Ngebet Restorasi Film, ISBI Terkendala Biaya Hingga Fasilitas

Ragam  RABU, 09 OKTOBER 2019 , 08:54:00 WIB | LAPORAN: TANTI SUGIHARTI

Ngebet Restorasi Film, ISBI Terkendala Biaya Hingga Fasilitas

Diskusi film hasil restorasi/RMOLJabar

RMOLJabar. Program Studi Film dan TV ISBI Bandung bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Perfilman (PUSBANG Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar pemutaran dan diskusi film hasil restorasi di CGV Metro Indah Mall pada 8-9 Oktober 2019. Kedua film tersebut yaitu Bintang ketjil dan Tiga Dara.

Film Bintang Ketjil yang diproduksi tahun 1963 diputar pada Selasa, 8 Oktober pukul 09.00 WIB. Sedangkan film Tiga Dara yang diproduksi tahun 1957 diputar pada Rabu, 9 Oktober dengan waktu yang sama.

Rektor ISBI Bandung, Een Herdiani mengatakan, kedua film tersebut memiliki pesan moral yang kuat untuk disampaikan kepada masyarakat.

"Yang paling menarik yaitu pesan moral yang disampaikan, kita jarang ya melihat film-film yang memiliki pesan moralnya jelas. Kita diingatkan betul bahwa itulah karakteristik kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari nilai-nilai kehidupan," kata Een.

"Film ini (Bintang Ketcjil) ceritanya kan sederhana, bagaimana seorang anak yang memiliki keinginan yang sepele namun tidak diperhatikan oleh orang tua karena kesibukan masing-masing, ternyata dampaknya sangat besar," lanjutnya.

Ia sangat mengapresiasi hasil restorasi film, karena melalui Pusbangfilm masyarakat bisa menonton sebuah film zaman dulu namun dengan kualitas gambar dan suara yang cukup bagus.

"Film yang diproduksi tahun 1963 ini tentu sangat luar biasa sekali, bagaimana ada perbedaan-perbedaan antara film yang asli dengan film yang hasil restorasi," ujarnya.

"Kami sangat mengapresiasi hasil pekerjaan dari Pusbangfilm yang sudah memberikan perhatian kepada film-film lama. Mudah-mudahan film-film semacam ini bisa dilakukan, karna ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat khususnya mahasiswa perfilman mengenai sejarah di masalalu," tambahnya.

ISBI sendiri memiliki keinginan yang cukup tinggi untuk merestorasi film, namun terkendala masalah biaya dan fasilitas yang masih terbatas.

"Paling tidak dari pemerintah harus ada perhatian semacam itu, karena kami perguruan tinggi seni cita-citanya ingin seperti itu, membuat restorasi film, tapi anggarannya pasti besar," jelas Een

Ia berharap, perfilman di Indonesia ke depannya bisa terus menjunjung tinggi nilai-nilai kelokalan. Sehingga bisa menumbuhkan kesadaran-kesadaran untuk lebih menghargai budaya lokal.

"Mungkin saja kita kurang menghargai budaya lokal, sehingga kita bisa kembali lagi ke budaya lokal. Bukan berarti kita harus kembali ke zaman dulu, tapi paling tidak nilai-nilai itu bisa bermanfaat bagi masyarakat," tandasnya. [gan]

Komentar Pembaca