Kemenag Catat Ribuan LGBT Di Majalengka, Begini Respon Muhammadiyah

Ragam  KAMIS, 18 JULI 2019 , 02:53:00 WIB | LAPORAN: DEFRI ARDYANSYAH

Kemenag Catat Ribuan LGBT Di Majalengka, Begini Respon Muhammadiyah

Ilustrasi/Net

RMOLJabar. Berdasarkan data dari Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, bahwa terdapat 1107 orang yang tergabung dalam kelompok  LGBT di Kabupaten Majalengka. Hal ini mendapat banyak respon, salah satunya dari Muhammadiyah Kabupaten Majalengka.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Majalengka, Ajid Yatiman mengatakan,  fenomena LGBT harus menjadi kajian khusus dan disikapi secara bijak oleh seluruh elemen masyarakat terutama Pemerintah Majalengka.

"Fenomena ini wajar kalau menimbulkan keresahan bagi banyak pihak, karena jelas dalam Al-Quran perbuatan tersebut sebagai perbuatan Fahisya," imbuhnya kepada Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (17/7).

Muhammadiyah, lanjutnya, sangat menentang segala bentuk pergerakan dari kelompok LGBT yang bisa meresahkan masyarakat.

"Bayangan kita itu peristiwa yang terjadi di masa lampau dan tidak mungkin terulang di masa sekarang, di negeri kita yang mayoritas muslim dan hampir seluruhnya beragama, namun ternyata hal itu bisa direproduksi," paparnya.

"Fenomena LGBT bisa dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, LGBT sebagai sesuatu yang given atau bawaan. Hal ini perlu mendapat therapi dan empati. Kedua, LGBT yang terjadi seperti di negara yang menganut humanisme-sekuler-liberal, LBGT menjadi gaya hidup yang dipilih. Hal ini yang perlu diwaspadai," lanjutnya.

Kemudian Ajid mengatakan, bahwa ketika gaya hidup penyimpangan seks disebarluaskan dan menjadi movement itu tidak bisa diterima oleh negara ini, karena ada dua alasan di balik hal tersebut, yaitu Pancasila dan Agama.

"Pancasila sebagai dasar negara, tidak bisa menerima fenomena ini. Asas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi landasan. Dalam dimensi ketuhanan Nilai-nilai ilahiyah berasal dari agama. Dalam dimensi kemanusiaan dengan keadaban memerlukan perilaku manusia yang fitri, bukan yang hewaniyah," ucapnya.

Ajid menjelaskan, bahwa Manusia yang beradab itu muncul dari nurani kemanusiaan yang sesuai dengan fitrah. Kebutuhan biologis diakui dan pemenuhannya secara tepat dan bermartabat.

"Kebutuhan biologis itu alamiyah. Bedanya dengan hewan, manusia ada institusi pernikahan yang sakral," jelasnya.

Ditegaskan Ajid, bahwa orang yang melakukan penyimpangan seksual termasuk golongan orang yang memilih anti Tuhan, dan itu bertentangan dengan Dasar Negara Republik Indonesia.

"Kita coba analogikan orang yang termasuk kedalam LGBT sama juga dengan memilih anti Tuhan, berarti hal tersebut bertentangan dengan Dasar Negara Republik Indonesia. Kalau masih seperti itu silahkan, karena itu pilihan dan harus sanggup mempertanggungjawabkannya, tapi jangan menuntut pengakuan negara. Apalagi mengkampanyekan dan mengajak orang lain," pungkasnya. [aga]

Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Hadiri Peringatan HANI 2019

Hadiri Peringatan HANI 2019

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 04:46:00

Jokowi Dan Trump Berbincang

Jokowi Dan Trump Berbincang

SABTU, 29 JUNI 2019 , 14:47:00

Jaga Kebersihan Pantai

Jaga Kebersihan Pantai

SABTU, 22 JUNI 2019 , 16:42:00