Pilpres 2019 Bukan Pertarungan Politik Identitas, Melainkan Kontestasi Prabowo-Jokowi Yang Belum Usai

Politik  SENIN, 20 MEI 2019 , 00:45:00 WIB | LAPORAN: YUSLIPAR

Pilpres 2019 Bukan Pertarungan Politik Identitas, Melainkan Kontestasi Prabowo-Jokowi Yang Belum Usai

Prof Azyumardi Azra/RMOLJabar

RMOLJabar. Pertarungan pilpres 2019 yang sebentar lagi akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebetulnya tidak mengandung unsur politik identitas. Akan tetapi pilpres hari ini menyuguhkan pertarungan yang belum usai antara Jokowi dan Prabowo di tahun 2014.

Begitu dikatakan, Cendikiawan Muslim Prof Azyumardi Azra, usai menjadi pembicara dalam talkshow yang bertajuk 'Tafakkur Untuk Negeri', di Tajug Gede Cilodong, Kabupaten Purwakarta, Minggu (19/5).

"Politik identitas ini tidak laku di Indonesia. Kalau kita lihat misalnya, di pilpres itu antara paslon 01 dan 02 dan para pendukungnya itu seolah ada politik identitas, sebetulnya lebih banyak faktor persaingan yang berlanjut kembali. Sehingga kemudian menjadi lebih sengit. Karena pertarungan itu menjadi yang terakhir buat mereka," kata Prof Azyumardi.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan, adapun politik identitas yang mencuat pada pemilu 2019 kemarin, karena adanya keterlibatan mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan alumni 212.

"Politik identitas itu pertama, adanya keterlibatan orang-orang eks HTI atau alumni 212," jelasnya.

Dirinya mencontohkan, jika ada politik identitas yang terjadi di pemilu 2019, tentu bukan PDI-Perjuangan yang memenangkan kontestasi hari ini, akan tetapi partai-partai Islam yang akan memenangkannya.

"Kalau kita lihat di pileg gak ada politik identitas, karena yang menang partainya PDIP, pasti mayoritas pemilih PDIP itu pemilih muslim, jadi tidak ada politik identitas. Kalau ada politik identitas di Pileg maka yang menang itu PKS, PBB, PPP, malah PBB kan gak lolos," terangnya.

Sehingga kata dia, masyarakat yang menentukan hak pilihnya tidak didasari oleh agama. Masyarakat dengan sendirinya memilih atas dasar keinginannya sendiri.

"Walaupun PDIP dihantam hoax karena perkataan Ibu Mega yang menyebut tidak memerlukan pemilih Islam, itu dirasa tidak relevan. Buktinya PDIP tetap menjadi pemenang," pungkasnya. [yud]

Komentar Pembaca