Pengamat: Publik Transport Indonesia Menunggu Kematian

Politik  RABU, 12 JUNI 2019 , 17:12:00 WIB | LAPORAN: DINNI KAMILANI

Pengamat: Publik Transport Indonesia Menunggu Kematian

Ilustrasi/Net

RMOLJabar. Publik transport atau tranportasi publik di Indonesia saat ini tengah menunggu kematiannya, pasalnya untuk di daerah-daerah yang masih menggunakan konsep konvensional dengan model angkot tanpa subsidi misalnya, dipastikan akan tergerus oleh transportasi online, belum lagi harus bersaing dengan kendaraan pribadi.

"Konsep konvensional dengan model angkot tanpa subsidi itu sudah jelek banget kalah dengan online, artinya ada kematian publik transport di daerah-daerah karena kalah bersaing, nah kemudian ada peningkatan kendaraan pribadi," Demikian disampaikan Pengamat Perkotaan dan Transportasi, Yayat Supriatna kepada kantor berita RMOLJabar, Rabu, (12/6).

Sehingga menurutnya, saat ini bagaimana pemerintah dapat memeperbaiki sistem publik transport menjadi lebih optimal, dengan melakukan revolusi  publik transport yang semakin baik, nyaman, cepat, dan murah.

"Kalau tidak ada revolusi terkait dengan layanan, transportasi publik daerah, tinggal menunggu saat kematian saja," ujarnya.

Tanpa adanya dukungan pemerintah secara maksimal, dipastikan publik transport konvensional yang ada saat ini perlahan tapi pasti tidak akan mempu bersaing dan akan ditinggalkan masyarakat. Terlebih saat ini masyarakat memiliki 2 pilihan yakni tranportasi online dan kendaraan pribadi.

"Jadi bagaimana konsep kedepan itu membangun, memperkuat, dan meningkatkan publik transport yang semakin optimal," tandasnya. [jar]

Komentar Pembaca