Len Industri Raih Pendapatan Terbesar BUMN NDHI

Ekbis  JUM'AT, 10 MEI 2019 , 22:51:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

Len Industri Raih Pendapatan Terbesar BUMN NDHI

RUPS PT Len Industri (Persero)/dok

RMOLJabar. Sebanyak enam BUMN klaster National Defence and Hightech Industry (NDHI) telah melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2018. PT Len Industri (Persero) meraih pendapatan terbesar dari keenam BUMN tersebut.

Enam perusahaan plat merah anggota NDHI adalah PT Len Industri (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), PT INTI (Persero), dan PT Industri Nuklir Indonesia (Persero).

RUPS Tahun Buku 2018 dipimpin oleh Deputi Bidang Pertambangan Industri Strategis dan Media (PISM), Fajar Hary Sampurno, bertempat di Gedung Wisma Antara, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Fajar menyampaikan, bahwa kinerja BUMN anggota NDHI tahun 2018 semakin membaik dari tahun sebelumnya. Len Industri bersama Dahana dan Pindad juga memberikan dividen bagi pemegang saham.

"Dalam RUPS tersebut memutuskan diantaranya Len Industri memberikan dividen kepada negara sebesar Rp. 12 milyar atau 9,01% dari laba bersih, atau angka terbesar yang pernah diberikan Len Industri kepada pemegang saham," ucap Fajar, dalam keterangan yang diterima Kantor Berita RMOLJabar, Jumat (10/5).

Sementara itu, Direktur Utama, Zakky Gamal Yasin mengatakan, pihaknya telah melewati tahun 2018 dengan sangat baik. PT Len Industri membukukan pendapatan sebesar Rp.5,3 triliun atau meningkat 25,5% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp. 4,25 triliun dan 24,67% lebih tinggi dari target yang ditetapkan.

"Sedangkan NPM (Net Profit Margin) mencapai angka 2,5% atau Rp.133 Milyar. Laba bersih ini meningkat sebesar 117% dari tahun 2017 yang sejumlah Rp. 61 milyar, atau 12,55% lebih tinggi dari target," ungkapnya.

Dikatakan Zakky, lini bisnis sistem transportasi menjadi yang paling dominan menyumbangkan 68,68% dari total pendapatan perusahaan. Diikuti oleh lini bisnis ICT sebesar 13,9%, Elektronika Pertahanan sebesar 9,82%, Renewable Energy sebesar 6,01%, serta Sistem Navigasi sebesar 1,4%.

"Kontribusi pendapatan konsolidasian tahun 2018 berasal dari proyek-proyek multiyears tahun sebelumnya serta proyek-proyek baru, terutama dari pembangunan Skytrain, Light Rail Transit (LRT), Sistem Pertahanan Udara Starstreak, dan pembangunan Papala Ring Paket Tengah," terang Zakky.

Selain itu, lanjut Zakky, dengan terealisasinya beberapa sinergi antar BUMN telah memperkuat kekompakan serta keselarasan dalam mendukung program pembangunan infrastruktur.

Hal ini tercermin dari keberhasilan penyelesaian proyek-proyek strategis secara tepat waktu, yakni LRT Sumatera Selatan dan Skytrain Bandara Internasional Soekarno Hatta.

"Sinergi akan menjadi tonggak dimulainya peluang tindak lanjut kerjasama penyelesaian proyek sejenis di wilayah kota-kota besar lainnya, bahkan hingga ke level internasional sangat terbuka," tuturnya.

Lebih lanjut, Zakky menjelaskan, ada beberapa program strategis yang dijalankan sepanjang tahun 2018. Yang pertama adalah perubahan visi, misi, dan budaya perusahaan serta peningkatan brand awareness untuk kompetensi dan produk. Yang kedua yakni pengambangan market Non-APBN dan model bisnis baru.

"Dari tahun ke tahun kita selalu berinovasi meningkatkan porsi presentase Non-APBN. Realisasinya antara lain dengan sinergi BUMN berupa penggarapan proyek infrastruktur seperti Skytrain Basoetta, LRT Jakarta, LRT Sumatera Selatan, serta LRT Jabodebek. Selanjutnya penetrasi ke pasar luar negeri di Asia dan Afrika untuk lini bisnis transportasi perkeretaapian dan energi," katanya.

Dalam hal ini, sambung Zakky, pihaknya bersama BUMN lain membentuk IRDC atau Indonesia Railway Development Consortium. Sedangkan model bisnis baru  berupa bisnis managed service, antara lain berupa penyediaan SMART KIOSK di outlet-outlet Bank BNI.[son]


Komentar Pembaca