Ratusan Hektar Sawah Di Kota Tasikmalaya Gagal Panen

Peristiwa  SELASA, 10 SEPTEMBER 2019 , 19:47:00 WIB | LAPORAN: DEDE MUHIBIN

Ratusan Hektar Sawah Di Kota Tasikmalaya Gagal Panen

Kekeringan di Tasikmalaya/RMOLJabar

RMOLJabar. Kemarau panjang hampir enam bulan, melanda 10 kecamatan di Kota Tasikmalaya, mengakibatkan lahan sawah seluas 3.573 hektar mengalami gagal panen dan fuso.

Saat ini, tanaman padi yang baru berumur sekitar satu hingga dua bulan, dibiarkan pemiliknya tidak digarap dan dibiarkan mati. Pasalnya, petani sudah sulit mendapatkan sumber air yang dapat mengairi sawahnya.

Bahkan, akibat keringnya sungai Cikunten mengakibatkan puluhan hektar tanah sawah yang berada di Kecamatan Kawalu dan Mangkubumi sudah pada retak. Tak satupun tanaman yang tumbuh di areal tanah tersebut.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Perternakan dan Perikanan Bidang Tanaman Pangan, luas sawah yang mengalami gagal panen akibat kemarau tahun ini terjadi di 10 kecamatan. Di antaranya Kecamatan Kawalu mencapai 1.018 hektar, Mangkubumi 847 hektar, Tamansari 473 hektar, Bungursari 470 hektar, Indihiang 323 hektar, Cibeureum 317 hektar, Purbaratu 66 hektar, Cihideung 21 hektar, dan Kecamatan Tawang mencapai 20 hektar.

Kepala Bidang Tamanan Pangan Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kota Tasikmalaya Deni Surya Permadi mengatakan, kekeringan di wilayahnya tidak mengakibatkan semua areal sawah gagal panen. Sebagian petani seperti di Kecamatan Purbaratu, masih bisa menanam padi karena ada debit air yang mengairi dari sungai.

"Perlu saya jelaskan, kekeringan versi BPDB, BKSDA dan versi Pertanian jelas sangat berbeda, karena yang disebut kekeringan dalam bahasa pertanian adalah tidak semua lahan sawah memerlukan banyak air, karena hingga kini masih ada areal lahan pertanian yang masih bercocok tanam padi,” ucapnya.

Saat ini, pihaknya telah melakukan kordinasi dengan para petani, kekeringan yang mengakibatkan gagal panen ini. Pihaknya telah memberikan solusi kepada petani agar daftar dan ikut dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), dapat mengajukan klaim ganti rugi, jika sawahnya terdampak kekeringan dan gagal panen atau puso.

Adapun program AUTP, yang bekerja sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan memberikan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare, dengan masa pertanggungan sampai masa panen 4 bulan.

"Premi yang dibayarkan sebesar Rp 180.000 per hektar. Namun petani mendapat subsidi dengan hanya membayar Rp 36.000 per hektar dan sisanya Rp 144.000 ditanggung oleh pemerintah," jelasnya.

Selain itu, untuk mengantisipasi kemarau panjang tahun ini, bidang tanaman pangan Kota Tasikmalaya telah mengantisipasi dengan menyiapkan bibit padi gogo atau huma, yang akan diberikan secara langsung kepada petani Tasikmalaya untuk di tanam di areal pesawahan ratusan hektar. [gan]

Komentar Pembaca