PB HMI Apresiasi Babak Baru Pengembangan Blok Masela

Politik  SELASA, 18 JUNI 2019 , 21:18:00 WIB | LAPORAN: RIZAL FADILLAH

PB HMI Apresiasi Babak Baru Pengembangan Blok Masela

Muhammad Ichsan/Ist

RMOLJabar. Pengembangan Blok Masela akan segera menemui babak baru. Hal itu setelah ditandatanganinya Head of Agreement (HoA) pengembangan Blok Masela oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK) Migas Dwi Sutjipto dan Inpex Corporation selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Atas hal itu, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mengapresiasi keseriusan pemerintah dalam pengembangan lapangan hulu minyak dan gas bumi (migas) Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Laut Arafuru, Maluku.

"PB HMI mengapresiasi Head of Agreement terkait pengembangan Blok Masela," ucap Ketua PB HMI, Muhammad Ichsan di Bandung, Selasa (18/6).

Ichsan mengatakan, ketahanan energi (energy resilience) menentukan ketersediaan energi yang akan menentukan kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, tanpa ketahanan energi, tidak mungkin suatu bangsa bisa menjadi besar, maju, dan makmur.

"Eksplorasi serta eksploitasi migas memang hal yang penuh risiko. Selain padat modal, juga padat teknologi. Oleh karenanya, kegiatan eksplorasi dan produksi migas diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi industri penunjang, agar menghasilkan multiplier effect (efek ganda) bagi kegiatan ekonomi lain," jelasnya.

Meski begitu, Ichsan menyesalkan tambahan waktu selama 7 tahun masa kerja sama yang diberikan kepada Inpex Corporation sesuai yang tercantum dalam perjanjian Plant of d Development (PoD). Padahal, waktu tambahan kontrak kerja sama yang diajukan investor tersebut adalah 10 tahun.

Dengan keputusan tersebut, kata Ichsan, investor terpaksa harus memperbesar ukuran (size) kilang terapung (FLNG) untuk menjaga net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR) tetap menarik bagi pemberi pinjaman (lender).

"Dulu tahun 2008 kalau tidak salah pernah juga PoD Blok Masela disetujui dengan FLNG size 2,5 juta ton per tahun (Mtpa). Lalu tahun 2010 juga pernah disetujui FLNG 4,5 Mtpa. Nah, itu juga proyek yang jalan di tempat karena tidak ada pembeli LNG-nya," katanya.

Ichsan menilai, PoD migas bukan hanya sekedar euforia nasionalisme semata. Singkatnya, dengan PoD FLNG size 7,5 Mtpa yang diberikan kepada Inpex Corporation, jangka waktu kontrak kerja sama idealnya 10 tahun.

"Sekarang pemerintah memberikan waktu hanya 7 tahun. Justru ini akan merugikan masyarakat sekitar wilayah eksplorasi migas serta industri penunjang migas dalam memberikan nilai tambah yang semakin jauh akibat biaya produksi meningkat. Saya akhirnya mengutip dari statement beberapa pakar migas bahwa LNG tidak ada pembeli, proyek macet, investor pun pergi," tandasnya. [gan]

Komentar Pembaca
Tiru Cara BG, Siasat Imam Nahrawi Lolos dari KPK

Tiru Cara BG, Siasat Imam Nahrawi Lolos dari KPK

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 23:19:03

Lomba Pacu Jalur Peserta Terbanyak

Lomba Pacu Jalur Peserta Terbanyak

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 14:31:46

Ini Skenario Gerindra Masuk Kabinet

Ini Skenario Gerindra Masuk Kabinet

JUM'AT, 18 OKTOBER 2019 , 21:08:45

Anies Dan 100 Ribu Bougenville

Anies Dan 100 Ribu Bougenville

KAMIS, 22 AGUSTUS 2019 , 06:16:00

Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

Perpustakaan Keliling Satgas Yonif 411/Pandawa Kostrad