Pendiri Partai Demokrat Jabar: Jangan Ada Kongres Luar Biasa!

Politik  JUM'AT, 14 JUNI 2019 , 11:51:00 WIB | LAPORAN: YUDHA SATRIA

Pendiri Partai Demokrat Jabar: Jangan Ada Kongres Luar Biasa!

Partai Demokrat/Net

RMOLJabar. Keinginan sejumlah pendiri dan senior Partai Demokrat yang mendorong partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih ketua umum, mendapat kritikan dari pendiri Partai Demokrat Jawa Barat Yan Rizal Usman.

Menurut Yan Rizal, KLB hanya akan merusak tradisi dan tatanan demokrasi. Cukup satu kali KLB yang terjadi di partai berlambang mercy ini, karena ketika tradisi itu terus dijalankan akan berulang KLB KLB berikutnya.

"Jika SBY diganti dengan KLB, maka ini menjadi tradisi buruk dan merusak demokrasi yang sedang dibangun di tanah air. KLB akan berulang dengan KLB berikutnya, sangat buruk untuk PD dan nasib para kader ke depannya," kata Yan Rizal, kepada RMOLJabar, Jumat (14/6).

Yan Rizal menilai, semua kader boleh saja membicarakan persiapan Kongres, jika tidak ada hambatan, Kongres akan dilaksanakan pada bulan Mei 2020. Sehingga, jika kongres dilaksanakan bukan dengan KLB maka pada ajang itulah semua kader potensial diberi kesempatan untuk berjuang menangkan suara pemilih, yaitu ketua DPD, Ketua DPC dan Unsur DPP.

"SBY tidak boleh dijatuhkan sebagai Ketua Umum, walaupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang akan ditunjuk sebagai pengganti," tegasnya.

Sehingga kata Yan Rizal, jadikanlah Partai Demokrat sebagai partai terbuka bukan partai Dinasty yang akan semakin menyulitkan untuk tumbuh nantinya.

Bahkan kata dia, Partai Demokrat saat ini dirasa perlu menghadirkan tokoh nasional untuk memimpin pada periode berikutnya. Yaitu tokoh yang punya integritas tinggi, egaliter dekat dengan rakyat dan mudah menerima kader kapan saja dan dimana saja.

"Tokoh yang membuat kader di daerah bangga dan senang hati menerimanya, bukan yang memberatkan atau bahkan menyulitkan," jelasnya.

Disamping itu, soal sikap Partai Demokrat pasca pilpres yang telah berlangsung ini, dirinya menilai bahwa Partai Demokrat tidak mempunyai genetik untuk menjadi partai oposisi.

"Partai demokrat akan tetap berada menjadi partai tengah walaupun ada kadernya duduk di pemerintahan," pungkasnya.

Sebelumnya, Sejumlah pendiri dan senior Partai Demokrat membentuk presidium gerakan moral penyelamatan partai berlambang mercy. Mereka mendorong Demokrat segera menggelar Kongres Luar Biasa untuk memilih ketua umum.

Salah satu inisiator gerakan ini, Max Sopacua, menjelaskan bahwa para senior prihatin dengan perolehan suara Partai Demokrat yang anjlok ke angka 7,7 persen pada pemilu legislatif 2019. Padahal, pada pemilu 2014 lalu perolehan suara Demokrat mencapai 10,9 persen.

"Terkait kondisi ini, diperlukan adanya introspeksi dan evaluasi menyeluruh untuk kemudian bersama seluruh potensi dan kader guna membangkitkan semangat dan mengembalikan marwah serta kejayaan Partai Demokrat," kata Max dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (13/6).

Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan partai. Para senior ini akan segera menyiapkan dan melaksanakan Silaturahim Nasional untuk memanggil dan mengundang para kader dan keluarga besar partai Demokrat yang pernah bersama dan berjuang mendirikan.

Targetnya adalah agar Demokrat segera menggelar Kongres Luar Biasa, forum tertinggi untuk memilih ketua umum dan jajaran pengurus. Normalnya, Kongres Demokrat baru akan digelar pada 2020. Namun, para senior mendorong Kongres Luar Biasa digelar pada tahun ini. [yud]


Komentar Pembaca
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00