Kampung Film Black Team, Hollywood Van Bandoeng

Ragam  MINGGU, 12 MEI 2019 , 17:33:00 WIB | LAPORAN: SONY FITRAH P

Kampung Film Black Team, Hollywood Van Bandoeng

Shooting film Wayang | Dok. Gugum SA

RMOLJabar. Anak muda kota Bandung dikenal dengan kreatifitasnya. Itulah kenapa Industri kreatif di Bandung berkembang dengan pesat, mulai dari industri fashion, kuliner, hingga industri musik.

Terus di Industri Perfilman bagaimana?

Tercatat film produk Indonesia pertama berjudul "Loetoeng Kasarung", dibuat oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dengan didukung oleh aktor lokal. Jadi berdasarkan sejarah, Bandung adalah cikal bakal industri film Indonesia.

Sayangnya kini kota Bandung bukan lagi pusat industri film Indonesia.

Idealisme Anak Muda Kota Bandung

Sekelompok anak-anak muda kota Bandung yang tergabung dalam komunitas Black Team tak takut bercita-cita tinggi. Salah satu dari empat anak muda itu adalah Gumilar Sayidul Akbar atau lebih dikenal sebagai Kang Gugum SA. Berbekal idealisme mereka ingin menjadikan kota Bandung sebagai Hollywood-nya Indonesia.

"Awalnya mereka kumpul dan sama-sama suka bikin video. Di bina sama "Pak Dede" yang dulunya aktif di perfilman sebagai penulis naskah dan sutradara dari jaman Pak Teguh Karya," kata Humas Komunitas Kampung Film Black Team Ida Rabiah Al-Adawiyah atau akrab dipanggil Teh Ida kepada RMOLJabar, Minggu (12/5).

Diceritkan Teh Ida, Film pertama karya mereka adalah karya "Pak Dede". Dia yang membuatkan sebuah cerita film  dengan judul "the capitalis"

. Keterbatasan peralatan dan kemampuan teknis tak jadi halangan buat anak-anak mudi itu untuk menyelesaikan film pertama mereka.

"Filmnya dibuat dengan alat seadanya dan baru selesai dalam 9 bulan. Hasilnya masih berantakan dengan durasi 2 jam," kata Kang Gugum SA.

Keberhasilan menyelesaikan film pertama, membuat Kang Gugum Cs. tambah semangat untuk membuat fil-film lainnya. Kini, setelah tujuh tahun berakrya mereka sudah buat puluhan film pendek dan dua Film dengan durasi panjang.


Black Team

Disisi lain, anggota komunitas Black Team pun dari hari-kehari terus bertambah dari anak 3 th hingga orang berumur 82 th.

"Karena kami sering shoting di sana maka orang-orang menyebutnya kampung film. Padahal, nama salinya Black Team," kata Teh Ida.

Dijelaskan Kang Gugum, nama Black Team

awalnya tak punya filosofi apa pun, hanya karena para anggotanya suka warna hitam. Namun kemudian hari muncul pemahaman, warna hitam itu tidak mudah dipengaruhi warna lain dan tidak selamanya berkonotasi kegelapan.

"Maka akhirnya kampung film di sebut Kampung Film Black Team. Lokasinya di daerah Cisaranten Endah Arcamanik," Demikian Kang Gugum.

Berprestasi

Kang Gugum menuturkan, yahun lalu pihaknya memecahkan rekor pembuatan film tercepat. Film tersebut Selesai dalam 9 jam dengan melibatkan 1.532 orang pemain tanpa dibayar.

"Kita mengambil tema fiksi tentang Dalang Amung Sutarya.  Kita ingin mengangkat tokoh dalang Amung Sutarya yg murid-muridnya terkenal tapi Pak Amung sendiri tidak terkenal bahkan cari di google juga tak ada," katanya.

"Kita buat film dengan mengangkat sisi dalangnya, bukan Wayangnya.  Apa motivasi mereka berkesenian, apa saja karya mereka , bagaimana mereka bekerja dengan mempertahankan budaya dan tradisi," lanjutnya.

Menurut Gugum, kerjasam pihaknya dengan Dispora Kota Bandung menentukan keberhasilan pembuatan film tersebut. " Pak Sony (Sony Teguh) yang selama ini membina kami," sebutnya.

Kekompakan dari berbagai institusi juga turut berandil besar. "Kapolsek kirim 20 pasukanya, ikut main. Koramil juga kirim pasukannya, ikut main. Pak Camat, Pak lurah dan Karangtaruna dan komunitas-komunitas juga ikut," ujarnya.

Alhasil, karya Film tercepat itu dibuat pagi dan ditonton secara bersama-sama oleh semua pemain yang dilibatkan pada malam harinya. "Ditonton semua yang terlibat dalam film itu. Bahkan Kemendikbud, Kemenpora, Pusbang film datang juga ke sana untuk nonton," kata Teh Ida.

Teh Ida juga mengungkapkan, tiga bulan kemudian komuitas film mereka kembali pecahkan rekor pembuatan film lingkungan terbanyak. Ceritanya tentang Citarum Harum, total karya yang terkumpul 1060 film pendek.  Menurut Teh Ida, yang dilihat bukan masalah teknis tapi ide cerita dan solusi untuk mengatasi masalah pencemaran Citarum.

"Itu memecahkan rekor Indonesia dan rekor dunia juga," kata Teh Ida.

Stakeholder Film Indonesia

Kerja keras dan konsistensi Black Team ternyata diakui oleh banyak pihak. Tak hanya di tingkat kota dan Provinsi, kini komunitas Black Team diakui Institusi Film Nasional.

"Kita Masuk juga ke badan perfilman Indonesia, dari 2500 komunitas film hanya enam yang terverifikasi dan salah satunya kita," kata Kang Gugum SA.

Menurut Kang Gugum, saat ini Komunitas Black Team jadi stakeholder di badan perfilman Indonesia dan punya hak suara dalam pemilihan ketua maupun pengurus. Selain itu, mereka juga punya hak suara untuk memberikan masukan tentang perfilman di Indonesia.

"Jadi itu sebagian kontribusi kami terhadap perfilman di Indonesia," Demikian Gugum SA. [son]

Komentar Pembaca