Hari Kartini Dan Perempuan-Perempuan Pesisir

Oleh: Hendra Wiguna

Opini  MINGGU, 21 APRIL 2019 , 10:37:00 WIB

Hari Kartini Dan Perempuan-Perempuan Pesisir

Foto: Net

HARI Kartini identik dengan penghayatan perjuangan seorang perempuan Indonesia, yakni Raden Adjeng Kartini.

Beliau mencetuskan pemikiran-pemikiran berkenaan dengan kondisi sosial perempuan Indonesia. RA Kartini lahir di Jepara, daerah yang terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah. Daerah ini terkenal dengan kerajinan ukir serta populasi nelayan yang cukup besar.

Selain RA Kartini, perempuan pesisir yang menjadi inspirasi perempuan Indonesia adalah Laksamana Malahayati, seorang laksamana laut perempuan pertama di dunia. Beliau adalah panglima perang Kesultanan aceh yang tersohor karena keberaniannya saat melawan armada angkatan laut Belanda dan portugis pada abad ke 16 M.

Dan bisa jadi banyak sekali perempuan-perempuan pesisir yang dapat dijadikan inspirasi, baik perempuan pejuang dimasa silam ataupun sekarang ini.

Indonesia memiliki laut yang lebih luas dari daratannya, panjang garis pantai Indonesia sendiri sekitar 99.093 km menjadikannya terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kebanyakan di sepanjang garis pantai inilah terdapat perkampungan, yang pada umumnya cukup padat.

Mayoritas masyarakatnya menjadi nelayan tradisonal bagi yang laki-laki sedang perempuannya berdagang. Adapun aktivitas nelayan tersebut waktu melautnya bisa di pagi hari ataupun dimalam hari, durasi waktunya kebanyakan antara 8-10 jam. Sedang perempuan biasanya menjajakan hasil tangkapan suaminya baik berupa ikan mentah ataupun ikan yang sudah diolah.

Jika kita perhatikan dengan seksama, aktivitas atau durasi jam kerja perempuan di pesisir itu lebih panjang ketimbang dengan aktivitas nelayan terutama untuk di daerah Kota Semarang.

Jika nelayan melaut dari pukul 05.00 WIB, maka perempuan atau istri nelayan ini menyediakan perbekalan sebelum jam 05.00 WIB artinya perempuan ini memulai aktivitasnya lebih awal dari nelayan/suaminya.

 Ketika nelayan melaut, istri nelayan ini menyelesaikan tugas rumah tangga seperti bersih-bersih ataupun menyiapkan perbekalan anaknya ketika hendak bersekolah. Kemudian dilanjut dengan aktivitas mengolah hasil tangkapan ikan, ataupun ketika nelayan sudah pulang ikut membersihkan ikan hasil tangkapan terutama kerang, adapula yang aktif membuat kerjinan dari kulit kerang.

Selain itu, mereka juga kadang langsung menjajakan hasil tangkapan dan pengolahan ikan ke pasar.

Jadi selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, perempuan pesisir secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi hasil perikanan serta kegiatan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

ahkan dibeberapa daerah bisa dijumpai perempuan pesisir ini menjadi nelayan, seperti di Desa Purworejo Kabupaten Demak dan di Desa Torosiaje Laut Kabupaten Pohuwato. Sekarang sudah berdiri sebuah organisasi yang menaungi perempuan-perempuan nelayan yakni Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Melihat begitu gigihnya perempuan pesisir ini, perlu perhatian lebih dari pemerintah terutama dalam bidang pendidikan. Hal ini dimaksudkan sebagai perwujudan dari penghayatan Hari Kartini, momentum ini jangan semata-mata hanya sebagai agenda tahunan saja.

Namun, menjadi refleksi bagi keberjalanan pemerintah sudah sejauh mana memberikan perhatian kepada perempuan pesisir. Karena perempuan adalah tiang negara, Annisa ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad.

Penulis adalah Humas KNTI Semarang


Komentar Pembaca
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00