat. Walau pertumbuhan belum 7%, tapi berkualitas. Lapangan kerja ada. Jadi kita sudah berada di arah yang benar," paparnya.

Sementara ditempat yang sama, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengingatkan generasi muda bahwa persiapan menuju Indonesia emas pada 2045 harus dimulai dari sekarang.

Menurutnya, terdapat sejumlah syarat yang harus dilakukan calon pemimpin jika ingin mewujudkan harapan tersebut.

Pertama, anak muda dan pemimpin saat ini harus bisa membaca tanda-tanda zaman. Salah satunya harus menyesuaikan dengan perkembangan saat ini yang memasuki era 4.0

"Ke depan itu bagaimana. Saya minta kepala dinas gaul, berkolaborasi dengan start up 4.0 seperti apa. Kalau enggak bisa membaca tanda zaman, jadi dinosaurus," kata alumni HI Unpar tersebut.

Kedua, generasi muda harus fokus terhadap keahlian dan bidang yang tengah digeluti. Dia mengkritisi kebiasaan anak muda saat ini yang tidak konsisten dalam menjalankan aktivitas.

"Jadi mau menggarap apa, ahli di bidang apa, harus fokus. Dulu saya punya pilihan banyak, tapi fokus ke politik. S1, S2, S3 politik. Sekarang banyak generasi muda yang gagal fokus. Itu kelemahan generasi sekarang," paparnya seraya menyebut generasi muda pun harus menyiapkan stamina, jiwa, dan raga untuk mencapai keemasan tersebut," tandasnya.[son]

Komentar Pembaca
Wartawan Diselamatkan TNI

Wartawan Diselamatkan TNI

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 12:00:00

Prabowo Tenangkan Pendukung: Kekerasan Jangan Dibalas Kekerasan
Sampai Hari Raya

Sampai Hari Raya

KAMIS, 23 MEI 2019 , 10:00:00