Lobi China Buka Pangsa Pasar Ekspor, Langkah Mendag Patut Diacungi Jempol

Ekbis  SABTU, 20 JULI 2019 , 15:30:00 WIB | LAPORAN: YUDHA SATRIA

Lobi China Buka Pangsa Pasar Ekspor, Langkah Mendag Patut Diacungi Jempol

Ilustrasi/Net

RMOLJabar. Langkah Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita, untuk datang langsung dan melobi China dalam upaya mendongkrak ekspor diacungi jempol oleh asosiasi pengusaha dan legislator.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang, mendukung upaya Mendag untuk melobi China. Ia menilai, langkah Mendag sangatlah penting dilakukan.

Mendag yang langsung pergi ke China menawarkan komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), buah-buahan dan sarang burung walet.

"Kita sangat mendukung upaya yang dilakukan Menteri Perdagangan membuka pangsa pasar ekspor ke China, sebab negara tirai bambu itu memiliki populasi mencapai 1.2 miliar, pangsa pasar yang punya prospek besar pula," kata Sarman, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/7)

Sarman menilai, strategi pendekatan bisnis dengan bisnis dan pemerintah dengan pemerintah harus dilakukan, karena China juga memiliki kebijakan yang membatasi impor.

Selama ini, lanjutnya, Indonesia merasa bahwa transaksi perdagangan antara Indonesia dan China tidak seimbang. Artinya jauh lebih besar impor barang dari China daripada ekspor komoditi kita.

"Sudah saatnya kita lebih proaktif mencari peluang baru di China dengan produk-produk yang mereka sangat butuhkan dari Indonesia," kata Sarman.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan langkah Mendag sudah tepat dengan melobi China langsung. Menurutnya, perdana menteri China pernah berjanji akan membeli CPO lebih banyak dari Indonesia.

"Positif sekali karena menagih janji. Sekarang mungkin menteri kita datang menagih," kata Sofjan.

Namun, Sofjan melihat kendala dalam kelapa sawit. Menurutnya, dari manufacturing harga yang ditawarkan Indonesia lebih mahal.

"Susahnya kita tidak masukin dan China itu dalam situasi pembelian dalam streat war, dia minta produk pertanian yang tidak bisa kita produksi. Tetapi kalau jumlah tanya menteri perdagangan saja. Pokoknya pemerintah jualan terus lah, biar produk-produk kita bisa dibeli," katanya.

Kemudian untuk sarang burung walet, kata dia, Indonesia semakin baik dalam kualitas dan mutu. Namun, saat ini tinggal mempercepat masalah intern agar ekspor sarang burung walet segera ada peningkatan.

"Biasanya sarang burung walet itu Indonesia biasanya ekspor melalui Malaysia. Sangkar burung dari sini kita bisa ekspor langsung. Dulu ada kendala. Urusan kita tidak memberikan kualitas yang baik. Tetapi dulu sudah diselesaikan oleh menteri perdagangan," katanya.

"Sekarang mungkin ditagih lagi juga karena kebutuhan mereka akan burung walet banyak sekali. China banyak impor," imbuhnya.

Dia pun optimis pemerintah bisa mendapat USD 1 miliar dalam satu tahun dengan menggejot ekspor tiga komoditas tersebut.

Sedangkan, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, menilai keberangkatan Mendag untuk melobi langsung China memang diperlukan.

Namun demikian, ia berharap secara konsisten wakil-wakil Indonesia, baik duta besar, maupun atase-atase perdagangan secara konsisten melakukan mata-mata pasar.

Heri juga mengatakan, demi memperbaiki neraca perdagangan dengan China, bisa saja Indonesia lebih selektif terhadap impor.

"Kita bisa kecilin impor, secara bijaksana atau tidak serampangan. Produk-produk yang sebenarnya bisa kita bikin dan lebih efisien maka tidak perlu kita impor dari China," jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Abdul Aziz mengatakan Mendag memang perlu upaya maksimal dan kreatif untuk memperbaiki neraca perdagangan. Perdagangan dengan China harusnya ditempatkan dalam konteks itu.

"Saya berharap kementerian perdagangan juga lebih gencar membuka pasar pasar yang baru. Intinya produk unggulan Indonesia, berbasis kekayaan alam, kita masih punya hasil tambang mineral nonlogam, batu kapur, zeolit, dan sebagainya," katanya. [yud]

Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Hadiri Peringatan HANI 2019

Hadiri Peringatan HANI 2019

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 04:46:00

Jokowi Dan Trump Berbincang

Jokowi Dan Trump Berbincang

SABTU, 29 JUNI 2019 , 14:47:00

Jaga Kebersihan Pantai

Jaga Kebersihan Pantai

SABTU, 22 JUNI 2019 , 16:42:00