Puasa Substantif Dan Problem Kebangsaan

Oleh: Sudarnoto A Hakim

Opini  SABTU, 25 MEI 2019 , 18:37:00 WIB

Puasa Substantif Dan Problem Kebangsaan

Sudarnoto A Hakim/Net

IMSAK adalah salah satu arti penting Siyam yaitu menahan diri atau mengendalikan diri. Kemampuan  pengendalian diri (self control) itu  penting sekali dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kecerdasan emosional (emotional quotient).

Jika seseorang atau kelompok masyarakat tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri, maka emosi negatif dan  destruktif yang muncul. Sementara secara natural kehidupan itu membutuhkan harmoni, ketenangan,  kedamaian dan kebahagiaan. Karena itu pikiran, perasaan,  ujaran, tindakan dan habit yang sehat dan positif menjadi syarat.

Hidup yang sehat itu memiliki kecerdasan emosional yang dibuktikan melalui pengendalikan diri (Imsak) dalam pengertian yang luas. Dengan cara ini maka sistim kehidupan yang dibangun tidak akan memberikan ruang bagi tumbuhnya keburukan,  kebusukan dan kejahatan (su',  fahsya’, dan munkar). Orang yang tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri, pastilah gagal memimpin dirinya apalagi memimpin banyak orang; hidupnya akan mengalami disorientasi seperti seseorang yang disuruh segera bangun tidur dan lari sekencang-kencangnya.

Orang-orang yang kehilangan orientasi hidup karena ketidak mampuannya untuk mengendalilan diri  cenderung menguat egonya (egosentris) dan mengabaikan orang lain, menganggap dirinya paling benar, cenderung menyerang orang lain dalam pengertian luas. Karena itu, sikap antipati kepada orang lain sangat menonjol ketimbang berempati dan bersimpati, karena orang lain dinilai sebagai gangguan dan ancaman.

Memang banyak alasan  orang bersikap antipati kepada orang lain antara lain karena motif ras atau etnis, sosial budaya, ideologi,  agama dan kepercayaan,  politik dan juga motif ekonomi. Hal ini juga tergambar secara kasat mata dalam kehidupan berbangsa kita. Berbagai konflik atau kerusuhan, termasuk yang terjadi pada tanggal 21 dan 22 Mei, dan bahkan mesaker atau pembantaian yang terjadi di banyak tempat dan menimbulkan banyak korban, kerugian dan kerusakan sangat meyakinkan bahwa sikap antipati dan  intoleransi saling berkelindan dan saling  menguatkan.

Ini menimbulkan dampak buruk secara sosial,  psikologis,  politik dan keamanan. Bahkan yang memprihatinkan ialah dalam banyak kasus,  tindakan tindakan ini diberi lejitimasi keagamaan. Keluhuran agama telah diperkosa oleh  orang-orang/kelompok yang tak terkendali dan sakit jiwa yang dalam bahasa agama disebut sebagai orang-orang yang terpengaruh oleh al-nafs al-lawwamah dan al-nafsul ammaroh. Merekalah orang-orang yang mengalami kegagalan Puasa Substantif dan destruktif pada diri dan orang lain, lingkungan dan kehidupan berbangsa.  

Ketenteraman dan Integrasi Nasional

Peristiwa 21 hingga  23  Mei tempo hari adalah a political turbulence, goncangan yang begitu cepat dalam kehidupan politik berbangsa.

Suasana semakin destruktif sejak diimanfaatkan oleh gerombolan perusuh dan teroris. Tentu saja ini disamping menciderai kesucian dan keberkahan bulan Ramadhan juga mengancam stabilitas dan integrasi bangsa. Mereka inilah kelompok inkonstitusionalis dan intolerans yang tidak  akan peduli kepada kesatuan dan keutuhan bangsa karena tujuannya memang mengadu domba dan disintegrasi.

Kehadiran negara menjadi sangat penting tidak saja untuk menangani kelompok-kelompok perusuh dan teroris yang membonceng dan merusak demokrasi  tentu dengan cara-cara yang sesuai dengan konstitusi,  moral dan manusiawi. Negara juga sekaligus bertugas membangun public trust dan meyakinkan masyarakat luas bahwa masyarakat,  bangsa dan negara tidak boleh dibajak atau dirampok oleh kelompok yang jiwanya Lawwamah dan Ammaroh.

Tragedi Ramadhan kemarin sudah seharusnya juga menjadi momentum penting terutama bagi para pemimpin,  tokoh dan para elit lintas agama, ormas dan partai politik dan semua kekuatan civil society  memperkuat aliansi nasional untuk keamanan,  ketenteraman dan integrasi nasional.

Secara politik dan hukum persoalan Pemilu diselesaikan sesuai dengan aturan perundangan,  secara hukum para perusuh  juga ditangani dan secara kultural problem ancaman terhadap keamanan dan potensi destabilitas diselesaikan melalui dialog persuasif.

Jadi selain rekonsiliasi  dalam rangka merajut kembali bangsa ini ialah memperkokoh konsolidasi dalam rangka menghadapi dan menghentikam rongrongan kekuatan jahat anti Pancasila dan NKRI yang mungkin bisa menelusup di mana-mana. Inilah salah satu cara menghidupkan atau mentransformasikan spirit Siyam Ramadhan dalam kehidupan berbangsa.

Penulis adalah Associate Professor FAH UIN Jakarta dan asisten stafsus Presiden RI

Komentar Pembaca
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00