Lewat Dialog Damai, Kopri Bandung Ingatkan Kesadaran Nasionalisme Pasca Pemilu

Politik  SABTU, 22 JUNI 2019 , 13:47:00 WIB | LAPORAN: RIDWAN ABDUL MALIK

Lewat Dialog Damai, Kopri Bandung Ingatkan Kesadaran Nasionalisme Pasca Pemilu

Dialog Damai KOPRI/RMOLJabar

RMOLJabar. Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Kota Bandung mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kondusifitas dan menjaga nilai-nilai nasionalisme pasca Pemilu 2019.

Demikian disampaikan, Ketua Kopri kota Bandung Ajeng Sylva dalam dialog damai bertemakan "merawat kembali nilai-nilai nasionalisme pasca pemilu", Gedung DPD KNPI Kota bandung, Jumat (21/6).

Ajeng mengatakan, masyarakat saat ini khususnya mahasiswa, harus memiliki kesadaran akan pentingnya nasionalisme, terlebih pasca pemilu 2019. Pasalnya, menurut Ajeng konflik yang terjadi di pemilu 2019 tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat akan rasa nasionalisme.

"Mahasiswa sebagai garda terdepan harus mampu merawat kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang mungkin terpecah pasca pemilu, dan harus mampu menjadikan pelajaran atas apa yang terjadi hari ini," ucap Ajeng, Kantor DPD KNPI Kota Bandung, Sabtu, (22/6).

Selanjutnya, Mabinda PMII Jawa Barat Yosep Yusdiana menuturkan, nasionalisme bukan suatu wacana baru dalam perkembangan berbangsa dan bernegra. Nasionalisme menjadi penting di negara karena berhubungan dan bersinggungan dengan politik kebangsaan di negara ini.

"Momentum hari ini harus dijadikan pijakan dalam menata masa depan politik kebangsaan, nasionalisme berangkat dari satu keagungan cita-cita anak bangsa bukan atas dasar momen-momen, namun nasionalisme harus tetap dibangkitkan," ujarnya.

Ditemui di tempat yang sama, Staff Komisioner Bawaslu, Iji Jaelani mengungkapkan, bahwa Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang paling rumit. Menurutnya mekanisme dan sistem yang berlaku menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan Pemilu.

"Pemilu serentak ini menjadi pemilu paling rumit, paling melehkan ada beberapa hal yang menjdi penyebab menjadi begitu peliknya yang pertama di UU Tahun 2017 mengenai mekanisme, kedua menjadi begitu rumit karena adanya sistem proporsional terbuka yang berarti semua Caleg berkompetisi dengan internal partai sendiri," ujarnya.

Iji juga menambahkan, bahwa Pemilu kali ini memakan proses yang begitu panjang dan dianggap rentan terhadap kepentingan. Meski begitu, Iji berpandangan Pemilu 2019 berjalan demokratis.

"Kemudian dari sisi tahapan pemilu ini merupakan pemilu terpanjang, lalu adanyan residu politik yang terjadi pada 2014 lalu kemudian mencuat, lalu budaya pragmatis itu tidak bisa dipisahkan masuk kedalam bentuk terselubung dari politik uang, output dalam kemajuan nasioanal pun tidak tercapai karena hanya sekedar memperebutkan kursi," pungkasnya. [aga]

Komentar Pembaca
Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

Shalat Jenazah Ustadz Arifin Ilham

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 02:38:00

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

Jembatan Terpanjang Se-Asia Tenggara

SELASA, 11 JUNI 2019 , 23:16:00

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

Mantan Kasal Shalat Ied Di Banuraja

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:39:00