Masih Erupsi, Ruwatan Gunung Tangkuban Parahu Melihat Tanda-Tanda?

Peristiwa  SELASA, 10 SEPTEMBER 2019 , 17:46:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Masih Erupsi, Ruwatan Gunung Tangkuban Parahu Melihat Tanda-Tanda?

Ruwatan Gunung Tangkuban Parahu/RMOLJabar

RMOLJabar. Pemangku Adat Tangkuban Parahu bersama masyarakat Desa Cikole menggelar 'Ngaruwat Gunung Tangkuban Parahu 2019' yang kini masih berada di Level II (Waspada). Ruwatan ini menjadi agenda rutin setiap tanggal 10 Muharram sebagai bentuk terima kasih warga terhadap Sang Pencipta.

Dikatakan Pemangku Adat Tangkuban Parahu, Budi Raharja, ruwatan Gunung Tangkuban Parahu kali ini berbeda dengan ruwatan di tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan ruwatan kali ini dilaksanakan tidak di puncak Kawah Ratu melainkan di Kampung Gamblok, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

"Masyarakat sepakat untuk tidak mengganggu Gunung Tangkuban Parahu yang kini sedang mengalami peningkatan aktivitas erupsi dengan status waspada, jadi kita ruwatannya di area terdekat saja," kata Budi sat ditemui di Kp. Gamblok, Selasa (10/9).

Budi menerangkan, tidak ada maksud lain dari ruwatan ini selain untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa dan bentuk 'tasyakur binni'mah' masyarakat Cikole yang mengais rezeki dari Gunung Tangkuban Parahu.

"Jadi baik lagi aktif atau tidak, ruwatan ini tetap kami laksanakan. Ini wujud rasa syukur masyarakat karena hampir semua masyarakat di sini pekerjaannya berjualan di kawah, mengambil rezeki dari kawah," paparnya.

Dilaksanakannya ruwatan, dijelaskan dia, bukan untuk menghentikan aktivitas erupsi Gunung Tangkuban Parahu melainkan berdoa meminta keselamatan.

"Tentunya bukan untuk menghentikan aktivitas erupsi gunung karena setiap peristiwa alam adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Dan pastinya (setiap peristiwa) selalu membawa hikmah bagi manusia," ujarnya.

Setelah melaksanakan ruwatan, Pemangku Adat Tangkuban Parahu dan masyarakat Desa Cikole menuju gerbang masuk TWA Gunung Tangkuban Parahu untuk menabur air doa, bunga, dan uang logam sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur di gunung yang kental dengan legenda Sangkuriang dan Ratu Dayang Sumbinya ini.

"Kita tidak sampai ke atas hanya di depan (gerbang masuk) saja karena masyarakat tahu batas dan perbatasan di samping mematuhi imbauan PVMBG," tandasnya. [alvin/gan]

Komentar Pembaca