Ketua Pansel KPK: Kami Berusaha Agar Radikalisme Tidak Masuk Dalam Tubuh KPK

Politik  RABU, 19 JUNI 2019 , 15:29:00 WIB | LAPORAN: RIDWAN ABDUL MALIK

Ketua Pansel KPK: Kami Berusaha Agar Radikalisme Tidak Masuk Dalam Tubuh KPK

RMOLJabar

RMOL. Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan, pihaknya akan menilai kemungkinan terpaparnya paham radikalisme terhadap calon yang mendaftarkan diri dalam seleksi komisioner KPK. Hal tersebut seiring dengan perkembangan paham radikalisme di Indonesia yang semakin meluas.

Demikian disampaikan, Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih, saat ditemui RMOLJabar di Universitas Katolik Parahyangan, Kota Bandung, Rabu, (19/6).

Yenti mengatakan, persyaratan radikalisme merupakan masukan dari seluruh anggota pansel. Hal tersebut dinilinya sangat penting, agar komisioner KPK terpilih seluruhnya memiliki kecintaan terhadap NKRI dan mengimani ideologi Pancasila.

"Ini masalah lama yang memang ada di Indonesia, dan kita harus menjaga keutuhan NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Jangan sampai ada yang menganggau keutuhan itu," ucapnya.

Selain itu, Yenti juga mengungkapkan, alasan lain yang membuat Pansel KPK menjadikan persoalan radikalisme sangat penting yaitu statemen Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menyebutkan bahwa ada indikasi ideologi Radikalisme di dalam tubuh lembaga anti rasuah tersebut.

Meskipun, menurut Yenti, Pansel KPK sudah bertemu dengan komisioner KPK dan mereka memastikan apa yang selama ini ramai di media massa tidak seluruhnya benar.

"Kami berjaga-jaga dan berusaha agar tidak ada orang yang terpapar paham itu (radikalisme) jadi komisioner KPK. Dari 260 juta orang di Indonesia masa tidak ada lima orang yang baik. Kan kita hanya butuh lima saja," tuturnya.

Selanjutnya, Yenti juga menambahkan radikalisme yang ada saat ini bisa saja berkaitan dengan kelompok tertentu. Paham tersebut bilamana masuk dalam tubuh KPK, akan merusak sistem dikarenakan berafiliasi dengan kelompok radikal.

"Ini untuk kepentingan bangsa bukan kelompk apapun dan politik. Bisa jadi pelaku atau calon misalnya, bagian dari teraviliasi terorisme, radikalisme, sindikat," pungkasnya. [jar]

Komentar Pembaca
Tidak Ada Tindakan Tegas, Perekonomian Bisa di Bawah 5 Persen
Pencuri di Semarang Hanya Butuh 10 Detik Gasak Motor
PKS Konsisten Oposisi

PKS Konsisten Oposisi

SENIN, 21 OKTOBER 2019 , 14:43:03

Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

Perpustakaan Keliling Satgas Yonif 411/Pandawa Kostrad
Bentrok Dengan Polisi, Puluhan Mahasiswa Luka Dievakuasi Ke UNISBA