KABUPATEN PURWAKARTA

PJT Batalkan Rencana Pengeringan Sungai Di DAS Citarum

Peristiwa  SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 14:57:00 WIB | LAPORAN: YUSLIPAR

PJT Batalkan Rencana Pengeringan Sungai Di DAS Citarum

Antonius Aris Sudjatmiko/RMOLJabar

RMOLJabar. Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur batalkan rencana pengeringan saluran air di sepanjang aliran Sungai Citarum menuju wilayah hilir.

Awalnya, pengeringan tersebut akan dilakukan pada September ini untuk mengecek kondisi saluran air.

Diketahui, sampai saat ini permintaan air dari Waduk Jatiluhur untuk kebutuhan persawahan dan air baku ke wilayah hilir masih cukup tinggi.

Sehingga, pengeringan ini urung dilakukan. Padahal, hal ini perlu dilakukan supaya ketika ada kerusakan di sarana irigasi ataupun ada tanggul yang rawan jebol bisa terdeteksi sejak dini.

Direktur Operasional dan Pengembangan PJT II Jatiluhur, Antonius Aris Sudjatmiko mengatakan, upaya pengeringan tersebut sebenarnya penting dilakukan. Sehingga, ketika ada kerusakam di jaringan irigasi, bisa terdeteksi dan perusahaannya bisa melakukan langkah antisipasi.

"Kami terpaksa membatalkan pengeringan saluran irigasi di bulan September ini. Karena, sampai saat ini masih ada aktivitas pertanian,” ujar Antonius, Selasa (17/9).

Dia menjelaskan, di musim kemarau ini ada areal pesawahan seluas 185 ribu hectare yang membutuhkan air dari Waduk Jatiluhur. Dengan begitu, program pengeringan yang telah disetujui oleh gubernur itu, tidak bisa terealisasi di tahun ini.

Selain masih adanya aktivitas pertanian, sambung dia, pengeringan ini urung dilakukan karena saat ini sedang memasuki puncak musim kemarau. Sehingga, suplai air untuk kepentingan irigasi tak mungkin dihentikan.

Sebenarnya, jika rencana ini terealisasikan seharusnya air yang keluar dari Waduk Jatiluhur melalui dua hallow jet yang ada tidak mengalir terlalu besar ke wilayah hilir. Akan tetapi, kondisi saat ini air yang keluar untuk wilayah hilir, mencapai 185 meter kubik per detik.

Menurut dia, air yang keluar ini dinilai sangat besar. Dengan kondisi ini, jelas memengaruhi ketinggian muka air (TMA) Waduk Jatiluhur. Saat ini saja, TMA waduk tersebut hampir di bawah 95 meter di atas permukaan air laut.

PJT juga melansir, di musim kemarau ini TMA terus mengalami penyusutan. Penyebabnya, air yang keluar cenderung sangat besar. Di sisi lain, air yang masuk dari Waduk Cirata melalui Sungai Citarum, debitnya sangat kecil.

Aris menambahkan, saat ini status Waduk Jatiluhur bisa dikatakan kondisinya kering. Bahkan, bisa dibilang sudah mendekati batas operasi normal bawah (BONB). Dengan begitu, perlu serangkaian langkah dan upaya untuk memertahankan volume air. Supaya, air di Waduk Jatiluhur ini tetap normal.

"Upaya terakhir kami, yakni dengan program hujan buatan (modifikasi cuaca). Saat ini, kita sedang membahas untuk program hujan buatan ini," demikian Aris.[son]



Komentar Pembaca
Erick Thohir Cocok Jadi Menpora

Erick Thohir Cocok Jadi Menpora

SELASA, 15 OKTOBER 2019 , 15:25:33

KPK Tangkap Tangan Bupati Indramayu

KPK Tangkap Tangan Bupati Indramayu

SELASA, 15 OKTOBER 2019 , 13:45:26

Gibran, Pemuda Dengan Tulang Punggung yang Muda Membungkuk
Anies Dan 100 Ribu Bougenville

Anies Dan 100 Ribu Bougenville

KAMIS, 22 AGUSTUS 2019 , 06:16:00

Gerbang DPRD Jabar Rusak

Gerbang DPRD Jabar Rusak

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 , 17:10:00

Perpustakaan Keliling Satgas Yonif 411/Pandawa Kostrad